Sesal yang Lesap
Ragil berdiri, termenung melihat Murni berdandan dan memakai pakaian serba pendek seperti kurang bahan yang memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya.
Murni melirik Ragil dari pantulan kaca, tetapi tak berniat mengurungkan tekadnya pergi. Murni tahu Ragil keberatan, Murni tahu suaminya menaruh kekesalan yang begitu besar dan segunung kekecewaan. Masa bodoh dengan kemarahan Ragil. Murni tetap pada keputusannya. Dia tak ingin mati konyol kelaparan sebab tahu tiada siapa pun yang hendak mengganjal perut kosongnya dan anak-anak.
Ragil menarik napas dalam-dalam, menelan pahitnya kenyataan melepas Murni kembali melacur. Ragil berbalik, keluar dari satu-satunya kamar di rumah petak kontrakan. Di ruang tamu sempit yang juga digunakan untuk dapur dan menonton televisi, dua bocah berusia sepuluh dan empat tahun tengah memakan remah-remah gorengan yang dibeli oleh Ragil. Gorengan adalah lauk makan malam mewah untuk mereka bila dibandingkan dengan dengan mie rebus diberi kuah banyak kemudian dituang di atas nasi sisa pagi hari yang menjadi menu utama selama beberapa hari.
Juna, si sulung melihat bapaknya keluar kamar dengan wajah muram. Jari tangan Juna mengilap karena berlapis minyak. Dia menyuapkan lagi remah-remah gorengan ke mulut. Sinta, si kecil memandang bapaknya yang pura-pura tersenyum. Ragil ikut duduk di dekat dua bocah itu, lalu menatap sisa remahan menempel di kertas minyak yang sungguh berminyak sampai basah dan lengket.
“Bapak kenapa?” Juna bertanya, bibirnya belepotan.
Ragil tertawa sekilas. Tawa kegetiran.
Ragil menggeleng, lalu menjawab, “Bapak tidak kenapa-kenapa?”
Sinta memandangi kakak dan bapaknya bergantian. Dia tetap menyuap. Tiba-tiba Sinta kesulitan menelan. Anak itu batuk-batuk. Ragil buru-buru mengambil botol minum di dekat galon isi ulang yang dipasangi pompa air manual. Ragil menyorongkan gelas pada Sinta. Sinta menyahut air cepat-cepat, lalu minum.
“Sudah malam, kalian lebih baik cuci tangan, cuci kaki lalu pergi tidur. Besok, bapak tidak mau ada yang terlambat bangun. Kalau ada yang sulit disuruh bangun, bapak akan gotong ke kamar mandi, lalu bapak guyur pakai air dingin.” Ragil berkata sambil menunjuk kamar mandi mungil yang ada dalam rumah. Kamar mandi seadanya yang akan menguarkan bau pesing ke seluruh ruang tamu bila Juna atau Sinta lupa mengguyur bekas pipis mereka sampai benar-benar hanyut ke lubang pembuangan.
Juna tertawa sambil menunjuk Sinta. “Sinta itu, Pak, yang susah bangun. Aku kan selalu bangun pas subuh-subuh.”
Sinta merengut. Dia memukul lengan Juna. “Tidak, Mas Juna yang susah bangun. Kemarin Ibu sampai marah-marah gara-gara Mas Juna mandinya juga lama.”
Ragil membereskan kertas minyak dan plastik bungkus gorengan. Kalau tidak dibuang, anak-anaknya akan terus mengutip remahan yang tersisa. Ragil tahu makanan berminyak seperti gorengan jauh dari kata sehat atau bergizi. Akan tetapi, makanan sehat terlalu mustahil untuk sekadar dipikirkan oleh Ragil. Yang penting anak-anak kenyang, semua orang di rumah kenyang. Kenyang dan bisa tidur lelap sudah lebih dari cukup bagi mereka.