Saat azan subuh usai, terdengar suara anak kunci diputar dari luar. Ragil sedang tiduran di ruang tamu kontrakannya ketika Murni pulang. Ragil bangun, hendak menyambut dan menyapa istrinya. Akan tetapi, sejenak kemudian dia ragu-ragu. Dia berpikir bahwa lebih pantas marah dibandingkan bersikap ramah ketika mendapati Murni pulang kerja.
Di dalam kamar, Juna pun terjaga. Tak ubahnya Ragil, Juna pun tak dapat tidur nyenyak. Semalamam Juna sebentar-sebentar bangun, lalu menengok jam dinding. Juna terus berharap pagi segera datang agar bisa melihat ibunya kembali ke rumah. Juna tak dapat menyingkirkan kecemasan yang menyelinap di kepalanya yang mengganggu dan membuat tidak nyaman. Juna takut Murni tidak pulang. Ketakutan dan kecemasan yang sudah begitu akrab dengan Juna, seperti dulu. Ketakutan yang menjelma nyata ketika Murni ternyata tidak kembali ke rumah selama satu atau beberapa hari, dan Juna tak pernah tahu di mana rimba ibunya.
Bila Murni pergi, Juna harus menahan lapar, dan hanya bisa menangis karena tak tahu harus ke mana mencari sang ibu. Juna terkadang dapat makan nasi atau sekadar roti bila ada tetangga yang berbaik hati mau memberinya makanan. Juna terbiasa tidur meringkuk, menangis sendirian didekap ketakutan yang mengerikan. Dalam hati Juna berdoa agar ibunya pulang. Murni akhirnya kembali setelah puas dengan petualangannya yang gila. Namun, kepulangan Murni tidak membuat Juna mendapatkan kasih sayang yang seharusnya diberikan oleh Murni.
Sejak dulu, Juna ingin merasakan dipeluk, lalu mendengar sang ibu berkata bahwa Murni menyayangi Juna. Atau setidaknya, Juna ingin Murni bertanya apakah Juna sudah makan atau belum. Perhatian Murni telah pupus dan hilang, bahkan tak sanggup bagi Juna untuk sekadar membayangkannya. Semua itu terlampau mewah sekaligus mustahil. Juna menataplekat Sinta yang masih memejam, tampak begitu pulas. Juna kesal dan marah, entah pada siapa. Dia sungguh tak ingin Sinta menerima perlakuan serupa, kenangan menyakitkan yang tak dapat dihapuskan. Luka-luka dalam hati Juna seperti terus melekat. Belum sampai luka-luka itu sembuh, Juna harus merasakan goresan yang lebih dalam.
Di ruang tamu, ketika Murni masuk ke rumah, dia bertemu tatap dengan Ragil. Tak ada sapaan yang ingin keduanya berikan satu sama lain. Murni terus berjalan menuju rak reyot di pojok dekat televisi, melepas sepatu berhak tingginya yang sudah lama tak digunakan. Murni meletakkan tas selempang kecil berkerlap-kerlip penuh hiasan manik-manik warna biru muda dan perak di gantungan yang sama dengan gantungan tas sekolah anak-anak. Murni lalu masuk kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar keran dinyalakan diiringi suara gemericik Murni mengguyur badannya dengan air dingin.
Ragil bangun, menuju dapur kecil yang hanya tersekat oleh triplek satu lembar dari ruang tamu. Dia menyalakan kompor untuk menghangatkan air. Menurut Ragil,Sinta masih terlalu kecil. Ragil tak tega bila membiarkan Sinta mandi pakai air keran. Bocah perempuan itu sudah masuk pendidikan anak usia dini. Sebelum masuk taman kanak-kanak haruslah lulus dari PAUD. Kebijakan baru nan aneh yang telah diberlakukan secara serampangan oleh pemerintah Jawa tengah. Ragil menganggapnya serampangan sebab dari cerita orang-orang, ada daerah yang tidak mewajibkan pendidikan usia dini. Ada pula yang hanya mewajibkan jenjang taman kanak-kanak sebelum masuk ke sekolah dasar.
Juna bangun, lalu keluar kamar. Dia mengintip ke dapur, melihat Ragil tengah mencuci beras untuk dimasak. Murni sudah selesai mandi. Dia berganti pakaian dengan kaus oblong kebesaran dan celana pendek selutut. Murni berdiri di belakang Juna, ingin tahu apa yang dilakukan oleh Ragil.
“Untung beras kemarin masih sisa,” Murni bicara sendiri.
Ragil dan Juna mendengar ucapan Murni, yang sengaja mencemooh sekaligus menyindir. Ragil menoleh, hendak menanggapi kata-kata Murni. Akan tetapi, Murni sudah tidak ada di belakang Juna. Murni mengambil tas selempangnya, membawa masuk benda itu ke kamar.
Juna pun berbalik, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia tak ingin berebut kamar mandi dengan Sinta. Juna memutuskan lebih baik mandi lebih dulu.
Ragil memasukkan beras ke penanak nasi, lalu masuk kamar mengekori Murni. Meskipun, Ragil ragu apa yang akan dikatakannya dan dibahas dengan Murni pagi itu. Pagi pertama yang membuat segalanya menjadi berbeda. Pagi pertama yang membuat jurang lebar di antara semua orang yang tinggal bersama dalam satu rumah.
Murni mendongak ketika menyadari Ragil berdiri di ambang pintu. Murni mengabaikan Ragil. Dia kembali menunduk sambil mengeluarkan isi tasnya yang tak beraturan. Uang, yang terbilang banyak.