Harno menyeruput sisa kopinya sampai tandas. Dia batuk-batuk ketika ampas kopi kasar ikut masuk ke tenggorokan. Ragil tertawa melihat ulah Harno, begitu pun Dodit.
“Har, Har, kopi sudah habis kok masih diminum. Ya, jadinya kamu minum ampas,” Dodit meledek Harno, sebelum dia mengangkat cangkir, lalu minum.
Simbok pemilik warung mencep, alias mengatupkan bibirnya rapat-rapat melihat tiga laki-laki pengangguran tertawa-tawa di depannya. Simbok menghampiri, berdiri di dekat etalase gorengan sambil memandang remeh pada Ragil, Harno, dan Dodit.
“Kalian ini aneh. Tidakada sedih-sedihnya ditinggal istri. Apa memang kalian lebih seneng begitu, ngopa-ngopi terus sambil ongkang-ongkang kaki?” Simbok tak peduli bila ada yang tersinggung.
Tiga laki-laki yang dimaksud menoleh pada Simbok yang bertubuh gemuk dan rambutnya selalu digelung. Ragil dan Dodit malah senyam-senyum mendengar ejekan wanita berumur lima puluh lima tahun itu. Harno menatap Simbok sambil menata suaranya yang masih tersangkut di antara ampas-ampas kopi.
“Sebenarnya sedih, Mbok. Masa tidak sedih ditinggal wong wedok. Apalagi waktu malam itu yang susah, paling susah dari semua kesusahan dan rasa lapar di perut,” Harno menjawab sambil cekikikan.
Ragil dan Dodit sontak terbahak. Mereka menyetujui ucapan Harno.
“Tapi itu tidak berlaku buat Ragil. Istrinya masih ada. Beda dengan nasibku dan Dodit.” Harno menoleh ke Dodit.
Dodit langsung merengut mendengar kata-kata Harno. Meskipun, yang diucapkan Harno tidak salah. Dodit mlengkrang, menaikkan satu kakinya di atas bangku bambu.
“Beda tidak beda, tapi Ragil juga malam-malamnya sekarang pasti kesepian.” Dodit tak mau menderita sendiri. Oleh sebab itu, dia mengolok-olok Ragil yang ditinggal Murni kerja malam.
“Bicaramu itu dijaga.” Ragil menendang kaki Dodit yang tidak naik ke bangku.
“Loh, apa? Omonganku benar,” Dodit ngotot, tidak mau kalah.
“Sudah, sudah. Kalian bertiga sama saja. Makanya, istri-istri kalian tidak betah.” Simbok tidak tahan mengobrol dengan tiga laki-laki yang hampir setiap hari mampir ke warungnya. Menurutnya, perempuan tidak akan betah dengan laki-laki pengangguran dan doyan main tak jelas seperti mereka.
Di mata Simbok, juga sebagian besar tetangga yang mengenal Ragil, Harno, dan Dodit, ketiganya sama saja. Mereka dipandang tidak bisa mempertahankan rumah tangga, tidak bisa momong atau menjaga istri. Tak heran bila istri-istri mereka kabur.
Harno ditinggal pergi setelah bertengkar hebat dengan si istri. Istri dan satu anaknya pulang ke rumah orang tua. Usut punya usut karena Harno tidak lagi bekerja setelah usaha bengkelnya bangkrut. Ada yang berkata bahwa Harno suka main togel, sampai modal dan simpanannya lama-lama habis untuk judi.
Beda cerita dengan Dodit. Dia dan istrinya adalah pasangan muda yang belum punya anak. Namun, mereka sering bertengkar karena masalah sepele. Dodit bekerja sebagai tukang parkir minimarket. Sejak pandemi melanda, minimarket tiba-tiba tutup. Tidak ada yang tahu sebab minimarket tempat Dodit bergantung hidup justru tutup. Dodit kehilangan pekerjaan. Sementara istrinya yang senang bersolek dan bergaya seperti anak muda lajang jadi tidak betah. Gosip yang beredar, istri Dodit jatuh hati pada laki-laki lain yang lebih mampu dan mapan. Benar tidaknya kabar itu, tidak pernah ada yang tahu.
“Kalau sudah selesai, kalian-kalian ini cepat pulang sana! Aku mau tutup warung,” Simbok berteriak sambil berdiridi depan kompor yang menyala. Dia merebus air untuk menyeduh kopi.