Ragil duduk di bangku bambu panjang tempat pelanggan biasa menunggu di depan rumah kontrakan Murni. Di dalam rumah masih ada orang lain, sehingga Ragil harus bersabar. Malam itu, dia sudah janji akan menyewa Murni sampai pagi. Untuk pertama kalinya dia datang setelah perkenalan singkat dengan Murni di sebuah kafe remang-remang dekat waduk buatan untuk pengairan sawah.
Terlintas kenangan dua bulan sebelumnya ketika Ragil lewat di jalan tepi waduk saat menjelang magrib. Sialnya, ban motor Ragil bocor. Dia celingukan mencari bantuan sambil mengingat-ingat adakah tambal ban terdekat. Namun, tidak satu pun jawaban hinggap di kepala Ragil. Tiba-tiba Ragil mendengar suara teriakan dari atas waduk. Salah satu pinggiran waduk dibangunmelebar, bisa dilewati dua mobil simpangan. Kata orang, tujuannya supaya mudah ketika ada tinjauan pemerintah. Lambat laun, pinggiran waduk justru dibangun kafe-kafe kecil, yang sudah menjadi rahasia umumbahwa di sana banyak digunakan sebagai area ‘mangkal’. Namun, bila siang hari, kafe-kafe ala kadarnya itu tampak seperti tempat ngopi biasa. Jualannya pun biasa saja, ada nasi sayur, lontong kecap, mie ayam, dan bakso.
Ragil termenung lama, tidak yakin bila dia yang diteriaki dari pinggiran waduk. Sampai ada laki-laki berbadan tambun turun, lalu berhenti di depan Ragil. Laki-laki separuh baya, berjenggot tipis dan sebagiannya sudah berubah warna menjadi putih. Pria itu menanyai Ragil, mengapa Ragil berhenti, dan apa yang terjadi pada motornya.
Ragil mengaku tengah kesusahan, ban motornya bocor. Tanpa Ragil duga, laki-laki asing itu menawarkan bantuan. Dia mau membantu mendorong motor Ragil dengan cara ditumpangi. Si laki-laki itu mau mendorongkan pakai kaki bertumpu di knalpot. Akan tetapi, si laki-laki berkata, dia belum menghabiskan kopi dan mie ayamnya. Ragil pun diajak naik ke pinggiran waduk, ngopi-ngopi sebentar. Tak pikir panjang, Ragil menurut sebab dia pun lupa membawa hape yang diisi daya dan tergeletak di atas lemari plastik kamarnya.
Ketika Ragil duduk di salah satu kursi plastik warung mie ayam, masuklah Murni bersama satu temannya. Kedua perempuan itu sama-sama berpakaian minim bahan. Ragil langsung tahu bahwa keduanya adalah penjaja diri. Ragil menatap Murni sekilas, begitu pun Murni. Laki-laki tadi mengenal Murni, mereka membicarakan kesialan yang menimpa Ragil. Murni berkata punya ide. Murni punya teman yang bisa dipanggil untuk menambal ban. Rumah si penambal ban panggilan itu dekat dari sini. Murni mengusulkan untuk memanggil temannya itu.
Ragil setuju. Tak berapa lama kemudian teman Murni datang, lalu membawa motor Ragil. Karena Ragil tidak bisa langsung percaya pada kebaikan orang lain, dia ngotot ikut ke rumah teman Murni. Tak peduli bila Ragil harus berjalan kaki, tetapi tidak demikian yang terjadi. Ragil tetap bisa menumpangi motornya, kemudian didorong oleh teman Murni, disorong oleh kaki yang bertumpu di knalpot.
“Mas Ragil, sudah lama, Mas?” Murni membuyarkan ingatan Ragil.
Ragil buru-buru berdiri sambil menata pakaiannya yang tidak kusut. Ragil grogi. Tiba-tiba suara motor dinyalakan menyita perhatian. Seorang kakek-kakek melaju meninggalkan halaman rumah kontrakan Murni. Kakek itu adalah pelanggan Murni sebelum Ragil. Karena begitu tenggelam dalam ingatan, Ragil tidak menyadari munculnya si kakek dari dalam rumah. Ragil gamang. Pikirannya tak tentu, memandangi kegelapan malam di halaman kontrakan Murni. Ragil terdiam beberapa detik, seolah-olah ada sesuatu yang dapat didengar selain derit-derit batang bambu yang tertiup angin, juga gemerisik daun yang jatuh mengotori halaman tanah berlapis rumput teki.
“Mas Ragil tidak jadi masuk ke rumah?” Murni bertanya lagi, membuyarkan pikiran Ragil untuk kedua kali.
“Jadi, Mur.” Ragil mengangguk cepat, menoleh sambil tersenyum canggung.