Ragil, Harno, dan Dodit ngopi bertiga di teras kontrakan Harno. Mereka berkumpul di sana karena letak rumah Harno ada di tengah. Bila ingin pulang, Dodit dan Ragil tinggal melompati pembatas beton kecil yang catnya sudah mengelupas di sana-sini.
“Tadi aku belum membayar uang kontrakan. Pak Dollah kujanjikan supaya besok datang lagi, aku pasti sudah punya uang entah dari mana.” Dodit mengeluh sambil menggoyang-goyang gelas yang tak lain hadiah dari membeli dua renceng kopi sasetan.
“Aku juga baru membayar, sebenarnya nunggak dari bulan lalu,” Harno mengeluhkan kesulitan yang sama. Bagaimanapun, mereka harus membayar. Bila tidak, mau tinggal di mana.
Kontrakan Pak Dollah adalah yang paling murah di antara rumah kontrakan lain. Selain itu, bila sampai diusir, mereka tahu akan kesulitan mendapatkan tempat tinggal baru. Para pemilik kontrakan pasti banyak yang takut menerima penghuni baru di masa wabah pandemi melanda.
Ragil, Harno, dan Dodit berasal dari desa lain. Mereka awalnya merantau, sementara pulang bukanlah jalan keluar. Bila pulang, mereka harus menanggung malu lebih seandainya warga tahu, dan lebih banyak yang akan tahu istri mereka pergi. Meskipun, bukan tak mungkin sudah ada yang tahu selain pihak keluarga masing-masing.
“Loh, kok kamu tidak diusir sama Pak Dollah?” Dodit agak heran. Dia pikir bila telat membayar akan langsung diusir. Andai tahu boleh nunggak dua bulan, dia tak akan menjanjikan uang kontrakan bisa diambil keesokan paginya.
“Bisa, kenapa tidak?” Harno sudah pernah menunggak. Pak Dollah biasa saja menurutnya.
“Kamu mau pinjam uang sama aku, Dit?” Ragil menebak apa yang dipikirkan oleh Dodit.
Ragil tidak suka dengan obrolan basa-basi tanpa arah. Kalaupun iya, Ragil bisa memberikan pinjaman. Tentu setelah bicara dulu dengan Murni. Ragil selalu mengambil uang seperlunya, meski Murni tidak peduli dengan uang-uang yang dihasilkannya. Menurut Ragil, sikap Murni yang los-losanitu justru meledek Ragil. Seakan-akan, Murni berkata, ini loh aku punya uang banyak. Lebih banyak dari uang yang pernah kamu berikan.
Harno dan Dodit berpandangan sesaat. Dodit lalu menatap Ragil dengan raut wajah ragi-ragu, tak tertebak apa yang Dodit pikirkan.
“Kamu pikir, aku cerita tadi karena mau pinjam uang sama kamu? Gaya sekarang kamu, Gil, Gil.” Dodit menendang kaki Ragil.
Mereka selonjoran di karpet tipis yang mereka gelar untuk menghalau dinginnya keramik.
“Loh, kan aku tadi bertanya. Kalau salah, ya minta maaf. Aku tidak bermaksud meledek,” Ragil membela diri, tetapi tidak menyangkal kalau prasangka itulah yang muncul di kepalanya.
“Tidak, aku masih punya simpanan uang, tapi mepet. Besok siapa tahu ada rezeki mbuhdari mana, buat makan dan pegangan. Kalau Pak Dollah datang, ya uangku untuk kontrakan kubayar padanya. Kasihan juga dia, istrinya sakit. Kabarnya parah.” Dodit menyeruput kopinya sedikit-sedikit,tak mau segera habis. Kopi seharga seribu lima ratus dan gratis dibuatkan oleh Harno itu pun diirit-irit olehnya.
“Itu juga alasanku memberikan uang kontrakan tepat waktu, Dit. Kasihan Pak Dollah, istrinya sakit. Kabarnya lagi, sempat dirawat di rumah sakit, terus dibawa pulang lagi. Baru beberapa hari di rumah, malah sakitnya kumat. Kalau Pak Dollah tidak kesusahan, palingan aku mau telat lagi bayarnya. Masih ada uang dari penjualan TV kemarin, bisa buat makan diirit-irit. Mau cari kerja ya susahnya begini.” Harno menyambung berita yang dibicarakan oleh Dodit.