Kasih Murni

Yayuk Yuke Neza
Chapter #7

Susah Hati

“Kenapa, Gil? Kok diam saja. Tidak biasanya juga kamu sendirian,” Simbok bertanya. Dia celingukan sambil meletakkan kopi pesanan Ragil di meja.

Pagi hari sepi pelanggan. Simbok sedang nganggur alias tidak melayani orang lain. Wanita separuh baya itu lalu duduk di ujung bangku bambu tempat Ragil juga duduk di sana. Tangan Simbok dinaikkan ke meja berlapis plastik gambar merek sampo. Simbok mengamati Ragil menuang kopi ke tatakan gelas.

“Gayamu mikir segala, Gil. Jadi kamu itu enak, gampang, tercukupi. Dibandingkan lainnya, banyak yang lebih susah banyak.” Simbok lalu melengos, memandangi jalan raya berdebu yang juga sepi, tidak seperti biasanya.

“Enak bagaimana, Mbok. Sawang sinawang. Orang lain melihatnya enak, tidak mengalami jadi saya seperti apa rasanya,” Ragil mengoceh, tidak sadar bahwakeceplosan curhat ke Simbok.

Simbok menoleh ke Ragil lagi. “Sekarang, coba kamu lihat itu, Harno sama Dodit. Ditinggal istri-istrinya, nasib mereka bagaimana nanti. Mereka juga pasti tahu, mau nyari kerja itu susah. Untung istrimu mau balik kerja di karaoke lagi.”

Ragil seketika memperhatikan Simbok. “Simbok tahu dari siapa istriku kerja di karaokean lagi?”

“Loh, semua juga sudah tahu, Gil. Pernah ada yang melihat istrimu masuk ke situ, kok. Itu loh, karaokean paling ujung di perbatasan kampung. Memangnya bukan? Istrimu tidak kerja di situ? Tapi kok ada juga yang pernah lihat istrimu pulang pagi, pas subuhan.”

Simbok tambah penasaran. Naluri ibu-ibu yang suka bergosip, jadi ingin tahu sampai akar-akarnya apa yang terjadi. Selama ini, dia hanya tahu dan mendengar kabar yang dibawa oleh pelanggan-pelanggan yang ngopi di warung. Simbok ingin bertanya langsung, tetapi sungkan. Apalagi ketika ada Harno dan Dodit. Simbok tidak mau terkesan ikut campur urusan rumah tangga orang.

Ragil berpaling dari tatapan Simbok. Dia memilih menyeruput kopinya dulu sambil memikirkan jawaban yang paling pas. Setelah menelan susah payah kopi yang ternyata masih terlalu panas, Ragil menghela napas dalam-dalam.

“Ya, memang, Mbok. Murni sekarang kerja lagi di karaokean,” Ragil menjawab sambil tangannya menarik satu batang rokok, lalu menyulutnya. “Orang-orang ternyata sudah tahu. Pantes tidak ada yang tanya-tanya lagi padaku, Mbok.”

“Orang-orang pasti langsung ngomong sana, ngomong sini. Nek ada apa-apa cepet menyebar, Gil. Kamu kayak baru saja tinggal di sini.” Simbok mendorong pelan lengan Ragil. “Tapi tidak masalah itu, Gil. Di kafe kan tertib, jadi tidak ada yang berani aneh-aneh ke istrimu. Ya, ‘kan? Kerja di kafe juga Simbok dengar-dengar dapatnya banyak, tanpa harus ‘jualan’ yang lain.”

Ragil meringis, mengiyakan. Dia jadi tahu, mengapa orang-orang terlihat santai, termasuk Pak Dollah. Mungkin semua menganggap Murni hanya bekerja di kafe sebagai pelayan atau pemandu karaoke, tidak menyambi yang lainnya.

“Mbok, kopi, Mbok!” Suara pelanggan lain baru datang. Dia seorang sopir truk yang kendaraannya diparkir depan SD. Ragil dan Simbok melihat sopir itu parkir, lalu turun, dan berjalan ke warung.

Ragil menoleh sekilas, si sopir truk itu mengangguk. Mereka tidak kenal, tetapi pernah bertemu ketika ngopi di warung Simbok. Ragil menatap kopinya yang masih mengepulkan asap. Dia mengangkat cangkir, buru-buru menenggak sampai habis. Ragil meninggalkan uang di meja seperti biasa, lalu berjalan pulang.

Sembari menjauh dari warung, Ragil mencoba menghubungi Harno. Aneh, sepulang Ragil mengantar Sinta ke rumah gurunya, pintu kontrakan Harno tertutup rapat. Pintu kontrakan Dodit pun sama. Setelah menaruh motor di rumah, Ragil langsung keluar lagi. Dia mengetuk-ngetuk pintu Harno, tetapi sepi. Dodit pun tidak menyahut. Ragil penasaran ke mana mereka berdua, kenapa tidak mengajaknya.

Lihat selengkapnya