Sinta masuk rumah membawa selebaran yang dilipat menjadi persegi panjang kecil. Juna menyambar kertas itu dari tangan adiknya. Dia membukanya, lalu membaca.
“Dari siapa, Jun?” Ragil yang berbaring di depan televisi ikut penasaran.
Juna menghampiri bapaknya, lalu memberikan kertas tanpa mengatakan apa-apa. Ragil membaca sekilas, tak lama kemudian menoleh pada Sinta yang masih berdiri mengamati mas dan bapaknya.
“Siapa yang memberikan ini, Sin?” Ragil mengangkat kertas di tangannya.
Jawaban bocah itu hanya gelengan polos, lalu tangannya menengadah. “Mana kertasnya, Pak. Mau kubuat mainan pesawat-pesawatan.”
Ragil memberikan kertas itu pada Sinta. Betapa girang Sinta, senyumnya melebar seperti mendapat mainan istimewa. Juna acuh tak acuh, lalu duduk di karpet samping Ragil.
“Memangnya mau ada sedekah bumi, Pak? Kemarin salat id saja tidak dibolehkan kok, alasannya berkerumun. Ini mau ada sedekah bumi, kan tambah berkerumun.”
“Bapak mana tahu, Jun. Nyatanya, itu ada undangan kumpulan warga.Kalau ada sedekah bumi pasti diminta patungan untuk menyewa orkes atau joget campursari seperti tahun-tahun sebelumnya,” Ragil menjawab, tetapi matanya tertutup.
Ragil berusaha tidur, tetapi hawa panas musim kemarau membuatnya gerah. Bahkan, menyalakan kipas tetap terasa sumuk. Ragil meringkuk memunggungi Juna. Bocah laki-laki itu diam, tidak menanyakan apa-apa lagi. Belakangan, Ragil merasa Juna menjaga jarak. Juna berkata seperlunya, bertanya sedikit, lalu sudah. Juna memang anak yang pendiam, tetapi semenjak ibunya bekerja lagi, Juna jadi lebih murung.
Ragil tahu Juna marah. Juna menahan kesal, tetapi tidak menunjukkannya. Ragil memilih diam, tidak banyak mengajak Juna bicara. Ragil takut Juna menagih janjinya dulu.
Masih lekat dalam ingatan Ragil, apa yang dikatakannya sehari setelah melamar Murni. Ragil berjanjiakan menjaga dan menghidupi Murni sekaligus Juna. Ragil berniat mengeluarkan Murni dari kehidupannya yang lama. Ragil juga berkata akan menjadi bapak yang pantas untuk Juna.
Mengingat semua itu, Ragil ciut sekaligus malu. Ragil tidak punya jawaban atau sanggahan seandainya Juna menagih. Ragil telah gagal memenuhi janji serta tanggung jawabnya. Ragil tahu, diam dan membiarkan Juna bersikap acuh tak acuh adalah tindakan pengecut. Namun, Ragil tidak punya pilihan.