Kasih Murni

Yayuk Yuke Neza
Chapter #9

Hasrat

Murni keheranan melihat Ragil berpakaian rapi ketika mengantarkan Sinta ke rumah gurunya. Murni menduga-duga apa yang akan dilakukan Ragil yang juga menyiapkan tas selempang kerjanya dulu. Murni mondar-mandir menunggu Ragil pulang. Dia menyeruput kopi Ragil hingga tandas karena tidak sabar. Menunggu adalah pekerjaan yang sungguh menjemukan. Murni mulai kesal karena lelah celingak-celinguk. Menyebalkannya, Ragil belum muncul, atau sekadar suara motornya pun belum juga terdengar dari kejauhan.

Di saat yang sama, Murni mendengar suara gaduh dari rumah kontrakan Harno. Harno tinggal sendiri. Murni menduga Harno tengah mencari sesuatu yang hilang. Tak berapa lama kemudian terdengar pula suara Dodit. Pikiran Murni agak teralih dari penantiannya yang membosankan tentang si suami yang berkelakuan aneh.

Apa pula yang terjadi di rumah Harno, Murni ingin tahu. Dia mendekat ke dinding, menempelkan telinga,berharap bisa mendengar lebih jelas. Akan tetapi, suara-suara justru hilang. Yang tertangkap oleh telinga Murni hanyalah hening. Samar-samar ada bunyi langkah kaki.

Dia mulai berpikir, mungkinkah tadi salah dengar ada Dodit? Murni menggeleng, mustahil salah dengar, karena dia hafal betul suara Dodit.

Pikiran dan angan-angan Murni teralih ketika suara motor matik Ragil berhenti di teras. Murni menegakkan badan, lalu buru-buru ke dapur. Dia mengambil piring, memilah-milah tempe mana yang tepungnya kering. Murni suka tempe goreng tepung kering dan renyah. Berbeda dengan Ragil yang lebih suka tempe berbalut tepung setengah basah. Murni pura-pura tidak tengah menanti Ragil.

Ketika Ragil masuk rumah, Murni menoleh. Keduanya saling pandang. Murni membuka mulut, hampir kelepasan bertanya. Murni menahan diri. Dia menunggu Ragil sendiri yang bercerita. Ada sesuatu yang Ragil sembunyikan, Murni yakin dengan segenap hatinya.

Akan tetapi, mendapati reaksi dan ekspresi datar dari Ragil, Murni memilih untuk mengambil satu centong nasi. Rencananya, Murni akan berlagak mengomentari tumisan kangkung yang dimasak oleh Ragil, lalu berlanjut dengan pertanyaan untuk menuntaskan rasa penasarannya tentang penampilan Ragil yang tidak biasa.

Murni keluar dari bilik dapur, duduk lesehan di karpet depan televisi. Sesekali dia melirik Ragil yang tengah mengelap-elap sepatu lamanya dengan kain basah. Murni melongo sebentar, merasa bodoh mengapa dia tidak menyadari ada sepatu dan lap basah di dekat rak. Murni tidak menyadari kapan kapan Ragil menyiapkan itu. Jelas sebelum pergi mengantar Sinta dan Juna ke sekolah, sebab ketika masuk rumah, Ragil tidak pergi ke kamar mandi untuk membasahi lap.

Sekilas Murni melirik Ragil yang sedang memakai sepatu, lalu membenahi talinya yang kusut.

“Mestinya sepatu itu dicuci sebelum dipakai.” Murni berkomentar setelah susah payah bertahan mendiamkan Ragil.

Yang diajak bicara melirik Murni sesaat. Ragil kembali mengutak-atik tali sepatunya. Selesai dengan dua sepatu, Ragil berdiri meraih tali tas selempang yang sudah disiapkan.

Lihat selengkapnya