Kasih Murni

Yayuk Yuke Neza
Chapter #10

Pengalaman Pertama

Ragil, Harno, dan Dodit pergi ke desa sebelah yang letaknya jauh demi menghindari pantauan petugas kesehatan atau satpol PP. Mereka tidak ingin terciduk lalu ditanya-tanya, apalagi sampai ditahan oleh petugas. Setelah menempuh jarak empat puluh kilometer, sampailah ketiganya di tujuan. Desa yang menjadi sasaran mereka adalah desa terkenal yang penduduknya kebanyakan adalah makelar sapi. Meski tempat tinggalnya jauh dari pusat keramaian, kekayaan dan rumah-rumah di desa itu bagus dan megah. Rumah mereka mayoritas terbuat dari bahan papan kayu tebal dan hampir semuanya memiliki pendopo joglo di bagian depan.

Ragil berhenti di dekat warung kopi tepi jalan. Si pemilik warung keluar, menatap Ragil dari atas ke bawah.

“Ngapunten, Bulik. Saya mau titip motor sebentar. Apakah boleh?” Ragil bertanya menggunakan bahasa jawa halus.

Ibu pemilik warung itu belum sempat menjawab ketika Harno tiba, lalu berhenti di samping Ragil. Si ibu mengamati Dodit yang mendekap gendang paralon,sedangkan Ragil menggendong tas ukulele di punggungnya.

“Mau ngamen, toh?” tanya si ibu.

Ragil mengangguk. Dia tersenyum, padahal si ibu belum mengiakan atau menolak. Dia menoleh pada Harno yang tak kalah semringah.

Angin segar, batin mereka bertiga. Kemungkinan si ibu pengertian, buktinya bisa tahu apa yang akan dilakukan Ragil dan teman-temannya.

“Taruh di samping saja motornya. Nanti kalau sudah selesai, jangan lupa mampir ngopi di sini.” Si ibu menunjuk samping warungnya, di bawah pohon keresen yang daunnya lebat.

“Matur suwun, Bu.” Ragil mengangguk lagi, senyumnya pun lebih lebar. Dia lalu mendorong motornya sampai tepat di bawah pohon keresen.

Harno tak ketinggalan, setelah mengucapkan terima kasih langsung menyusul Ragil. Sedangkan Dodit yang turun duluan, diam menunggu di depan warung. Sesekali Dodit tersenyum pada ibu itu. Dodit pun melongok sedikit ke dalam warung, rupanya ada dua atau tiga orang duduk melingkar di satu meja. Si ibu pun kembali masuk.

Ragil, Harno, dan Dodit bergegas menuju rumah terdekat untuk melancarkan aksinya. Ketika berjalan, mereka bertiga saling melempar tugas, siapa yang menyanyi, siapa yang menabuh gendang, siapa pula yang main ukulele. Setelah perdebatan sengit selama kurang lebih lima menit yang mengharuskan mereka berhenti sebentar di tepi jalan, keputusan telah diambil. Harno yang menyanyi. Dodit memainkan gendang. Ragil bagian memetik ukulele.

Tibalah ketiganya di rumah pertama ujung jalan masuk desa. Harno berjalan paling depan, disusul Dodit dan Ragil.

“Permisi ….” Harno tiba-tiba menoleh ke belakang. “Oi, ini aku nyanyi apa?”

“Lah, kamu bisanya nyanyi apa, Har.” Dodit mendadak kesal pada Harno. “Tadi kamu setuju-setuju saja dapat jatah nyanyi. Kamu itu bisa nyanyi apa tidak?”

“Ya, bisa. Ojo ngece.” Harno membalas sengit.

“Yo wis, nyanyio.” Ragil ikutan tidak sabar menghadapi Harno. “Apa kamu main ukulele saja ini.”

Ragil menyodorkan ukulele di tangannya, tetapi ditepis oleh Harno.

“Tidak, aku tidak bisa main ukulele.” Harno berbalik menghadap ke pintu rumah yang terbuka.

Si empunya rumah, ibu-ibu berambut keriting yang dikucir asal-asalan. Jadilah, rambutnya jauh dari kata rapi. Dia memakai daster batik kebesaran. Dalam hati Harno, si ibu kemungkinan bukan pemilik rumah. Bisa jadi hanya tukang cuci atau tukang masak.

“Kalian pengamen, ‘kan?” tanya si ibu.

Lihat selengkapnya