Kasih Murni

Yayuk Yuke Neza
Chapter #11

Malu yang Tak Terelakan

Simbok mengantarkan kopi untuk Ragil, Harno, dan Dodit. Ketiga laki-laki itu tertawa-tawa. Karena Simbok penasaran, dia memutuskan bertanya apa yang membuat pelanggan setianya itu kegirangan.

“Tadi, Mbok. Gara-gara Harno, kami hampir jadi tumbal pesugihan,” Dodit menjawab sambil menunjuk-nunjuk ke jalan menuju luar desa.

Dahi Simbok berkerut-kerut, antara bingung dan penasaran. Di sela tawa mereka, ketiganya bercerita tentang apa yang dialami. Kekonyolan akal-akalan Harno adalah sebab mereka harus lari tunggang langgang seperti orang gila. Makan siang tidak didapat, betis pegal yang diperoleh.

“Sudah begitu, Mbok. Kesialan kami masih ada lagi.” Ragil mengoceh sambil mengunyah pisang goreng yang diletakkan oleh anak Simbok di nampan saji. “Huu, panas.”

“Sudah tahu panas. Kamu ini asal buka mulut saja.” Dodit menendang kaki Ragil.

Simbok berpaling pada Harno yang justru diam saja. “Ulah kamu lagi, Har?”

“Tidak, Mbok. Ulah kami semua. Aku sudah berkata, mendingan kita balik. Selain lapar, juga pas siang kuperhatikan rumah-rumah pada ditutup. Mungkin orang-orang tidur siang atau persiapan ke sawah atau apa, Mbok. Ragil dan Dodit ngeyel. Mereka mengajak jalan terus.”

Harno bercerita menggebu-gebu, setengah membela diri bahwa dia benar-benar tidak bersalah.

“Terus kesialan apalagi yang kalian maksud tadi?” Simbok bertanya sambil mengelap-elap piring basah.

“Terus, tiba-tiba ada mobil patroli petugas kesehatan dari arah depan. Aku langsung balik arah, lari sekencang-kencangnya,” Harno melanjutkan cerita. Dia mencomot pisang goreng di nampan.

“Aku dan Dodit kelabakan. Akhirnya, kami berdua sembunyi di gubuk kosong, tidak tahu punya siapa. Pokoknya seperti gardu, tapi ada dinding kayunya,” Ragil meneruskan cerita Harno. “Harno, sudah sampai duluan di tepi desa. Dia sembunyi di warung tempat kami menitip motor.”

“Harno ini memang tidak setia kawan.” Dodit merengut, tetapi hanya pura-pura kesal.

“Lah, kamu berdua kurang awas. Sudah tahu ada mobil bak terbuka dari depan, masa tidak hafal bentuk mobil satpol PP.” Harno menggigit pisang besar-besar sampai mulutnya penuh.

“Aku memang tidak hafal rupa mobil satpol PP.” Dodit mengaku. Disusul anggukan dari Ragil.

“Wis. Sudah, mending kalian nyanyi. Aku kok ragu nek kalian itu bisa nyanyi,” Simbok meminta sambil menata piring dan gelas bersih di rak.

“Nyawer, ya, Mbok!” teriak Ragil. Dia tidak serius meminta bayaran atau saweran dari Simbok.

“Nyanyi saja belum kok sudah minta saweran.” Simbok menjawab sambil menyalakan kompor, hendak memasak air untuk pelanggan yang baru datang.

Ragil, Harno, dan Dodit mengambil posisi. Formasi ketiganya sama seperti kesepakatan bersama, meski aslinya semua ikut menyanyi. Setelah selesai satu lagu, ada pelanggan warung Simbok yang minta lagu lain. Jadilah, tiga sekawan itu mengamen di warung Simbok. Sebagai pemilik warung, Simbok tidak keberatan. Malah bila dirasa menguntungkan, dia akan membiarkan Ragil dan teman-temannya sesekali mengamen di warung.

Lihat selengkapnya