Kasih Murni

Yayuk Yuke Neza
Chapter #13

Sengsara

Harno semringah setelah menghitung uang hasil mengamen selama tiga minggu. Dodit pun sama, dia malah sudah menabung di bank. Pendapatan mereka lumayan, sehari bisa terkumpul delapan puluh sampai seratus lima puluh ribu rupiah per orang. Sehari rata-rata mereka bisa menabung lima puluh ribu rupiah.

Dodit menyenggol lengan Harno, memberi tahu bahwa Ragil yang tampak murung dan tidak bersemangat.

“Kamu kenapa, Gil?” Harno bertanya sambil memasukkan uangnya ke dalam kantong kain. Harno berencana akan menabung uang itu uang itu seperti Dodit, tetapi dia belum membuka rekening. Harno berencana mengajak Dodit untuk mengantarnya membuat rekening bank esok hari.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” Suara Ragil lirih lesu. Dia memasukkan uang hasil pembagian hari itu, juga mengemasi ponsel dan rokoknya. “Besok kita libur, aku bingung mau melakukan apa di rumah.”

Harno menoleh pada Ragil. “Mau melakukan apa, bagaimana? Ya, kamu istirahatlah. Aku sama Dodit kan ada urusan penting.”

Dodit mengangguk, lalu menarik sebatang rokok. Dia menyalakan rokok, menghisap kuat-kuat, lalu mengepulkan asapnya ke samping agar tidak bertiup ke arah Harno atau Ragil. Dahi Dodit berkerut memikirkan keanehan sikap Ragil. Dia mulai menerka-nerka apa yang sebenarnya dipikirkan oleh temannya itu.

“Kamu tidak senang kami mau pergi menemui istri-istri kami? Kamu tidak senang seandainya istri-istri kami nanti mau diajak pulang?” Dodit akhirnya berani mengutarakan apa yang mengganggu pikirannya.

“Hush.” Harno memukul kaki Dodit. “Kamu kalau ngomong suka ngawur, Dit.”

“Ya, siapa tahu. Soalnya ….” Dodit tak meneruskan ucapannya.

Mereka bertiga tahu istri Ragil pergi. Murni meninggalkan anak-anak di rumah, tak memberi kabar sama sekali setelah pertengkaran yang terjadi terakhir kali.

Ragil mengembuskan napas lelah bercampur kesal. Terkadang Ragil merasa bersalah telah mengata-ngatai Murni. Namun, Ragil pun tidak dapat membendung amarah dan kecurigaannya yang membabi buta. Tanpa sadar, Ragil sebenarnya cemburu, takut,sekaligus tidak terima atas keputusan Murni. Dia tak mau kehilangan Murni, takut Murni pergi. Akan tetapi, ego laki-laki telah mengalahkan semua akal logika Ragil.

“Jawab saja jujur, Gil. Kamu tidak senang kita mau membujuk istri kami?” Dodit melempar tuduhan pada Ragil. Prasangkanya semakin menjadi-jadi.

“Tidak, bukan.” Ragil menggeleng, lalu berdiri hendak pulang ke kontrakannya.

“Gil.” Harno ikut bangkit menyusul Ragil. “Kamu tidak apa-apa?”

Ragil menggeleng. Dia berjalan menjauh. Sampai di rumah, Sinta tersenyum menyambut. Bocah itu langsung berlari memeluk kaki Ragil. Juna tengah makan siang kedua kali. Sinta menengadah, tersenyum berbinar-binar.

“Sinta sudah makan?” Ragil bertanya sambil mengusap puncak kepala anaknya.

Sinta mengangguk. Ragil berlalu melewati Sinta, menghampiri Juna yang tengah makan. Sinta mengekori bapaknya masuk kamar.

“Bapak, Bapak,” Sinta memanggil, berdiri tepat di belakang Ragil.

Lihat selengkapnya