Kasih Murni

Yayuk Yuke Neza
Chapter #14

Meminta Dia Pulang

Ragil berkali-kali mengusap kedua telapak tangannya yang dingin dan berkeringat. Dia melihat seorang pria gemuk masuk, terus berjalan menuju lorong yang di samping kanan dan kirinya ada kamar-kamar karaoke. Ragil melirik pada penerima tamu yang terus menatapnya aneh. Ragil mengartikan gelagat itu sebagai rasa ingin tahu sekaligus tidak senang.

Ragil merasa bodoh, semestinya dia tadi memesan room, lalu meminta dilayani oleh Murni. Dengan begitu dia tidak perlu menunggu lama untuk bertemu dengan Murni. Meskipun, risikonya tetap harus menunggu sampai Murni selesai menemani tamu sebelumnya.

Dua jam lamanya Ragil menunggu, tetapi yang dicari belum juga tampak. Ragil mulai berpikir penerima tamu telah membodohinya. Bagaimana bila dia tidak menyampaikan pesan Ragil pada Murni? Bagaimana bila Murni tidak tahu Ragil menunggunya? Bagaimana bila ternyata Murni sudah selesai, lalu dioper ke ruangan lain? Ragil menggeleng keras, kekesalan memenuhi kepalanya. Dia berdiri, lalu mendekati meja penerima tamu.

“Ada apa lagi, Mas?” Pertanyaan penerima tamu tak enak didengar.

Ragil yakin dalam hatinya dua resepsionis itu begitu lihai mengimi-imingi pengunjung agar mengeluarkan lebih banyak uang. Ragil masih diam, memilih kata-kata agar jawaban yang diperoleh pun sesuai. Ketika menghadapi jenis orang licik maka harus bermain licik, pikirnya.

“Apa Murni masih lama? Kalau begitu, aku sewa room saja, tetapi harus ditemani oleh Murni.” Ragil mengambil keputusan, tak tahan menunggu lagi. “Kalau Murni masih menemani yang lain, aku berani membayar lebih di atas tarif normal, asal ditemani oleh Murni.”

Si penerima tamu laki-laki menoleh pada temannya. Mereka lalu memeriksa buku tamu, sepertinya. Lalu salah satunya mengangkat gagang telepon paralel. Di saat yang sama, Murni muncul dari lorong. Sayangnya, Ragil memunggungi kedatangan Murni.

“Mas Ragil?” Murni memanggil suaminya dengan suara cukup keras.

Ragil seketika balik badan, mendapati Murni berdiri di hadapannya dengan pakaian yang nyata-nyata kurang bahan.

Murni mengenakan atasan kaus mirip kemben tanpa tali. Atasan itu hanya menutupi puting karena hanya menutupi sebatas payudara. Itu pun tidak seluruh daging yang menempel di dada Murni tertutup oleh kaus. Perut Murni yang sekarang agak berisi dibiarkan terlihat. Kaus seadanya itu dipadankan dengan bawahan rok yang juga kurang bahan karena panjangnya hanya menutupi pinggul. Paha Murni yang jenjang hanya tertutup stoking tipis warna kulit. Ragil yakin, ketika Murni duduk, bagian tubuhnya yang lain otomatis jadi bahan tontonan.

Ragil tiba-tiba mual, diikuti panas dan nyeri yang menjalar sampai pangkal tenggorokan. Ragil tak pernah menyangka seperti itulah Murni ketika bekerja. Pakaian yang dikenakan Murni dari rumah, rupanya masih tergolong amat sangat sopan dan manusiawi bila dibandingkan dengan Murni yang ada di depan mata.

Murni menghampiri Ragil yang termangu tanpa suara. Dia mencekal tangan Ragil, menyeret laki-laki itu ke sudut lobi. Ragil memberanikan diri menatap Murni, meski tetap buta untuk mengartikan apa yang Murni simpan di balik raut wajahnya.

Lihat selengkapnya