Kasih Murni

Yayuk Yuke Neza
Chapter #15

Ibu

Harno dan Ragil menikmati kopi di teras kontrakan Harno. Dodit tidak ikut, meski ada di rumah. Harno melirik sekilas ke kontrakan Dodit, lalu dia menyeruput kopinya. Ragil heran melihat tingkah aneh Harno yang senyum-senyum sendiri.

“Apa yang lucu, Har?” Ragil bertanya sambil menepuk kaki Harno yang selonjoran di karpet.

Harno menggerakkan kepala, menunjuk kontrakan Dodit. “Aku ikut senang, istri Dodit sudah pulang lagi. Kemarin aku sempat ketemu, papasan tidak sengaja pas mereka belanja ke warung. Memang dasarnya masih penganten baru, apalagi belum punya anak. Ya, nempel-nempel kayak lem.”

Harno hendak membeli beras untuk persediaan kala bertemu Dodit dan istrinya. Dia pergi setelah mendapat ocehan panjang dari Ragil. Harno berniat masak nasi, belajar membuat sambal atau tumisan yang mudah-mudah. Masak sendiri lebih hemat, lebih puas makan. Seandainya ingin nambah nasi atau lauk tidak perlu bayar lagi seperti makan di warung.

Ragil memang pandai memasak karena sejak lajang sudah merantau. Selang tiga tahun kemudian, orang tuanya meninggal. Dia anak terakhir dari empat bersaudara, itulah sebabnya bernama Ragil, yang artinya bungsu. Usut punya usut, nama Ragil adalah doa orang tuanya supaya tidak beranak lagi. Tiga anak saja sudah dirasa berat, lalu menyusul ada Ragil.

Sejak Murni bekerja lagi, Ragil yang mengurus urusan masak di rumah. Bila mesti menunggu Murni, bisa-bisa Sinta dan Juna kelaparan. Ketika Murni pergi dari rumah, Ragil yang mengurus sendiri semua perkara dapur dan rumah. Ragil tahu benar bagaimana mengatur keuangan sehari-hari dan cara berhemat supaya bisa menabung sedikit-sedikit.

Bukan tanpa alasan Ragil meminta Harno berhemat, agar tabungannya lekas banyak. Apalagi istri Harno katanya mau kembali, tetapi dengan syarat Harno harus mau diajak usaha sendiri. Istri Harno ingin jualan makanan, buka warung kecil-kecilan di tepi jalan besar desa. Tentu semua itu butuh modal untuk menyewa tempat, membuat warung sederhana, juga membeli peralatan masak. Istri Harno, kabarnya mau pulang ke kontrakan, tetapi nanti bila uang tabungan sudah cukup. Sementara itu, istri Harno menumpang di rumah orang tua supaya uang modal lekas terkumpul. Istilahnya istri dan anak Harno tidak jadi beban tanggungan Harno untuk sementara waktu.

“Lah, nanti kalau istri sama anakmu sudah balik, kalian juga paling begitu, Samakayak Dodit dan istrinya yang nempel terus.” Ragil menaik-naikkan alis meledek Harno.

“Ya, menowo iya.” Harno tertawa cekikikan. “Tapi paling tidak sekarang, istriku itu sudah tidak marah, Gil. Aku boleh menengok dia di sana, sampai pokoknya kami siap untuk buka usaha sendiri.”

Harno tersenyum sendiri, lalu menyeruput kopinya lagi.

“Lah, Dodit jadinya bagaimana? Dia jadi mau ngojek online?” Ragil ingat perkataan Dodit tentang keinginannya itu.

Harno mengangguk. “Katanya kemarin begitu. Makanya dia mau membeli hape yang lebih bagus, tapi Dodit ingin tetap ikut mengamen ketika libur ngojek. Bagaimana, Gil?”

Ragil sejenak berpikir. “Ya, tidak apa-apa kalau istrinya tidak protes. Kamu tahu, kadang ngamen itu dianggap kurang pantas, disamakan dengan mengemis minta uang. Pokoknya ya begitu, pendapat orang kan kita tidak tahu. Kalau istri Dodit tidak masalah, ya aku boleh-boleh saja. Dodit kan teman kita, Har.”

“Syukur kalau begitu.”

Samar-samar terdengar suara pengeras suara musala. Harno dan Ragil saling pandang. Ada siaran warga meninggal dunia, tetapi siapanya tidak jelas. Sampai suara pemberitahuan itu selesai, Harno dan Ragil tidak menangkap nama siapa yang disebut.

“Sopo, Gil?” Harno langsung bertanya, berharap Ragil tahu.

Lihat selengkapnya