Kabar kematian istri Pak Dollah yang disebabkan wabah virus Covid semakin merebak. Banyak warga jadi takut beraktivitas, bahkan untuk sekadar pergi ke sawah. Pun, rupanya cerita yang dibawa olek Paklik waktu itu benar. Istri Pak Dollah dimakamkan dengan prosedur penanganan virus.
Para pelayat keheranan, sekaligus ngeri melihat petugas dari rumah sakit yang mengenakan pakaian aneh berwarna putih seperti robot. Petugas dari rumah sakit juga mengenakan pelindung wajah bening. Orang-orang bertambah ngeri, tidak ada satu pun yang berani mendekat. Bahkan ketika jasad almarhumah sudah ditidurkan di liang lahat, para warga yang biasanya berebut untuk menimbun tanah, malah jadi dorong-dorongan untuk menghindar. Semua takut dan waspada. Beruntungnya, ada warga yang memang bertugas menggali kubur. Jadi, merekalah yang terpaksa maju untuk menimbun jenazah dengan tanah.
Ketika berita menyebarnya virus tengah memanas, petugas kesehatan dari kecamatan dan kelurahan memanfaatkan keadaan. Mereka meminta warga segera melakukan vaksin dosis pertama.
Benar saja, warga yang sebelumnya alot, sulit dibujuk ketika diberi sosialisasi, langsung berbondong-bondong mendaftar vaksin. Untuk tahap pertama, vaksin diutamakan untuk para lansia yang kekebalan tubuhnya lebih rentan dibandingkan warga dengan usia produktif. Kondisi desa menjadi berbeda, tidak aman dan mencekam. Setiap malam menjelang isya, satpol PP dan petugas dari dinas kesehatan berkeliling untuk menutup warung-warung juga angkringan yang ngeyel buka sampai tengah malam.
Kengerian yang terjadi akibat virus juga berdampak pada Ragil, Juna, dan Dodit. Mereka terpaksa libur mengamen selama beberapa hari. Selain takut terpapar virus, juga takut ditangkap oleh petugas yang berpatroli. Suasana menakutkan di desa tak sampai di sitU. Kasus kematian yang disebabkan oleh virus ternyata terjadi di desa-desa lain. Makin banyak korban, itu artinya upaya pencegahan dan pembatasan gerak warga semakin tegas.
“Simbok masih tutup rupanya,” Dodit mengeluh pada dua temannya yang juga tahu Simbok tutup. “Mau sampai kapan begini. Aku jadi ragu, kalau ngojek online nanti sepi bagaimana?”
Harno menepuk pundak Dodit. “Yang penting usaha dulu, Dit. Bukan cuma kamu yang susah, kita semua susah.”
Ragil mengangguk-angguk. Asap rokoknya mengepul pekat di udara setelah dia mengisap kuat-kuat. Beberapa hari Murni di rumah, tetapi dia tidak pergi ke mana-mana. Murni tidak bercerita apakah dia cuti, berhenti kerja, atau apa pun. Ragil dan Murni belum saling bicara tentang sesuatu yang penting. Namun, Ragil lega dan bersyukur, berharap Murni sudah tidak bekerja lagi. Biarlah Ragil yang mencari uang, meski caranya dengan mengamen. Meskipun dalam waktu dekat Ragil belum punya gagasan akan seperti apa ke depannya. Berbeda dengan Dodit dan Harno yang sudah punya angan-angan usaha.
“Aku tidak kaget acara yang direncanakan karang taruna gagal.” Dodit tertunduk lesu. Dia mendesah lelah, lalu bersandar di dinding.
“Mau bagaimana lagi, Dit.” Harno sama gundahnya. Tabungan yang semestinya bertambah, malah ikut-ikutan diambil lagi untuk biaya makan karena belum bisa berangkat mengamen.
“Bojomu, apadia ngambek lagi, Har?” tanya Ragil penasaran mendapati muka Harno yang menyedihkan.
“Ora.” Harno menggeleng. “Untungnya istriku paham bila keadaan di sini sedang tidak aman. Meski begitu, aku tetap ingin secepatnya bisa serumah lagi. Kamu tahu, bukan? Beda rasanya ada istri di rumah dan tidak.”
Harno ingin segera berkumpul lagi dengan anak istrinya. Tak dapat dimungkiri perasaan sepi dan sendirian begitu tidak mengenakkan. Terlebih dia iri melihat Dodit istrinya sudah pulang. Juga Murni yang di rumah.
Harno pikir, hanya dia yang kurang beruntung karena si istri masih ingin ikut orang tuanya selama beberapa waktu sampai Harno punya uang yang cukup untuk memulai usaha. Gagasan istri Harno tidak salah. Sebagai suami, Harno pun mengaku itu bukan keputusan buruk. Terlebih lagi, mertuanya juga kurang enak badan. Terlintas kecemasan dalam hati Harno, takut kalau ternyata mertuanya terpapar virus. Dia berharap semoga mertuanya sakit flu biasa.