“Aku tidak ikhlas Murni jadi penari di acara sedekah bumi nanti, Har.” Ragil melempar-lempar batu ke halaman depan kontrakannya.
“Ya, ikhlas tidak ikhlas. Bagaimana lagi, bukannya Murni yang mau?” Harno mencoba menenangkan, meski dalam hati dia juga tidak ikhlas andai berada di posisi Ragil.
“Kamu sudah bicara dengan Murni?” Dodit ikut prihatin dengan kondisi Ragil.
Ragil terus melempar-lempar batu ke sembarang arah. Dia tak kuasa membayangkan Murni menggantikan posisi seorang penari atau joget di sendang. Tak peduli, bila acaranya siang hari. Ragil tahu, penari yang biasa dipanggil terkadang mau ‘melayani’ perangkat desa atau juragan gabah pendatang dari desa lain. Meskipun, tidak semua penari mau melakukannya, tetapi kebanyakan begitu.
Sungguh, Ragil merasa terhina sekaligus malu bila sampai ada yang ‘menawar’ Murni. Tak dimungkiri, Murni cantik, kulitnya kuning langsat bersih. Juragan gabah yang mata keranjang pasti tergiur untuk menawar Murni, apalagi bila mereka tahu siapa Murni. Ragil sudah mencegah semampunya, melarang Murni menerima kesempatan jadi penari di sendang. Akan tetapi, larangan Ragil tidak berarti sama sekali karena Murni begitu keras kepala.
Meminta Murni secara baik-baik dan halus pun rasanya percuma. Ragil tahu tabiat istrinya. Bila Murni sudah memutuskan, maka itulah yang akan terjadi. Ragil geram, putus asa, membayangkan Murni dijamah oleh laki-laki lain untuk kesekian kalinya. Ragil tak sanggup lagi menyentuh Murni, walau hanya sekadar tidur di kasur yang sama.
Ragil menyangkal bila dia jijik pada istrinya. Bagaimanapun, Ragil mencintai Murni.Sangat mencintainya. Akan tetapi, Ragil tidak bisa menerima Murni yang setelah sekian lama hanya berhubungan dengannya, lalu dicampuri oleh laki-laki lain. Sebagai laki-laki, Ragil ingin menjadi satu-satunya.