Ragil mondar-mandir memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah Murni pulang. Dia menengok jam dinding, sebentar lagi subuh. Akan tetapi, Murni belum juga kembali. Ragil tidak tahu ke mana perginya Murni setelah menari di sendang. Biasanya ada jamuan di balai desa, tempatpara perangkat dan juragan gabah berkumpul makan-makan dan minum-minum. Ragil sudah menyusul ke sana, tetapi Murni tidak ada. Rasa cemas bercampur marah menumpuk jadi satu dalam dirinya.
Ragil merutuk dalam hati, mendapati semuapersis seperti yang dia perkirakan. Murni masih bertahan menjamu perangkat desa dan juragan-juragan gabah itu di luar balai desa. Ragil tidak tahu ke mana para laki-laki bajingan itu mengajak istrinya. Percuma joget campursari diadakan siang hari, kalau nyatanya Murni harus tetap melayani laki-laki ‘lapar’ sampai malam larut hampir berganti hari.
Ragil tidak bisa tidur. Pikirannya mengawang entah pada apa, dia pun tak tahu. Kehidupannya benar-benar berubah setelah dia tidak bekerja. Ragil menyesali keadaan yang tidak berpihak padanya, pada semua teman-temannya, juga warga kampung yang terkena dampak wabah virus. Terkadang, Ragil merasa beruntung karena masih diberikan sehat. Akan tetapi, kembali lagi, apa gunanya sehat bila tidak merasakan hidup? Ragil tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
Terakhir kali, Ragil berusaha mengikuti saran dari Harno dan Dodit yang mengatakan lebih baik bila Ragil membicarakan semuanya dengan Murni. Kala itu, Ragil segera pulang, dan melakukannya. Dia melarang Murni menerima tawaran menjadi joget di acara sedekah bumi. Ragil tidak suka ketika ada laki-laki lain yang menatap Murni dengan penuh nafsu. Meskipun, Ragil tahu, begitulah tatapan semua laki-laki yang pernah dilayani Murni saat bekerja di tempat karaoke, atau laki-laki yang sengaja membayar Murni sebagai teman tidur. Namun, setidaknya Ragil tidak melihat langsung semuanya.
Ragil tak mau menyaksikan sendiri, laki-laki di sendang yang menonton joget seperti mau ngiler menatap lekuk tubuh Murni. Ragil tidak terima. Sayangnya, larangan dan niat baik yang diungkapkan oleh Ragil percuma, sia-sia. Murni tidak mau mendengarkan Ragil sedikit pun. Murni tetap pergi. Menurutnya, tawaran menjadi penari di acara sedekah bumi adalah kesempatan bagus agar mendapat banyak saweran.
“Ya, saweran karena menghangatkan ranjang laki-laki lain.” Ragil emosi, entah pada siapa sebab dia sendirian. “Kamu keterlaluan, Mur. Sungguh keterlaluan.”