Ragil dalam perjalanan pulang dari mengamen untuk pertama kalinya setelah dua minggu diam di rumah. Kabar-kabar tentang penularan wabah virus masih ada, tetapi Ragil dan teman-temannya tidak peduli. Perut mereka perlu diisi, kebutuhan terus menumpuk setiap hari. Terlebih Ragil yang dua anaknya sudah sekolah. Mayoritas warga desa memilih untuk beraktivitas kembali, meski dilarang berkeliaran, atau berkerumun di tempat-tempat umum.
Semenjak kematian istri Pak Dollah, petugas kesehatan makin gencar memberikan penyuluhan, juga mengimbau warga untuk segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala pilek atau batuk. Selain itu, untungnya warga mulai sadar untuk memakai masker ketika berada di luar ruangan. Pihak petugas kesehatan juga membagi-bagikan masker secara gratis, tinggal minta di balai desa atau RT pun ada yang menyediakan. Kelangkaan stok masker di pasaran tampaknya sudah bisa teratasi. Terbukti, harga masker berangsur stabil setelah sebelumnya meroket tajam. Di beberapa apotek pun tersedia, setelah sebelumnya masker lenyap dari pasaran.
Siang itu terik, Harno ingin segera pulang, tidak perlu mampir ke warung Simbok. Ragil dan Dodit senyum-senyum meledek, lalu mengejek Harno yang rindu pada istrinya di rumah. Istri Harno kembali ke kontrakan karena anaknya yang masih balita selalu menanyakan keberadaan si bapak.
Ragil tahu, alasan itu tidak bisa dibuat-buat, kadang anak kecil memang begitu. Ragil tahu benar, bagaimana Sinta dan Juna ketika merindukan Murni. Seperti apa pun sikap, perilaku, dan juga pilihan hidup Murni, dia tetaplah sosok ibu untuk anak-anaknya.
Semua telah sepakat, usai membagi hasil dari mengamen, ketiganya pulang ke kontrakan. Seperti biasa, Harno memboncengkan Dodit. Sedangkan Ragil naik motor sendiri. Ragil dan Harno langsung naik ke teras, parkir di depan kontrakan masing-masing. Ragil sempat menoleh ke dalam rumah karena pintunya terbuka lebar. Akan tetapi, ruang tamu hening dan sepi.
Mungkin anak-anak dan Murni tengah tidur siang di kamar, pikir Ragil. Ragil bergegas turun dari motor.
“Gil, Gil.” Harno memanggil. Dia berjalan mendekati Ragil yang masih di teras. “Kamu sudah baikan sama Murni sejak acara sedekah bumi itu?”
Ragil menggeleng. Setiap kali hendak bicara, Ragil mendadak kesal. Dia selalu terbayang pertengkaran dan selisih pendapat yang berkali-kali terjadi. Ragil jenuh dan lelah membayangkan semua itu. Ragil tahu, ada kemungkinan mereka bisa saling mengerti dan memahami. Akan tetapi, kemungkinan itu sungguhlah teramat kecil dan hampir seperti mustahil.
Sampai akhirnya, pilihan Ragil adalah tetap diam dan membiarkan semuanya. Andai kata ditanya, akan di manakah ujung pernikahannya dengan Murni? Ragil pun tidak tahu. Yang Ragil tahu, dia bertahan demi anak-anak.
“Belum. Entahlah, Har,” Ragil menjawab lesu, tak tahu lagi harus berbuat apa. Semua jalan keluar yang dipikirkan olehnya buntu.
“Aku ….” Harno celingukan.
Dodit jadi ikut mendekat karena penasaran apa yang dibicarakan oleh Harno dan Ragil. Dodit melongok di belakang Harno, tak jadi berbalik ke kontrakannya.
“Apa, Har?” Ragil merasa ada sesuatu yang ingin Harno katakan.