Murni duduk selonjor kaki di atas matras tipis kamar kostnya. Sudah dua bulan lamanya dia di sana, tidak melakukan apa-apa. Hanya kadang-kadang berangkat kerja. Kalau tidak terpaksa, dia ingin diam saja, menunggu sampai sembuh total. Tidak pernah terbayang dalam hidup Murni, dia akan mengidap penyakit mengerikan seperti itu. Di saat yang sama, dia merasa malu pada semua orang terutama pada Ragil, Juna. Sinta yang masih polos.
Kenangan tentang mereka bertiga terasa sangat jauh, Murni seperti mulai lupa bagaimana rasanya dulu kebahagiaan itu masih dalam genggamannya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa rindu menelusup di dadanya, mengorek-orek setiap bayangan masa lalu yang masih tersisa.
Murni tahu dia telah salah, sejak awal tidak mengindahkan larangan Ragil. Andai saja waktu bisa diputar kembali, Murni ingin mengulangi hari itu, di mana Ragil meminta Murni untuk tetap di rumah. Agar Murni bertahan dalam kemiskinan, yang kini Murni sadari, semua itu hanya sementara. Tidak ada sesuatu hal yang abadi, termasuk kemiskinan, tidak ada pula prahara yang abadi selama seseorang masih berusaha untuk memperbaiki hidupnya.
Satu minggu lalu, Murni sengaja mendatangi sekolah Juna. Dia masuk siang karena sekolah mulai berlaku, meski hanya setengah hari. Itu pula kabarnya masih curi-curi kesempatan karena belum resmi diperbolehkan masuk total oleh dinas pendidikan. Murni bersembunyi di belakang tembok rumah orang, mengintip Juna pulang sekolah.
Anak itu, terlihat lebih berisi. Dia berjalan kaki pulang bersama dua temannya. Juna tampak senang, riang, dan ceria seperti anak-anak lain. Murni ingin sekali menyapa putranya. Namun, keinginan itu hanya sebatas angan-angan belaka. Murni tidak sanggup berhadapan dengan Juna, am sanggup memikirkan betapa marahnya anak itu. Murni takut Juna berpaling, atau malah berpura-pura tidak mengenalnya. Tidak. Hati kecil Murni tidak mungkin sanggup menerima penghinaan semacam itu datang dari putra kandungnya. Sehingga, Murni hanya mengawasi dari jauh sampai langkah kaki Juna berbelok masuk ke jalan lain, lalu menghilang dari pandangan.
Selain itu, Murni masih berusaha untuk melihat Sinta. Ini agak sulit karena Sinta bersekolah di rumah gurunya, tidak di gedung sekolah. Lingkungan tempat tinggal guru itu mengenal Murni. Maka, Murni tidak mau mengambil risiko berkeliaran di sekitar sana, kemungkinan akan ada yang mengenalinya nanti.
Terlintas khayalan, mungkin Murni lebih baik menghubungi Ragil. Murni bisa mengajak Ragil bicara, meminta maaf, bersikap jujur mengakui kesalahan. Lalu, Murni meminta agar Ragil dan anak-anak bisa menerima Murni lagi. Namun, Murni tidak yakin pada angannya sendiri, Ragil mungkin tidak mau memaafkan dengan mudah setelah semua yang terjadi.
Tiba-tiba ponsel Murni bergetar, ada panggilan telepon dari salah satu temannya yang juga pemandu karaoke. Kesadarannya kembali dari pikiran yang kalut.