Kasih Murni

Yayuk Yuke Neza
Chapter #21

Pulang ke Rumah

Juna tengah membereskan piring bekas makan siang Sinta ketika suara motor Ragil berhenti di halaman kontrakan. Tak lama kemudian terdengar suara Ragil memanggil kedua anaknya. Sinta berlari menghampiri sang bapak. Sementara Juna masih mencuci piring. Saat melihat apa yang Juna lakukan, Ragil menyuruh putranya itu berhenti. Akan tetapi, Juna menolak halus.

“Bapak.” Juna mendekat, lalu menyalami Ragil setelah cucian piring bersih semua.

“Kalian sudah makan? Lauk tadi pagi apa masih?” tanya Ragil.

“Sudah.” Sinta menjawab, lalu menoleh pada Juna. “Lauknya masih apa sudah habis, Mas?”

“Masih, Pak. Kami cuma ambil sedikit ikannya, takut habis.” Juna menjawab polos.

Kegetiran yang dialami Juna sejak masih kecil mengajarkan arti berhemat, irit, karena mencari uang itu susah. Begitulah yang tertanam di pikirannya. Uang pula yang kerap membuat Ragil dan Murni dulu sering bertengkar karena masalah uang dan uang. Sampai Murni memilih pergi sebab Ragil dianggap kurang bisa memenuhi kebutuhan, entah uang sebanyak apa yang sang ibunya inginkan. Juna tak dapat memikirkan sampai sana.

“Ya, nanti kita bisa masak lauk yang lain kalau ikannya habis. Nanti bisa beli telur.” Ragil kemudian minum dari teko, sambil mengamati kedua anaknya yang duduk diam di dekatnya.

Ragil lalu mengeluarkan uang dari tas. Dia selesai mengamen di pasar-pasar. Sudah sebulan terakhir dia mengamen di pasar, sendirian. Harno dan Dodit sibuk dengan usaha mereka masing-masing, bahkan jarang sekali mengobrol. Selain itu, Ragil sendiri sibuk mengurus anak-anaknya, ketika ada waktu senggang dia tidur.

Menurut Ragil, setelah mencoba berbagai peruntungan, berpindah-pindah lokasi mengamen, di pasar adalah yang paling menguntungkan. Yang mulanya dia mengamen di rumah-rumah, pernah juga mencoba di bus-bus antarkota, di pasar malam, dan di pasar pagi. Pasar pagi hanya harus bangun agak pagi, memasak sarapan, lalu berangkat. Juna dan Sinta sudah cukup mandiri untuk bangun, sarapan, lalu pergi ke sekolah. Kadang, Ragil berangkat mengamen setelah anak-anak keluar rumah semua. Durasi mengamen di pasar cukup pendek, hanya sampai tengah hari, pasar sepi, Ragil langsung pulang.

Sisa hari dihabiskan dengan membereskan rumah, mulai dari menyapu, mencuci, dan sebagainya. Lalu tidur. Ragil jadi punya cukup waktu istirahat untuk dirinya sendiri. Begitu terus. Ragil juga sudah jarang pergi ke warung, alasan utamanya yaitu malu kalau ada yang bertanya tentang Murni yang pergi dari rumah. Ragil juga menghindari orang-orang, takut ditanya isu Murni hamil. Ragil pikir, pasti bukan hanya Harno yang melihat Murni periksa di Puskesmas.

“Uang jajan kalian masih atau sudah habis?” Ragil bertanya sambil menghitung uang koin di atas meja.

“Masih.” Juna yang menjawab.

Lihat selengkapnya