Kasih Murni

Yayuk Yuke Neza
Chapter #22

Rata-rata Itu

Sore hari ketika bangun tidur, Ragil mendapati ada pesan masuk di hapenya. Perasaannya tidak enak ketika melihat sekilas pesan yang muncul di layar utama. Selain pesan beruntun, ada juga panggilan telepon satu kali. Akan tetapi, Ragil membatasi panggilan sehingga tidak berdering sama sekali.

Dia membuka pesan-pesan itu, yang seperti dugaannya adalah pesan dari Murni. Dia bertanya kabar, lalu ingin agar Ragil mengirimkan nomor rekening yang masih aktif. Murni pun bertanya apakah dompet digital Ragil masih dipakai dan bisa dikirimi sejumlah uang. Murni mengaku dia ingin memberi sedikit untuk anak-anak.

Ragil membaca berulang-ulang dari awal sampai pesan terakhir. Dia takut salah baca. Akan tetapi, itu benar Murni, foto profil yang terpampang pun benar foto Murni. Namun, anehnya Murni tidak terasa marah dalam pesan-pesannya karena Ragil memblokir nomor Murni yang lama. Termasuk juga sosial media mereka tidak lagi saling terkoneksi. Ragil keheranan menyadari bahwa Murni terkesan biasa saja, seolah-olah tidak pernah terjadi perselisihan di antara mereka berdua.

Pikiran Ragil terdistrak ketika mendengar suara Juna dan Sinta tengah berebut remote televisi. Lalu sesaat kemudian Ragil menatap layar hapenya seraya berpikir apa yang hendak dia jawab. Apakah lebih baik membiarkan saja pesan-pesan dari Murni atau lebih baik menjawabnya saja. Setelah berpikir beberapa detik, Ragil mengetik pesan balasan. Dia menjawab singkat-singkat setiap pertanyaan dari Murni.

Ragil mengaku dompet digital miliknya masih berfungsi. Dia menjawab, kabar semua orang baik saja. Dia juga mengirimkan nomor rekening yang masih aktif. Ragil tidak bertanya balik tentang kabar Murni. Dia merasa tidak perlu melakukan itu. Bahkan, Ragil berharap Murni hanya main-main dan mencari perhatian saja. Tak sedikit pun Ragil berharap Murni akan benar-benar mengirimkan uang untuk anak-anaknya.

Setelah dirasa cukup, Ragil meletakan ponselnya lalu bangun. Baru saja dia berdiri, terdengar suara pesan masuk lagi diikuti oleh notifikasi lain. Ragil menyambar benda itu lagi, melihat pesan masuk berupa bukti transfer uang sejumlah dua juta rupiah. Murni berkata dia hanya bisa mengirim sedikit karena baru ada uang lebih. Ragil tidak tahu harus mengatakan apa, tetapi dengan berat hati membalas dengan ucapan terima kasih.

Terlihat Murni mengetik pesan lagi, tetapi Ragil tidak tahan dengan emosi yang bergejolak di dadanya. Dia tidak mau larut dalam perasaan sedihnya. Dia tidak ingin tergoda melakukan tindakan-tindakan bodoh karena masih terus memikirkan Murni dan berharap semuanya menjadi lebih baik untuk semua orang. Sekali lagi, dia tidak sanggup berhadapan dengan sikap keras kepala Murni dan semua sikap semaunya. Ragil bertekad membiarkan dan tidak membalas lagi, apa pun yang Murni katakana dalam pesan lanjutan.

Di depan televisi Juna dan Sinta menonton kartun. Juna menoleh ketika menyadari kehadiran Ragil di belakangnya.

“Bapak, Sinta tidak mau tidur. Bapak bangun karena kami berisik, ya?” tanya Juna dengan ekspresi wajah cemas.

Ragil menggeleng. “Tidak. Kalian yang akur, Bapak mau ke tempat Lek Harno dulu.”

Juna mengangguk. Kemudian Ragil keluar rumah dan membiarkan pintu terbuka.

Ragil melihat pintu rumah Harno tertutup separuh. Dia memanggil-manggil nama Harno sampai beberapa kali, sampai Harno muncul.

“Ada apa, Gil?” Harno merasa tidak biasanya Ragil datang.

Lihat selengkapnya