Berhari-hari setelah Juna dan Sinta diajak pergi membeli es krim, mereka masih terus membicarakan pengalaman pertama itu. Juna yang tidak pernah membayangkan akan mendapati es krim dalam sebuah cup besar, dia hanya tahu cup gelas being semacam itu untuk wadah es buah atau es campur. Namun, di depannya cup sebesar itu berisi es krim semua.
Sementara Sinta tidak memikirkan apa-apa. Dia langsung menyendoki es krim ketika baru diletakan di meja. Ragil tidak membeli untuk dirinya sendiri. Bukan karena tidak suka, tetapi dia ingin mengawasi kedua anaknya makan saja. Dia sempat bingung mengapa Juna sejenak diam saja. Rupanya, Juna ragu-ragu apakah dia akan bisa menghabiskan es situ sendiri.
Ragil meyakinkan Juna bahwa tidak apa-apa seandainya tidak habis bisa dibawa pulang. Juna menurut, lalu dia makan, tak kalah lahap dibandingkan dengan Sinta.
Sinta terus mengatakan pada Ragil bahwa minumannya enak. Sinta ingin kapan-kapan diajak beli lagi. Juna diam saja membiarkan sang adik mengoceh. Sebagai anak sulung yang sudah melek jumlah uang, Juna tahu es krim itu tidak murah. Harganya sekitar dua puluh ribu untuk satu cup, apabila membeli dua maka totalnya sekitar empat puluh sampai lima puluh ribu. Juna membayangkan, uang sejumlah itu cukup banyak.
Sampai rumah Juna sempat protes, mengatakan es krim yang mereka makan terlalu mahal. Namun, Ragil hanya tersenyum, lalu meminta kedua anaknya mendengarkan sesuatu. Ragil mengatakan bahwa tadi ada uang yang dikirimkan oleh Murni.
Juna terlihat mengerutkan dahi, seperti tidak suka mendengar pengakuan bapaknya. Berbeda dengan Sinta yang kegirangan ketika Ragil menyebut nama Murni.
Sesaat kemudian, Ragil buru-buru mengatakan bahwa itu bukan apa-apa. Ragil menyuruh kedua anaknya bersyukur karena Murni mengirimkan uang jajan. Akan tetapi, mereka tidak boleh berharap apa-apa. Ragil beralasan, kerja di tempat jauh, makanannya juga mahal-mahal. Bisa jadi, Murni tidak akan mengirimkan uang lagi nanti. Juga tidak boleh berharap sang ibu akan pulang. Ragil berpesan di depan kedua anaknya agar tetap mendoakan Murni agar selamat, sehat, dan berkecukupan, agar tidak melupakan mereka. Sekali lagi, Ragil menegaskan agar anak-anak tidak berdoa meminta sang ibu pulang. Apabila Murni sanggup dan bisa pulang, nanti juga pulang sendiri.
Ragil tersenyum sekilas. Akan tetapi, senyum itu langsung pudar ketika bertatap mata dengan Juna. Setelahnya, Ragil meminta anak-anak bersiap tidur, hari sudah malam dan mereka pasti lelah setelah perjalanan naik motor cukup jauh.
Ragil tidak menyangka kenangan tentang es krim itu sangat membekas di kepala Juna dan Sinta. Selain itu, Ragil juga mengirimkan foto kedua bocah itu pada Murni. Sehingga Ragil dan Murni saling berbalas pesan lain sesaat. Sampai kemudian, Ragil tidak membalas lagi.
Sejujurnya, ada perasaan aneh yang masih berkeliaran dalam hati kecil Ragil. Murni adalah perempuan yang dia pilih sendiri, betapa pun buruknya masa lalu wanita itu. Dulu, Ragil dengan sadar memilih Murni sebagai istri. Pikiran Ragil berubah-ubah. Sesaat dia ingin memaafkan Murni, sesaat kemudian dia marah atas sikap Murni yang sulit diberi pengertian.
Kemudian, Ragil tahu tidak ada jaminan Murni akan betah di rumah. Ragil bimbang. Dia sempat terpikir ingin meminta pendapat Juna, apa yang anak itu pikirkan. Seandainya Ragil mantap dengan keputusannya untuk memaafkan Murni, bagaimana dengan Juna. Apakah Juna bersedia? Ragil penasaran dengan pendapat Juna. Bagaimanapun, Juna adalah sosok yang terluka, malah lebih terluka apabila dibandingkan dengan Ragil. Juna seperti anak yang tidak diinginkan, betapa kasihannya dia.
Sayangnya, belum ada kesempatan Ragil bisa bicara dengan Juna sendiri. Sore itu, Ragil duduk di luar rumah sambil minum kopi, kemudian dia melongok ke dalam rumah. Juna dan Sinta sedang main hape.
“Juna, kamu ke sini sebentar.” Ragil memanggil.
Juna mengangguk, lalu berdiri, “Kamu main sendiri dulu. Aku mau disuruh Bapak.”
Juna berpamitan pada Sinta, dia pikir akan disuruh pergi ke warung membeli sesuatu.