Satu minggu kemudian, tepat hari Selasa, Juna izin tidak masuk sekolah. Sinta tetap berangkat, sekalian anak itu dititipkan pada bunda yang mengajar agar dijaga sampai Ragil datang menjemput siang atau sore hari nanti. Ragil menitipkan Sinta dengan alasan Juna akan pergi lomba di kota, sang kakak butuh didampingi orang tua. Mungkin mereka pulang agak siang atau sore. Dengan begitu, Sinta tidak bertanya-tanya terus. Beruntung, bunda yang mengajar PAUD cukup pengertian, pun tidak bertanya apa-apa ketika Ragil meminta tolong agar Sinta dijaga dulu, atau boleh diajak ke rumah sang bunda setelah pulang sekolah.
Setelah mengantar Sinta, Ragil kembali ke rumah dengan dada rasanya tak keruan. Juna sudah mandi. Tas ransel berisi baju ganti, camilan, dan air minum sudah siap di kursi ruang tamu. Ragil mengajak Juna sarapan sebelum pergi, Juna menurut. Anak itu, sejak kecil tidak pernah banyak tanya karena takut dimarahi oleh Murni, takut ditinggal pergi apabila membantah atau banyak tanya. Sehingga sifat itu terbawa sampai usianya cukup besar.
Ragil dan Juna tidak benar-benar bisa menelan makanan. Keduanya sama-sama cemas, sama-sama tidak yakin pada pikiran masing-masing. Bahwa semuanya dapat terjadi, sesuatu yang sebelumnya hanya berupa mimpi yang begitu jauh dari angan-angan. Juna tidak mau melanjutkan makan dengan alasan kenyang. Ragil tidak mengatakan apa pun, langsung menyuruh anak itu membereskan piringnya.
Tak lama kemudian, Ragil dan Juna selesai berganti pakaian. Juna sudah memakai helm, dia duduk di teras sembari menunggu Ragil yang masih di dalam rumah. Juna berusaha tersenyum ketika Ragil muncul dan sudah mengenakan helm. Sang bapak, lalu menyalakan motornya, Juna segera naik ke boncengan. Motor melaju meninggalkan umah kontrakan.
Selama perjalanan, Ragil dan Juna sama-sama diam. Tenggorokan terasa buntu, menelan air ludah saja begitu sulit. Juna menatap jalanan tanpa benar-benar memandang sekelilingnya. Anak itu begitu gugup.
Satu jam berlalu, sampai Ragil berhenti di tempat parkir kantor polisi. Dia melapor ke pos lebih dulu, lalu diarahkan ke kantor utama. Di kantor utama, ada foyer kecil memanjang berisi kursi-kursi tunggu. Tak jauh dari kursi-kursi itu, ada deretan ruangan-ruangan dengan papan nama di tiap-tiap pintu. Ternyata, Ragil dan Juna tidak sendiri hari itu, di kursi tunggu sudah ada beberapa orang yang duduk entah untuk urusan apa.
“Nanti kita masuk ke kantor itu.” Ragil menunjuk salah satu ruangan yang paling ujung. Sembari dia menyuruh Juna duduk di salah satu kursi.
“Kita menunggu dipanggil, Pak?” tanya Juna. Pandangannya tidak lepas dari ruangan yang dimaksud oleh sang bapak.
Ragil mengangguk. “Kita tunggu saja.”
Juna memandang bapaknya dari samping, lalu memberanikan diri bertanya, “Ibu ada di mana, Pak?”
Yang Juna maksud adalah sel tahanan Murni. Anak itu tidak melihat gedung tahanan dari luar, terlalu banyak gedung-gedung di area kantor polisi itu.
“Ada, tempatnya agak di belakang. Kalau kita mau bertemu dengan ibumu, nanti kita harus antre lagi di ruang besuk. Tapi semoga ibumu bisa benar-benar pulang hari ini, ya.”
Juna mengangguk. Debar jantungnya semakin tidak menentu. Sudah cukup lama, tiga atau empat bulan dia tidak bertemu dengan sang ibu. Atau mungkin lebih dari itu, Juna tidak benar-benar ingat hari di mana ibunya memutuskan pergi dari rumah.
Ragil dan Juna terus menatap ruangan di mana sebelumnya kepengurusan tentang kepulangan Murni dilakukan di dalam sana. Namun, setelah sekitar dua puluh menit pintu ruangan itu tidak juga terbuka. Ragil berpikir, mungkinkah dia harus mengetuk pintu agar polisi yang ada di dalam tahu keluarga Murni sudah menunggu. Namun, Ragil takut justru hal itu mengganggu para petugas yang ada di dalam.
Dari arah pintu, masuklah dua polisi yang tidak mengenakan seragam, keduanya berpisah di tengah lorong, lalu berjalan berlawanan arah. Satu polisi menuju ke arah Ragil dan Juna. Ragil menoleh ketika mendengar suara langkah mendekat, sehingga dia dan polisi itu saling bertemu pandangan. Refleks Ragil mengangguk, lalu mengucapkan selamat pagi. Juna pun menoleh ke bapaknya.
Polisi itu berhenti. “Bapak ini menunggu siapa? Ada keperluan apa?”
Ragil lantas berdiri. “Itu, Pak. Saya ke sini mau menjemput istri saya, Murni Kinanti. Dia pemandu karaoke yang waktu itu tempatnya bekerja digerebek, Pak.”
“Apa katanya sudah boleh pulang? Siapa yang sebelumnya mengatakan Saudari Murni boleh pulang?” tanya polisi itu lagi.