Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #2

Siapa Mereka?

“Ari, sepertinya ini sudah pagi. Kau sebaiknya bangun sekarang.”

“Ah, iya, sudah pagi. Setengah siang malah!”

“Ri, bangun, Ri!”

“Bangun! Bangun! Bangun!”

***

Tenggorokan ini mendadak terasa terkancing dan suatu bara seperti menyundut secara perlahan. Aku buru-buru bangkit dari posisi tidur. Napasku masih saling mengejar laiknya auman genderang di lapangan peperangan tatkala alarm ponsel di dekat bantal terus mengeluarkan bunyi riuh rendahnya. Tanganku kemudian lekas membungkam teriakan benda persegi panjang tersebut, menghentikan suara-suara berisik yang mengkonfrontasi gendang telinga.

Bukannya bugar, badanku justru terasa berat ketika dipaksa untuk berdiri. Bahkan kepala ini terasa begitu terbebani, begitu pening, begitu pusing. Astaga, haruskah aku bekerja hari ini? Tetapi, sayangnya, negara tak akan membiarkan rakyat miskin dan malas mendapatkan panggung.

Maka, kubulatkan sebuah keputusan: aku segera menyampirkan handuk di bahu dan bergegas mandi jika tidak ingin tergerus ekonomi.

Kamar mandi di rumah kami harus kutempuh sepanjang dua puluh lima langkah dari ruang tidur ini. Namun, beberapa langkah sebelum menyentuh area kamar mandi, aku merasakan terjangan udara pekat secara tiba-tiba di sekitarku. Sejurus itu aku sempat mendengar suara gemericik air.

Dengan nekat aku melongokkan kepala. Di sana, mataku mendapati Bapak sedang memandikan salah satu ayam jago. Pria itu sekarang tengah berjongkok sembari menggosok-gosok sepasang kaki ayam tersebut menggunakan spons.

“Ini dia orangnya.”

Tanpa sadar gigi-gigiku bergemeretak selagi mendengar suara itu. Suara yang entah kenapa selalu terdengar familier. Suara―yang entah sialnya―begitu dekat.

Kali ini aku mengabaikannya dan memilih untuk menyambar piring dan sendok di dapur. Berada di meja makan kayu yang nyaris lapuk, aku melahap nasi goreng buatan Ibu sambil sesekali menjatuhkan pandang pada jam yang berderak di dinding, memastikan jika hari ini aku tidak terlambat gara-gara ketiga ayam jago sialan yang dimandikan secara bergantian itu. Semakin jarum jam bersikeras melompat-lompat ke kanan, semakin tak sabar juga aku menunggu.

Di ujung amarah yang siap meledak, telingaku pada akhirnya menangkap jejak Bapak yang menjauh dari area kamar mandi. Tanpa membuang waktu, aku lekas mencuci perkakas makanku, lantas menyelinap untuk membersihkan badan dengan tergesa-gesa sebab kini aku sedang dikejar oleh waktu. Meski jauh dari kesan feminim dan cantik, tetapi aku masih menyempatkan diri untuk menyisir rambut ikal yang jatuh sebahu ini, juga bersolek tipis-tipis demi mengurangi kepucatan kulit sawo matangku.

Aku berlari menuju halaman tanpa menghiraukan Bapak. Bahkan untuk berpamitan dan cium tangan pun tak terpikirkan sama sekali. Sementara hendak izin ke Ibu, beliau sudah berangkat ke pasar sejak subuh tadi. Beberapa kali setelah berpeluh menginjak gas motor koplingku, akhirnya kendaraan butut ini mau melaju juga.

Seperti yang kita tahu, hari sial memang tak ada di kalender. Secara tiba-tiba motorku mogok di tengah jalan. Karena sudah terbiasa melalui jalan ini hampir sepanjang setengah usia, aku akhirnya terpaksa menuntun motor bututku ke bengkel terdekat.

“Cak, antreannya rame?” tanyaku sedikit cemas begitu tiba.

Kepala seorang pria yang kutaksir usianya belasan tahun jauh di atasku mendadak melongok dari balik roda motor vespa.

Lihat selengkapnya