Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #3

Kasuari Betina

“Ari.”

“Ari? Hahaha! Perempuan kok namanya Ari?”

“Tidak tahu.”

“Terus, nama lengkapmu siapa?”

“Kasuari Putri.”

“Hahahahaha ….”

“Hahahahahahaha ….”

“Hahahahahahahahaha!”

Aku mendengar bukan hanya satu yang tertawa. Tapi, hampir semua. Setiap orang selalu menertawakan namaku kala pertama kali bertemu. Teman baru, tetangga baru, semua teman di kelas, guruku.

Jika sudah begitu, hal yang dapat kulakukan hanyalah diam. Ya, diam dan mengamati. Hinggap dari satu wajah ke wajah lain. Aku memperhatikan bagaimana mereka mengerahkan otot-otot di sekitar rahang untuk tertawa lepas, bagaimana suara mereka yang terdengar mengejek di telinga ini, atau bahkan bagaimana ekspresi mereka yang selalu terbayang bahkan sampai usiaku dua puluh tiga sekarang.

“Husss! Sudah, sudah! Berhenti, anak-anak! Ari, kenapa namamu Kasuari? Kasuari Putri? Kasuari Betina?”

Bukannya meredakan tawa di kelas ini, guruku kerap kali justru menjadi pemicu ledakannya. Bahkan banyak teori-teori bodong berjejalan dari mulut mereka hanya karena ingin tampil sok tahu membedah arti namaku. Satu hal yang mereka tak tahu adalah aku―tidak pernah―menyukai mereka. Aku tidak pernah suka namaku.

Kasuari. Burung Kasuari setelah aku cari tahu ketika baru mengenal mesin pencarian Google. Semakin banyak tahu ihwal burung tersebut membuatku kian tak menyukai nama ini. Pertama, meski Kasuari adalah burung, tetapi ia tidak bisa terbang. Dan, kedua, Kasuari secara fisik tidaklah selucu burung jenis lainnya. Berikutnya aku tidak perlu poin ketiga, keempat, dan seterusnya untuk semakin membenci namaku sendiri.

Burung Kasuari hidup terbatas di hutan tropis, dengan perawakan besar mencapai tinggi 1,8 meter dan bulu-bulu legam laiknya rambut kusutku. Pada lehernya tercurah warna biru-merah mencolok seperti ketumpahan cat, atau barangkali pewarnaan yang gagal. Oh, sebenarnya aku tidak ingin menghina ciptaan Tuhan, namun burung ini memang tak ada kesan imut-imutnya, apalagi helm atau tanduk keras yang ada di kepalanya tersebut.

Ia pun memiliki sepasang kaki besar dengan cakar tajam. Suka menendang. Berbahaya, walau tak akan menyerang tanpa alasan; kalau terancam, wilayahnya diganggu, atau merasa terpojok. Burung Kasuari hidup sendiri, jarang berkelompok, dan tidak suka melakukan interaksi. Tambah mengenal sosoknya, aku jadi sepaham dengan suatu tiupan pepatah jika seorang ibu pasti mengenal anaknya sejak dari dalam kandungan.

Tetapi, kenapa harus Kasuari Putri sedangkan adikku adalah Sinar Dewi Rembulan?

Itu adalah pertanyaanku sewaktu kecil. Aku menemukan apa jawabannya selama aku tumbuh bersama adikku hingga beranjak dewasa. Perihal namaku dan namanya adalah racikan tunggal dari Ibu, hanya pemberian Ibu. Tolong jangan tanya kenapa Bapak tidak turut serta menurunkan nama. Aku masih bernapas atau tidak saja, ia tak akan pernah peduli.

Lihat selengkapnya