Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #4

Matinya Ayam Jago

Pagi begini lagi-lagi aku mendengar barang-barang yang dibanting. Termos dicampakkan keras setelah digunakan, kursi kayu digeret kasar, cangkir dilempar kencang ke wastafel pencucian, dan masih banyak lagi perabot rumah yang menjadi korban. Padahal tak ada satu pun dari barang-barang itu sanggup dibeli Bapak; tidak ada satu barang pun yang ia miliki di rumah ini. Hampir semuanya dibeli dari keringat Ibu meski sebagiannya merupakan hasil dari warisan, dan skala yang lebih kecil lagi adalah jerih payahku sebab akulah yang membelinya setelah mendapat pekerjaan.

Jantungku nyaris melompat dari tempatnya setiap mendengar benda-benda terbantai oleh tangan pria itu. Tiap kali barang dibanting, aku dan adikku hanya mengelus dada atau bergumam, “Astagfirullah ….” Dan, bukan hanya tangannya yang ajaib, tetapi mulutnya juga menguarkan berbagai ucapan busuk yang lebih liar dari binatang-binatang. Semuanya ia lampiaskan kepada kami, keluarganya, walau salah satu ayam jago yang mati hari ini bukanlah karena kami penyebabnya.

Hal itu sebenarnya sudah terjadi selama puluhan tahun sejak aku kecil. Setiap Bapak marah atau kesal gara-gara sikap orang lain atau atas nasib sial yang dialaminya, ia selalu melampiaskan kepada keluarganya sendiri. Banting-banting barang, teriak kencang bagai orang kesetanan, menggertak Ibu, misuh, dan menyalahkan kami semua. Namun, yang berbeda hari ini adalah Ibu sudah berangkat ke pasar untuk bekerja sebagai kuli panggul dari subuh tadi sehingga semua amarah yang sia-sia itu hanya diterima olehku dan Sinar―aku memanggil adikku demikian sebab nama Rembulan atau Dewi terlalu menimbulkan kesenjangan bagi nama Kasuariku.

Bagaimanapun, kami sebenarnya tidak ingin terjebak di rumah kalau iblis itu sedang “kumat”. Tetapi, apalah daya. Selain motorku masih dalam tahap reparasi, kami tak punya uang lebih untuk makan di luar. Lebih-lebih ancaman Bapak yang sering mengatakan bahwa rumah kami akan dibumihanguskannya; satu-satunya harta warisan yang Ibu punya ini akan ia bakar. Kami menyebutnya gila, nekat, miskin, dan tidak tahu diri.

“Orangnya lagi di mana?” bisikku pada Sinar.

Sinar diam dan tampak memasang telinganya baik-baik. Aku pun melakukan hal yang sama.

Koyoke kok enggak ono, Mbak,” cetusnya kemudian.

Aku memastikannya sekali lagi. Memang tidak ada jejak langkah ataupun tanda kehidupan selain kami. Berikutnya, dengan hati-hati, tanganku mencoba menguraikan kunci pintu kamar dan membukanya perlahan. Sementara itu degup jantungku bergejolak seperti ribuan tapak kaki kuda perang. Ah, rumah sendiri ternyata semenegangkan ini, ya.

Piye?” Sinar bertanya lirih dari belakang.

Setelah mata ini jelalatan memindai setiap inci rumah yang dapat kujangkau dan memastikan bahwa Bapak tak ada di rumah, aku mengangguk. “Koyoke orang gila iku lagi buang bangkai ayam jago,” sahutku sembari menimbang-nimbang. “Ayolah, masak saiki!

Aku dan Sinar lantas melangkah pelan menuju dapur. Menggarap tempe orek dengan tangan-tangan cekatan yang dihantui kedatangan Bapak. Sejujurnya, kami tak takut lagi padanya. Takut adalah verba yang tepat untuk menggambarkan perasaan kami sewaktu kecil, di mana kami menganggap amarah Bapak sebagai suatu ancaman. Untuk sekarang, kemuakan untuk tidak bersitatap dengan wajah iblis itu adalah alasan utamanya.

Selesai menuntaskan masakan, aku dan Sinar melahapnya secara kilat juga. Sudah cukup lama kami menahan gejolak perut kami dan menunggu saat yang tepat untuk memasak. Demi mempersingkat waktu, aku meraup alat makan milik adikku usai ia menandaskan isinya dan mencucinya sekalian bersama punyaku. Namun, mendadak aku menangkap tanda-tanda kedatangan Bapak.

“Mbak, wes. Sisane dicuci mengko meneh ae!” celetuk Sinar panik.

Sekujur tubuhku pun rasanya membeku mengendus sinyal-sinyal derap langkahnya yang kian mendekat. Sembari membawa dua gelas yang belum tersentuh sabun cuci, aku dan Sinar akhirnya tergopoh-gopoh kembali ke kamar. Menyembunyikan dua benda tersebut di kolong tempat tidur, lantas mengatur napas kami yang masih terdengih-dengih.

Lihat selengkapnya