Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #5

Novel Bersampul Ungu

Sejak pagi ia sudah terhitung tidur di situ. Bahkan sampai matahari perlahan tertatih menuju singgasananya di ufuk barat, ia tetap tidur di tempat yang sama. Sejujurnya, aku berpikir hal itu sebagai kesialan sekaligus keberuntungan. Kesialan karena seumur hidup aku punya sosok bapak yang malas di mana kebiasaannya mendengkur seharian tersebut sudah kusaksikan sejak aku TK, juga keberuntungan yang membuatku tak mendengar bunyi-bunyi keras benda dibanting lagi. Intinya jika ia tidur, maka jantungku dapat beristirahat dari ritme runyam yang seolah dapat memicu mati muda.

Tak berapa lama pintu terdengar dibuka dari depan. Dari jejak langkahnya, aku mengenalnya sebagai ibu. Wanita itu seperti biasa langsung melenggang ke belakang; biasanya mencuci tangan dan kaki alih-alih mandi, lalu sibuk menyiapkan piring dan nasi untuk makan. Dan, aku sudah hafal oleh satu hal: ia pasti menyiapkan makan juga untuk Bapak.

Seperti mencium aroma kepulangan Ibu juga, kursi kayu di ruang tamu mulai berderit. Awalnya terdengar gerakan lemah, lama-lama jadi kasar dan gelap. Bapak bangun, memulai dramanya kembali. “Asu! Reneo disik!” pekiknya ke arah Ibu.

Tak ada respons apa pun dari Ibu. Apa yang tertangkap oleh indraku adalah napas lelahnya, juga pijakan kakinya yang mengalir mendekat. Kupikir ia pasti sedang menyerahkan sepiring nasi dan tempe orek tadi pagi untuk Bapak. Berikutnya aku justru mendengar bunyi nyaring barang pecah-belah terlempar ke lantai, yang seharusnya itu adalah ucapan terima kasih karena telah disiapkan makan.

“Heh, kon iku marai uripku ketiban sial terus! Panggah enggak ono enake urip bareng kon!”

Aku menghela napas yang terasa seperti memuat berton-ton beban. Ontran-ontran memuakkan itu lagi yang keluar dari mulutnya. Sudah tak terhitung berapa kali Bapak menyalahkan Ibu atas kesialan hidupnya. Mungkin selama hidungnya masih bisa bernapas, ia bakal terus memaki Ibu.

Ibu tetap bergeming menghadapi gelombang amarah tersebut. Ia justru memilih pergi ke kamarku. Usai pintu tersibak, mata kami terlibat saling pandang untuk sejenak. “Wes makan, Nduk?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk. Sampun, Buk, Sinar yang menyuarakannya. Ibu yang tengah memegang piring berisi nasi dan tempe orek lantas ikut bersimpuh di lantai dekat kami. Tanpa basa-basi lagi, ia makan dengan lahap, seakan tak terpengaruh oleh bunyi-bunyi kencang barang yang kembali dibanting di luar sana.

Mataku masih terpancang pada Ibu, sementara hati ini rasanya dikecup oleh aliran darah dari luka yang tak pernah mengering. Ibu berperawakan gempal, dengan rambut yang dipotong cepak layaknya lelaki. Kulitnya legam eksotis, tanda akrab dengan terik matahari yang memanggang. Tanpa sadar bibirku melengkung selama menatapnya. Aku tahu, di balik sikapnya yang tidak peduli, dada Ibu juga pasti berdenyar panas karena sikap Bapak yang seperti iblis.

Ah, seandainya aku bisa pergi dari rumah ini dan membawa mereka berdua. Andai kata aku punya cukup uang, aku bakal mengurus kepindahan kami ke tempat yang jauh dan membahagiakan Ibu di sana. Pikiran itu berhasil menggarut hati. Tenggorokanku pun seolah tersumpal benda padat. Ah, andai saja aku benar-benar punya sepasang sayap untuk terbang tinggi tanpa tersentuh pria brengsek yang menjelma sebagai seorang bapak.

Namun … kenyataannya burung Kasuari tak bisa terbang. Burung Kasuari hanya bisa membunuh.

Lihat selengkapnya