Aneh. Sungguh aneh. Kasuari Putri adalah nama lengkapku. Nama yang saking uniknya hanya dimiliki olehku dan satu orang lain lagi di negeri ini. Dulu, pernah suatu kali aku mencari nama “Kasuari Putri” secara sadar di mesin pencarian Google dan menemukan nama Putri Kasuari di akun Facebook. Itu pun bukan persis Kasuari Putri seperti namaku, kan?
Jadi, bisa dibilang bahwa akulah pemilik satu-satunya atas nama tersebut. Tetapi, kok bisa nama yang sama pula dipakai jadi salah satu tokoh di novel eksentrik ini? Aku mengamati novel itu lamat-lamat. Glenn pun hanya tahu namaku Kasuari―dengan panggilan Ari. Sepanjang ingatanku, aku belum pernah menyebut nama lengkap selama bekerja di sini. Kecuali Pak Aldi yang memang tahu dari CV yang kukirim sebelum diterima sebagai karyawannya.
“Kenapa kok kelihatan kaget begitu, Ri?”
Aku terkesiap, lantas segera menggeleng. “Enggak. Enggak apa-apa.”
“Jadi … enggak mau lihat, nih?” Glenn menggerak-gerakkan novel yang lagi diacungkannya.
Aku menggeleng untuk kedua kalinya. Masalahnya gengsiku sudah setinggi langit. Selain itu, sebisa mungkin aku tidak ingin berurusan dengan pria ini. Terdengar helaan napas halus dari Glenn sebelum ia menyeret langkahnya keluar. Aku pun menahan sekuat hati keinginan untuk tak memanggil Glenn dan memohon untuk meminjam novel tersebut barang sebentar.
Setelah memastikan pria itu lenyap dari pandangan, aku buru-buru memungut ponselku dari dalam saku celana. Jari-jariku mengetik dengan kecepatan yang membalap detik jarum jam dan menyusun perpaduan huruf hingga membentuk kata Kasuari yang merupakan judul dari novel tersebut. Ketika halaman Google sudah menampakkan berbagai informasi, mataku lekas menelannya secara bulat-bulat.
Di sini dapat kutemukan sejumlah keterangan mengenai novel Kasuari. Diterbitkan oleh penerbit mayor yang lumayan terkenal, dengan total jumlah 246 halaman, dan ditulis oleh Heronine Z. Sampai di situ keningku terlipat dalam. Heronine Z? Nama yang tak pernah tebersit di kepala selagi aku memeras ingatan untuk jajaran nama-nama penulis Indonesia. Lalu, secara enteng aku beranggapan saja ini adalah karya pertamanya sehingga membuatku tak ingat apa pun soal penulis itu.
Semakin menggulir jauh ke dalam, netra ini tambah haus rasanya. Apalagi sewaktu menemukan sepotong blurb novel dengan garis besar cerita yang dipaparkan, pun sejumlah tokoh yang menarik perhatianku. Aku mulai meniti satu per satu kalimat dan begitu tersentak. Bagaimana mungkin isi novel itu juga menceritakan kisah yang sama persis seperti yang aku alami di dalam keluarga? Seketika sekujur tubuhku meremang. Aku kehabisan kata-kata dan napas. Buru-buru kusimpan kembali gawai ini dan berlari keluar.
Novel itu sayangnya berhasil menyita sembilan puluh dua persen pikiranku sehingga aku tak dapat fokus kerja selama seharian. Sampai saat sore tiba dan aku harus terjebak bersama teman-teman lainnya di meja pojok yang terletak di dekat rolling door di mana jika ada pelanggan datang, sudah dipastikan acara yang dibuat bakal buyar. Sebenarnya tak sepenuhnya aku bersama mereka, secara teori, sebab acara ini adalah akal-akalan Eka yang ingin menyambut Glenn sebagai anak baru di sini. Mengingatnya aku jadi mendengus beberapa kali. Sejak kapan ada budaya penyambutan karyawan baru di toko sembako sekecil 400 meter persegi ini?
Aku duduk di kursi seberang meja sembari menguap. Sesekali aku menggeser tatapanku dari layar ponsel ke celotehan mereka yang nyatanya lebih membosankan lagi. Di situ mereka membentuk lingkaran kecil, memunggungiku; Glenn dikerubuti sebagian besar karyawan yang berjenis perempuan dan tampak menikmati berbagai kudapan ringan. Gorengan Bandung, rujak buah, dan minuman botol dingin tertata rapi di atas meja yang semula dijadikan meja kasir tersebut. Dan lebih menyebalkan lagi, Pak Aldi ikut di tengah-tengah mereka seolah pesta itu bersifat formal.
Namun, satu hal yang sejujurnya membuatku paling geram: mereka bersenang-senang tanpa mengajakku. Malahan hanya Glenn yang sempat mengajakku untuk bergabung. Rautnya tampak polos, sok dekat, tetapi tidak tahu saja ia kalau pesta itu sebenarnya diadakan khusus untuknya. Tidak pernah ada sejarah tentang penyelenggaraan acara penyambutan karyawan baru seperti ini sebelumnya.
“Wih! Enggak nyongko aku, Rek, nek bakal ono artis nang tengah-tengahe awak dewe!” celetuk riang Eka mendominasi suasana. Dari ekspresinya pun tergambar jelas: ia terkejut karena ada artis di tengah-tengah kami. Orang-orang lantas segera tertular tawa senangnya.