BAB 1
“Aku pikir, aku memiliki ayah. Sama seperti anak-anak lain di dunia ini. Namun, Ayah ternyata bukanlah seorang ayah. Ayah adalah iblis penguji yang turun ke bumi.”
Kalau kalian berpikir Kasuari tak pernah dekat dengan ayahnya, itu salah besar. Kasuari bukanlah anak spesial yang serta-merta langsung tahu bahwa ayahnya adalah seorang iblis, si raja culas. Ia sendiri pun tak menyangka suatu hari akan bertemu dengan penghuni neraka paling dalam tersebut di dunia keji yang luas ini. Satu-satunya yang membuat Kasuari menjadi istimewa ialah ketangguhannya untuk menghadapi iblis itu selama bertahun-tahun.
Kasuari kecil sesungguhnya justru sangat lekat dengan ayahnya, Suprianto. Ke mana-mana berdua. Bertiga jika bersama adiknya. Berjalan-jalan, bermain ke salah satu rumah tetangga, menjelajahi perkebunan tebu, bersantai di dangau, juga menyaksikan riakan air jernih sungai di dekat rumah mereka. Bahkan begitu Supri melihat ada ikan-ikan kecil di dasar air, ia langsung beritikad untuk menangkapnya meski harus meminjam jaring dulu ke salah satu tetangga.
“Buat apa jaringnya, Pak Supri?”
“Itu lo, Pak, buat nangkep ikan-ikan di kali sebelah. Anak-anak seneng lihatnya.”
“Owalah. Njenengan sudah punya akuarium di rumah?”
Supri menggeleng, lantas garuk-garuk kepala. “Mboten, Pak. Anu―apa sekalian boleh minta lodong bekas buat tempat ikan?”
Pria paruh baya yang seumuran dengan Supri terpaksa mengiyakan. Ia buru-buru menyeret sepasang kakinya ke dalam rumah, mengobrak-abrik area dapur sehingga menimbulkan sedikit kegaduhan dan pertanyaan yang meluncur dari bibir istrinya, lalu kembali menghadap Supri di teras. “Monggo, ini, Pak. Tapi, ngapunten, masih kotor,” ungkapnya sungkan.
Supri menerimanya. Memperhatikan sejenak sebelum manggut-manggut pelan. “Matur nuwun, Pak. Gampang, dibersihkan di kali bisa.”
Supri kemudian melesat menuju tempat di mana Kasuari dan Sinar menunggu. Mata kedua bocah polos itu langsung berpendar begitu menyaksikan ayahnya menjinjing dua stoples plastik bening bekas jajan lebaran dan sebuah jaring di tangan lain. Tanpa membuang waktu Supri lekas melancarkan aksinya untuk menjaring ikan-ikan kecil di bawah sana. Kasuari dan Sinar bersorak kegirangan tiap kali ayahnya mendapat ikan untuk dimasukkan ke dalam lodong.
“Wes, ini satu-satu. Ojo tukaran.” Supri menyerahkan masing-masing satu stoples dengan isi satu ikan di dalamnya.
Kasuari menengok ikannya, lantas memperhatikan kepunyaan Sinar. “Cuma satu, Pak? Enggak ambil lagi? Di bawah masih banyak.”
“Aku pengen warna yang kayak Mbak Ari, Pak.” Sinar ikut merengek.