Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #8

Mengusir Iblis

“Serahkan buku itu sekarang, Ri.”

Aku memasang wajah bingung yang menurutku amat bodoh. Sebagai gantinya dahiku tertekuk. Perlahan aku menggelengkan kepala seraya menarik bibir merespons sebuah titah yang jelas dari mulut Pak Aldi. “Maksudnya gimana, Pak?” tanyaku pura-pura.

Pak Aldi membenarkan letak posisi kacamatanya dan memutar bola mata. Dengkusan kasar terdengar dari mulut yang sama yang telah melontarkan perintah. “Jangan buang-buang waktu berhargaku, Ri! Itu, noh, yang ada di balik punggungmu kan ada buku, to. Cepet keluarin, aku pengen lihat!” gertak Pak Aldi, sorot matanya tajam. Padahal tidak melotot pun, mata Pak Aldi memang sudah bulat dan terkesan membombardir lawan.

Aku berusaha meraup oksigen untuk mengisi paru-paruku yang kering. Oh, seandainya aku lebih bijak, lebih berhati-hati, mungkin aku tidak akan ketahuan jika sedang mencuri-curi waktu membaca novel di tengah jam kerja meski sejauh mata memandang pelanggan masih aman. Maksudnya masih belum terlihat butuh bantuan. Jadi, apakah suara yang kudengar tadi berhubungan dengan ini?

Terpaksa aku mengendurkan tangan dari balik punggung dan menunjukkan novel yang sedang kubaca. Pak Aldi langsung menyambar novel tersebut tanpa basa-basi. Sebelum memeriksa keseluruhan buku yang sudah ada di tangannya, ia melotot ke arahku. “Wooo, bener ternyata. Kamu enggak serius kerja dan malah baca beginian!” Pak Aldi mengguncang-guncang novel seolah benda itu adalah benda haram.

Perasaan bersalah membuatku kelabakan. Tapi, bukan Pak Aldi yang menyebabkan perasaan serba salah begini. “Maaf, Pak. Saya minta maaf. Tadi saya cuma baca sebentar, kok. Janji saya enggak bakal ngulangi lagi. Tapi, tolong, itu―”

“Diam karena ini mau aku sita! Kamu kembali kerja yang bener sana! Enak saja baca novel di jam kerja gini. Emang ini tokonya mbahmu!”

Aku mengkeret di tempat. Perpaduan mata lebar, amarah membuncah, serta raut wajah Pak Aldi yang galak adalah maut. Kupandangi novel yang ada di cengkeramannya dengan sayang. Masalahnya, novel itu bukan punyaku. Apa tanggapan Glenn coba seumpama ia tahu novel yang kupinjam malah disita Pak Aldi?! Mataku menatap kepergian pria tersebut dengan amat berat hati.

Karena semakin panik, aku tidak ada pilihan lagi selain mengejar Pak Aldi, dan tetap bersikukuh mengekor di belakangnya.

“Pak Aldi, tunggu! Novel itu bukan milik saya lo, Pak. Saya janji bakal menyimpannya saja di dalam. Tapi, tolong kembalikan sekarang ya, Pak. Tolong ….” Aku berusaha memohon dan memasang tampang melas. Bahkan aku sudah tidak peduli lagi pandangan karyawan lain atau pelanggan yang kebetulan berada di dekat kami.

Dari belakang sini, gestur Pak Aldi tampaknya semakin kecut. Ia beberapa kali mendaratkan pandangan ke orang-orang, lalu menoleh tanpa benar-benar menatapku seakan ingin mengatakan sesuatu tapi urung. Ia pun berusaha mengusirku menggunakan lambaian tangannya yang disamarkan di belakang pantat. Namun bukan Kasuari namanya kalau menyerah begitu saja. Aku tetap bersikeras mendekat sehingga pria itu mau tak mau memutar tubuhnya demi menghadapi keras kepalaku.

“Husss, sana! Enggak ada toleransi buatmu! Sana balik kerja!” Pak Aldi mendelik untuk terakhir kalinya sebelum melenggang pergi.

Langkahku akhirnya terhenti di ambang pintu yang menghubungkan lorong kecil―sebuah jalur menuju kantor Pak Aldi―dengan area toko ini. Aku menelan saliva susah payah. Kutekan sebisa mungkin rasa panik yang sudah membuncah. Habis sudah tekadku untuk mengambil novel itu karena dihadang kekakuan Pak Aldi. Aku harus ngomong apa ke Glenn nanti?!

Terpaksa aku berbalik badan dan melangkah ke tempatku semula dengan bahu longsor. Kemudian tanpa sengaja aku mendengar suara krasak-krusuk dari balik rak tinggi. Kupandangi sosok itu tanpa daya. Eka tampak menutup bibirnya, tergelak, dan pergi dengan langkah buru-buru.

***

Aku menjatuhkan tubuh ke atas kasur dengan pasrah setelah pulang dari toko. Dadaku terasa penuh dan sesak tiap kali memikirkan novel yang membuatku penasaran setengah mati malah diambil paksa Pak Aldi. Kira-kira apa yang diceritakan perihal Kasuari di bab selanjutnya, ya? Akankah mirip juga dengan jalan hidupku? Di tengah keputusasaan pada akhirnya aku membuka sejumlah platform dan mencari novel tersebut.

Begitu menyaksikan harga-harga yang terpasang untuk sebuah novel dengan desain sampul eksentrik ungu itu, mataku jadi membeliak. Aku lekas bangkit dan lebih serius menggulir layar ponsel dengan mulut yang tetap terbuka lebar.

“Wah, edan! Sembilan puluh delapan ribu?!” Uang segitu mah bisa dibuat hidup beberapa hari!

Lihat selengkapnya