Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #9

Kepungan Polisi

“Assalamualaikum, benar ini rumahnya Bapak Suprianto?”

Waktu itu aku sedang bersembunyi di dalam rumah sebab semenjak pagi buta Bapak terus mengamuk seperti babi hutan gila. Hampir lebih dari lima puluh persen barang kami luluh-lantak dihancurkannya. Ia pun berteriak-teriak, misuh, menyumpahserapahi hidup kami agar menderita seperti dirinya tanpa ia sadar bahwa sebenarnya hidup kami memang sudah menderita karenanya. Bapak mengamuk bahkan sampai mendobrak-dobrak pintu kamarku dan menantang Ibu untuk keluar agar ia bisa memukul kepala Ibu menggunakan palu.

Aku akhirnya tak punya pilihan selain melapor polisi sungguhan. Dengan tangan dan suara yang gemetar, aku menelepon kantor polisi terdekat dan menyampaikan apa yang menjadi ketakukan kami: Bapak mengancam dengan palu. Tak berapa lama, sekelompok polisi menggeruduk area perkampungan kami demi mengepung rumah ini.

“Betul, Pak. Ono opo, ya?”

“Maaf mengganggu nggih, Pak. Kami menerima laporan bahwa Anda melakukan pengancaman terhadap istri dan anak Bapak menggunakan palu, apa benar begitu?”

Detik itu juga aku dapat membayangkan bagaimana wajah bodoh Bapak terpasang. Plonga-plongo. Sok kebingungan, apalagi terdengar juga kerumunan sejumlah warga yang mungkin terkejut mendapati polisi mendadak menyidak rumah kami. Tubuhku semakin bergetar hebat rasanya. Tetapi, mau tak mau aku, Sinar, dan Ibu keluar kamar, menyambut polisi yang telah sengaja kami datangkan. Sebelumnya aku sempat memberitahu Pak Aldi perihal keterlambatanku pergi ke tempat kerja.

Sejujurnya aku berharap sekali bisa menyaksikan penangkapan Bapak dengan memuaskan. Ada harapan di mana pada akhirnya pria itu diseret keluar dari rumah ini, dikungkung di balik jeruji besi, atau bahkan musnah selamanya dari hadapan kami.

“Benar, Pak. Saya yang lapor,” akuku begitu berhadapan dengan polisi-polisi tersebut meski agak kaget karena jumlah polisi yang kemari lumayan banyak. Ada satu, dua, tiga … enam. Enam polisi datang secara mendadak. Aku menghitungnya dalam hati dan berusaha untuk tidak menampilkan keterkejutan ini.

Mataku sempat bertemu pandang dengan manik mata milik Bapak. Tampangnya benar-benar bodoh sekarang, persis seperti prediksiku. Diam-diam rasa puas melonjak dari dalam dada dan mengalir seperti sungai yang memberi kesejukan sekujur tubuh. Aku bahkan tak bisa menyimpan senyum senang ini lebih lama lagi ketika kami masih bersitatap beberapa kali setelahnya.

Bapak tampak geram, marah, atau entahlah―aku hanya akan memedulikan kebahagiaanku sendiri. Kini ia justru menggeleng kepada salah satu polisi, dan mengucapkan pembelaan diri: “Bukan begitu lo, Pak, sumpah. Saya cuma bercanda, saya cuma menggertak istri dan anak saya. Saya beneran enggak berniat buat mencelakai mereka, apalagi membunuh.”

Polisi yang menerima penjelasannya hanya manggut-manggut. Polisi lain mulai berdiri dan perlahan mengitari ruang tamu kami yang sempit. Jangan bertanya apa peran polisi ketiga, keempat, dan seterusnya. Sebagian dari mereka masih muda dan hanya bergeming di tempat sambil memperhatikan arena sengketa keluarga yang serupa tontonan, sementara salah satunya secara aktif melakukan sesi pemotretan. Mungkin demi dokumen laporan kinerja mereka, atau entahlah. Cuma mereka dan Tuhan yang tahu.

“Lo, Pak, katanya bercanda tapi kok Anda menyiapkan ini beneran?” Polisi yang tadi berkeliling mengangkat sebuah palu tinggi-tinggi usai mendapatkannya dari atas bufet TV. Matanya mengintimidasi.

Pandanganku, Sinar, dan Ibu lekas berpaut jadi satu. Mungkin inilah yang dinamakan kuasa keadilan Tuhan yang menunjukkan segala borok ke permukaan tepat pada waktunya. Aku sedikit menarik napas lega. Bagaimanapun aku juga ketakutan setengah mati jika laporanku pagi ini hanya sia-sia dan dinilai merepotkan kinerja polisi.

Alih-alih menjawab, Supri justru tergelak singkat. “Kan tadi sudah saya bilang to, Pak. Cuma bercanda, cuma biar mereka takut.”

“Lha terus kalau kesambet setan beneran gimana, Pak? Bisa jadi kasus baru iki di Surabaya.”

“Ini kesempatanmu buat bunuh dia.”

Lihat selengkapnya