Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #10

Lakon Keluarga

Sungguh aneh rasanya. Semenjak novel yang kupinjam dari Glenn ini kembali ke tanganku, sikap orang-orang kian ganjil. Di hari yang sama aku merasa Pak Aldi jadi mengesampingkanku, menghindari komunikasi, enggan mengajak bicara, bahkan untuk memberi satu titah pun. Sewaktu aku bertanya mengenai salah satu merek bumbu yang sudah lama kosong dan lumayan sering dicari pelanggan, Pak Aldi justru cepat-cepat melangkahkan kaki keluar sambil menenteng tasnya dan hanya melambaikan tangan mengusir.

“Haduh! Mengko, mengko! Urusan nanti itu! Sementara tawarkan merek lain dulu. Yang lain juga harus laku!” teriaknya padaku tanpa mau melihat lawan bicaranya.

Bibirku mengerucut; aku merasa seperti ngengat yang lekas diusirnya. Ini belum Eka, wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak namun kabar buruk mula-mula berembus pelan: ia baru saja bertikai dengan sang suami dan terlihat gampang terpatik emosi beberapa hari terakhir. Eka malah bersikap laiknya aku tidak ada di bumi ini. Ketika aku terpaksa mengajaknya bicara karena kebetulan kami melayani pelanggan yang sama dan mempersiapkan barang belanjanya yang segunung, ia tak pernah merespons suaraku. Atau malah teriak-teriak seperti orang kesetanan kalau pelanggan sudah pergi.

Aku mendesah kasar. Kuputuskan untuk mengembalikan novel Kasuari saja jika memang itulah biang keroknya. Aku pun bakal semakin menghindari Glenn kalau perlu, sebab aku berspekulasi orang-orang penghuni toko menjadi sosok yang anomali sejak pria muda bekas artis cilik itu bekerja di sini dan bergabung bersama kami.

“Lo, kenapa, Ri? Kamu sudah selesai baca memang?” Dahi Glenn berkerut tatkala aku mengembalikan novelnya di puncak siang, di mana sebagian dari kami akan istirahat secara bergantian untuk waktu yang relatif singkat.

“Aku kembalikan sajalah. Ceritanya kurang menarik,” dustaku.

Sialnya, Glenn sudah seperti alat pendeteksi kebohongan yang peka terhadap setiap detail perubahan pada raut mukaku. Ia sempat memperhatikanku lamat-lamat selama tangannya menyentuh novel yang sedang kuulurkan. Namun secepat kilat ia berubah pikiran dan langsung mendorong novelnya kepadaku. “Enggak, enggak, kayaknya kamu memang harus baca dulu. Aku lagi belum punya waktu buat lanjut,” tukasnya bersikeras.

Sontak wajahku tertekuk masam. Kenapa sih ia harus mempersulit hidupku? Aku kembali bersikukuh untuk mengembalikan novel itu, bahkan sampai menaruhnya secara diam-diam di balik ransel milik Glenn. Tanpa ketahuan satu orang pun. Tetapi, sorenya menjelang jam pulang, novel itu secara ajaib kembali di rakku. Praktis bersandingan dengan tas selempang.

Aku jadi frustasi dan putus asa. Pada akhirnya aku mencangking lagi novel ini dan membawanya pulang. Setelah membersihkan badan, lekas kubuka halaman terakhir yang kubaca dan melanjutkannya sembari merebahkan diri di atas kasur. Waktu itu Sinar berada di sisi pembaringan satunya, tengah sibuk sendiri membaca buku pelajaran dengan mulut komat-kamit.

Semasa sekolah, Kasuari yang ada di novel tak dapat tidur karena gangguan televisi yang menyala terus di ruang tengah, itu yang kubaca. Ayahnya sengaja menyalakan televisi dan memasang volume maksimal sepanjang malam begitu sedang mengamuk. Padahal esok adalah hari Senin, hari di mana ia harus ujian sekolah juga. Dan, lebih buruk lagi, Kasuari pun tidak dapat belajar seperti anak-anak lain sebagaimana seharusnya ia mendapat rumah yang tenang dan mumpuni untuknya belajar; Ayah Kasuari justru selalu kumat membanting-banting barang dan membuat keributan.

Lihat selengkapnya