Esoknya suara-suara itu justru lebih riuh membisingkan telinga. Aku mendengar banyak suara yang meneriakkan namaku, hingga kepalaku diserang pilu dan berdengung panjang. Terpaksa aku bangun. Mataku mengerjap-ngerjap. Cukup butuh waktu dua detik untuk menyadari suatu keganjilan yang lebih mengejutkan lagi.
Tiba-tiba aku merasakan dadaku sesak bukan main. Tenggorokanku kering, pun bersarang rasa pahit dengan sensasi terbakar. Aku menyaksikan bagaimana kabut asap putih sudah memenuhi ruang kamar dan memedihkan mata. Dan, entah kapan, aku menyadari mataku meleleh begitu saja, dengan hidung yang juga mencair akibat gelombang termal yang seolah mencakar-cakar kulit muka dan sekujur tubuh. Sebelum leherku dicekik habis, aku panik membangunkan Sinar yang masih terlelap.
“Nar, tangi! Kebakaran! Rumah kita dibakar!” pekikku dengan suara parau yang seolah masih tersangkut di leher.
“Ayo, cepet bangunin Ibu, Nar!”
Mendengar kepanikan terkandung dalam suaraku tak pelak membuat Sinar langsung menegakkan badan. Matanya yang merah mengitari sekitar secara refleks selagi ia berusaha menyeka bekas air liur di ujung bibirnya. Aku bahkan berani bertaruh jika pandangan kami masih sama-sama lamur. Masih terasa laiknya mimpi sewaktu demam menyerang. Kami kemudian lekas melarikan diri dan tergopoh-gopoh menuju kamar Ibu di belakang.
Beruntungnya Ibu sudah melek kala itu, dan di waktu yang sama saat kami datang, ia keluar seakan menyambut penjemputan kami. Ibu pun sepertinya masih berada di ambang batas kesadaran terlihat bagaimana ekspresinya menguarkan pandangan tak percaya. Tanpa menunggu, tanganku lekas menarik Ibu dan menyeretnya keluar bersama. Api meretih di mana-mana, terdengar ganas mengepung kami tatkala kami berusaha menerobosnya. Aku bahkan sudah tak peduli lagi akan barang-barang berharga yang tersumut amukan si jago merah. Aku berlari dengan napas nyaris habis.
Berjuang agar bisa terlepas dari runtuhan bangunan yang dilalap api.
Kami akhirnya berhasil mencapai pintu paling luar meski lenganku sempat disengat api panas. Berada di luar sini rupanya jauh lebih buruk. Aku menatap nanar rumah kami yang hangus dan sudah tak berbentuk lagi sementara api masih meradang hingga puncak atap. Api berkelun-kelun keluar dengan ganas. Asap berpulung-pulung menuju belantara langit.
Secara refleks aku merengkuh Ibu dan adikku, dan kami meratapi nasib ini dengan pandangan yang masih menganggap bahwa semuanya adalah mimpi buruk. Tanpa sadar ingatanku kembali melayang pada suatu peristiwa yang familier kala itu ….
Aku, Ibu, dan Sinar saling erat berpelukan di kamar sumpek ini, kamar yang akhirnya menjadi milikku dan Sinar sekarang. Aku memejamkan mata sambil menangis, jemariku yang bergetar semakin kuat mencengkeram bahu Ibu dan Sinar seolah jika lengah sedikit saja mereka akan menghilang selamanya. Sementara itu Ibu tengah berdoa. Awalnya setiap kata-kata yang terucap dari bibirnya punya ritme yang cepat. Namun, perlahan semakin pelan tatkala isakan mulai mengantarai doa tersebut.
Dadaku kian meluap rasanya. Aku menarik ingus dan menahan sekuat tenaga agar tangis ini tak lolos. Tetapi nyatanya mereka juga sedang menangis. Ibu dan Sinar menangis. Dan, hal itu justru membuatku semakin sesenggukan.
Mengakhiri doa permohonan dengan kata “amin”, kami kemudian sibuk mengenyahkan jejak air mata masing-masing. Sekonyong-konyong Ibu merangkul kami satu per satu. Ia lebih dulu mengecupi wajah Sinar sebelum mendarat kepadaku. Saat mencapai giliranku Ibu berucap lirih sembari tergugu: “Sehat-sehat, Nduk, anakku. Semoga setelah ini Allah memberkahi kalian. Melindungi setiap jalan yang kalian tempuh.”
Sontak tangisku memancar lagi. Kali ini lebih deras, lebih bersuara, lebih jujur. Tak dapat lagi aku menutupi bahwa aku sebenarnya juga menangis bersama mereka. Aku mengeratkan rengkuhanku sekali lagi untuk Ibu, dan sama-sama menangis. Kedua tangan Sinar pun pada akhirnya turut bergabung dan menudungi pelukan kami.