Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #12

Bapak Durhaka

BAB 3


“Orang-orang sering kali menyebut anak yang tak berbakti sebagai anak durhaka. Namun, aku justru menyebut masyarakat itu amnesia. Mereka lupa bahwa ada bapak yang tidak berbakti kepada anaknya, lantas tak disebut sebagai ‘bapak durhaka’ juga?”


“Kenapa kok enggak berangkat kerja? Kenapa di rumah terus?”

“Aku sudah enggak kerja di sana. Keluar.”

“Loh, nyapo kok metu? He? Eman-eman, lo.”

Kasuari memandangnya dengan perasaan sebak luar biasa. Dadanya masih berdenyar tak karuan, dan telinganya pun tetap mendengungkan kalimat terakhir di mana pimpinannya mengucapkan bahwa dirinya terpaksa dirumahkan karena pengurangan karyawan besar-besaran salah satu cabang restoran, tempat di mana ia bekerja untuk pertama kalinya setelah lulus SMA. Tetapi, tak cukupkah ia menjawab “keluar” dari pekerjaannya kepada Supri yang tiba-tiba membuka kamarnya tanpa lebih dulu mengetuk dan melempar sorot penuh rasa penasaran sekaligus penghakiman terhadap jawaban-jawaban yang ia lontarkan? Padahal ia baru saja menangis karena nasibnya yang tak beruntung.

Namun, Supri rupanya tak peka. Matanya yang bulat dan berpelupuk menonjol tetap bertahan untuk menemukan kepuasan dari jawaban anaknya. Apalagi ini adalah zaman sulit. Sudah sejak lama ekonomi keluarga mereka lumpuh. Tiga tahun ini Supri telanjur ketagihan mengandalkan uang yang diberikan Kasuari kepadanya, dari potongan gaji anaknya itu.

Kelengangan yang sudah badung di antara mereka akhirnya membuat kesabaran Kasuari semakin menipis. Suasana hatinya buruk. Ia benci wajah ayahnya yang seolah tak berdosa terus menuntut jawaban, seakan pria itu benar-benar berhak atas alasan Kasuari keluar dari pekerjaannya. Masalahnya selama ini Supri tak pernah menafkahi Kasuari sebagai anak, tak pernah mencukupi kebutuhannya, lebih-lebih memberikan uang saku. Kasuari jamin hal-hal tersebut bahkan tak pernah ada di dalam pikiran ayahnya.

Kasuari juga kesal karena Supri seperti menuntutnya tetap bekerja dan bertahan di sana. Pria itu tak tahu saja bagaimana seluk-beluk serta pengorbanan yang telah Kasuari alami sepanjang bekerja di sana; ketidakadilan, senioritas, jadwal padat yang tidak mengizinkannya untuk istirahat, kepelitan bosnya, lembur, lembur, dan lembur!

Tapi, mana mungkin Supri tahu rasanya, batin Kasuari marah, orang dari muda saja ayahnya itu tak pernah bekerja. Ia tahu dari cerita-cerita ibunya bahwa hidup Suprianto enak dan dimanja. Keluarganya kaya raya sebab dulu kakek buyutnya ialah pemilik pabrik rokok. Meski begitu sekarang nama keluarganya perlahan hilang digerus oleh waktu setelah segala usahanya bangkrut dan berlapis generasi berikutnya tak mengenal perihal famili tersebut. Warisan pun musnah, tak serecehpun jatuh ke tangan Supri oleh karena keserakahan saudara-saudaranya. Satu-satunya yang diwarisi darah keluarga itu adalah “kemalasannya” dalam hal apa pun termasuk mencari nafkah.

Lihat selengkapnya