Sebenarnya aku sudah tak nafsu lagi melanjutkan makan, apalagi pria itu sekarang mula-mula berada di tengah-tengah kami. Tanpa merasa bersalah, tanpa merasa pernah membakar rumah. Suasana di atas meja makan pun jadi tegang. Tiba-tiba saja atmosfer panas menudungi tempat ini. Tetapi, karena aku masih memikirkan perasaan Bulik―takut jika sampai ia kecewa karena aku tidak menghabiskan hasil masakannya―maka aku lekas menyantapnya dengan cepat, dengan lahap seperti seseorang yang tengah kelaparan.
Ibu, Sinar, dan Bulik hanya diam. Termangu atas sikap Bapak yang benar-benar di luar nalar: duduk di salah satu kursi, mencentongkan nasi dan lauk, lalu makan tanpa terganggu. Mereka lantas saling bertukar pandang, suatu transaksi yang cepat dan langsung dapat diterima masing-masing. Raut muka Ibu dan Sinar menggelap, tetapi Bulik justru segera merekahkan senyum dengan otot-otot kaku yang tengah dipaksakan.
“Mas, tambah lagi nasinya. Enggak usah sungkan.” Ucapan Bulik lebih terasa seperti sindiran begitu tiba di telingaku. Entah, mungkin aku saja yang terlalu sensitif sebab rasanya Bapak tak sampai menerima baik pesan itu seratus persen. Bapak malah mengangguk, lantas menambahkan nasi ke piring persis yang dianjurkan Bulik. Baik Bulik maupun Ibu saling bersirobok lagi pandangannya, namun kali ini dengan ujung telunjuk yang bergerak di pelipis masing-masing sebagai kode “gila” yang segera saja dapat kupahami.
Seperti yang lain, aku sudah tidak sabar lagi berada di sini. Begitu Ibu, Sinar, dan disusul Bulik bangkit dan membereskan piring beserta alat makan masing-masing menuju wastafel area dapur, aku lekas mengikuti jejak mereka setelah berhasil menghabiskan tanpa muntah―atau setidaknya tidak tersedak sebab bagaimanapun makanan ini seolah mencekik kerongkongan. Dan, di dapurlah pada akhirnya suara-suara yang sempat dijerat paksa tadi terlontar dengan deras. Ibu dan Bulik berkasak-kusuk, sementara aku dan Sinar―karena lebih muda―menanggung piring dan alat makan bekas mereka. Sebuah peran yang cukup menolong mengingat pembicaraan serius dan mendesak yang segera mereka rajut.
“Gendeng! Wis ora waras bojomu, Mbak!” umpat Bulik pertama kali.
“Rai gedhek, pancen. Maaf lo yo, gara-gara awak dewe numpang, de’e malah melu mrene. Aku asline yo enggak sudi de’e nang kene.”
“Ya, piye eneh, Mbak. Gelem ta diusir? Opo dilaporne polisi?”
Gerakan tanganku terhenti begitu tak menangkap jawaban lagi dari bibir Ibu. Aku melirik wanita yang telah melahirkanku itu, dan menyaksikan hanya embusan napas berat yang menyambut. Seketika rasa dongkol bercokol di dada. Apakah segala kejahatan yang dilakukan pria itu tak cukup untuk membuat Ibu sadar dan cepat menceraikannya saja? Mataku dan mata Sinar tak sengaja bertemu. Oh, seandainya kami tak lahir ke dunia.
Aku―secara sadar―memilih untuk tidak lahir ketimbang berada di tengah-tengah keluarga yang seabsurd ini.
Aku kemudian kembali fokus mencuci piring dan berpindah pada alat lain yang tak disentuh Sinar. Lalu, tanpa sengaja, mata ini tertumbuk pada suatu benda berkilau di rak sendok yang tertempel di dinding. Sebilah pisau daging berada di situ. Tampak mencolok, tampak berkilat, tampak menggoda. Matanya yang indah seolah terus berkedip manja sebagaimana minta dibelai.