Awan-gemawan kelam mulai berarak, perlahan mengusir semburat senja di belantara langit. Toko Sembilan-sembilan sedang berkemas. Sibuk mempersiapkan diri untuk tutup sore ini. Tepat sebelum rolling door ditarik, aku berhasil berlari keluar dan meloloskan diri. Seperti mendadak disengat oleh ingatan, tangan ini segera mengeluarkan ponsel dari kantong tas selempang dan memeriksa kotak direct message di Instagram.
Napas panjang lolos begitu saja dari bibirku usai menelan kekecewaan sebab pesanku rupanya hanya dibaca oleh penulis Heronine Z. Padahal selama ini aku terus menunggu sampai terkadang tak bisa tidur cuma karena menerka-nerka bagaimana si penulis akan membalas pesanku nanti. Namun, rekaan dalam pikiranku itu nyatanya hanya sia-sia belaka.
Bunyi kencang dari rolling door yang tertutup di belakang disusul oleh suara-suara derungan kendaraan bermotor milik teman-teman di sekitarku kemudian. Gerakan mereka tampak terdengar serampangan, buru-buru, seolah ingin segera mencapai rumah. Aku mendesah lirih lagi, lantas menyeret kakiku sedikit menjauh dari mereka dengan mata masih terpaku pada ponsel. Dengan harapan yang merosot, aku kembali melihat-lihat konten di explore Instagram.
“Aku balik sik yo, Rek! Dadah!”
“Balik dulu, Glenn!”
“Ya! Hati-hati yaaa ….”
Sepasang kakiku berhenti mendadak. Mataku membeliak sewaktu tak sengaja menangkap sebuah poster meet and greet penulis di salah satu postingan yang diunggah oleh bookstore terbesar di Indonesia. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Aku lekas membekap bibir sebelum bersorak pelan. Tetapi begitu memeriksa di mana lokasinya, gairahku langsung rontok nyaris tak tersisa.
“Jakarta?” Lagi-lagi aku kecewa. “Kenapa harus di Jakarta?!”
Bersamaan dengan umpatan lirihku yang kesal setengah mati, sosok pria yang berpostur tegap tengah melangkah melewatiku. Perhatianku pun jadi terseret pada pemilik bahu pejal tersebut.
“Glenn!” Aku refleks berseru padanya. Langkahku kemudian lekas mengimbangi langkahnya begitu ia berhenti.
Pria itu menoleh. Matanya tertambat padaku setelah sebelumnya sempat mencari-cari sumber suara. Pasalnya tubuhnya terlalu proporsional, terlalu tinggi untuk seseorang yang berbadan sintal sepertiku.
“Pernah ikut meet and greet penulis atau hmm … artis?” Aku berusaha untuk tak menyinggungnya mengingat sekarang ia sudah pensiun menjadi artis ibu kota.
Glenn mengerutkan hidungnya, lantas menggeleng. Aku refleks membuang napas kasar. “Kenapa?” Ganti Glenn yang tampak mengejar. Apakah ia tahu jika aku sedang kecewa? Aku berusaha mengendalikan mimik wajahku. “Enggak apa-apa, sih. Siapa tahu kamu pernah, jadi aku bisa tanya-tanya sama kamu soal acara itu.”
“Tapi aku punya temen yang pernah datang ke acara sejenis itu, kok.” Kini ia terlihat seperti buru-buru menyahut.
“Kalau begitu, aku minta kontak temenmu. Buat kutanyai nanti.”
“Kamu bisa tanya ke aku saja.”
Kini ganti aku yang melipat dahi. “Sebenarnya aku pengen pergi ke Jakarta, Glenn. Dan aku butuh temanmu.” Aku terpaksa jujur kepadanya agar ia tak berbelit-belit lagi.
“Aku bisa menemanimu ke sana malah.”
Kali ini kesabaranku sudah habis. Untuk sedetik aku menyesali perbuatanku yang harus bertanya padanya. Ya, sebenarnya aku berpikir, mungkin saja ia dapat membantuku mengingat ia adalah artis cilik, dulu. Bagaimanapun ia pasti lebih berpengalaman mengenai lika-liku kota metropolitan itu.
“Perempuan jangan pergi ke Jakarta sendiri, Ri. Bahaya.”
Aku terperangah atas ucapan yang menguap dari bibirnya. Untukku, perempuan yang jarang keluar rumah―apalagi ke luar kota―tawaran Glenn layaknya udara segar yang membawa banyak oksigen. Seumur hidup aku hanya pernah mengunjungi kampung halaman kedua orangtuaku di Tulungagung. Itu pun terakhir kali kulakukan sudah belasan tahun lalu. Jakarta yang gagah, besar, dan asing tentu saja jauh berbeda.