Setiap manusia diciptakan dengan sinarnya sendiri, dengan senyum yang berbeda antara satu sama lain. Dari jumlah manusia yang tak terhingga di bumi ini, hanya ada satu yang membuat mereka sama, yaitu kekosongan. Ketika bayi baru saja lolos dari rahim ibunya, ia akan menangisi rasa kosong yang akan dihadapi nanti, entah mulai kapan ia menyadarinya. Atau lebih tepatnya kapan ia menemukan sendiri “kekosongan” itu. Aku sendiri menerka-nerka bahwa rasa kosong memang diciptakan guna menggenapi kesempurnaan pada manusia; bukankah ciptaan Tuhan paling sempurna adalah manusia?
Mataku menerawang terlampau jauh hingga menembus pemandangan yang ada di luar balkon. Langit senja lumayan cerah dengan semburat oranye, beberapa burung tampak melayang-layang dalam kelompok kecilnya yang hanya terdiri atas tiga sampai lima ekor. Aku mengembuskan napas panjang. Rasa kosong itu tiba-tiba kembali menjalariku. Padahal aku sudah sejauh ini pergi dari rumah, tapi mengapa dalam mengadaptasi hal-hal yang baru pun aku tetap merasakan kosong?
Tanpa sadar kedua tanganku saling berpilin. Aku masih duduk terpekur di atas ranjang berukuran 160x200 sentimeter dengan gelisah. Sementara itu bunyi samar gemericik air ada di balik dinding di belakang tubuhku.
“Apa rasanya seperti kau ingin mati?”
Aku terperanjat begitu mendengar bisikan itu. Lagi-lagi dari suara yang banyak jumlahnya. Suara yang amat tak asing kembali menyerangku bahkan ketika aku berada di 782 kilometer jauhnya dari tempat tinggalku. Aku menoleh ke sisi kanan dan kiri, hendak menemukan sosok pemilik suara tersebut dan meremukkan kepalanya. Tetapi, percuma, setiap aku berusaha mendapatkan dari mana asal-muasal suara itu jawabannya selalu sama. Suara itu sangat dekat di telinga ini, bahkan aku sangat mengenali suaranya seperti aku mengenali suaraku.
Terkadang aku malah berpikir: apakah suara-suara tersebut sebenarnya berasal dari diriku sendiri?
Awalnya aku cukup depresi mendengar riuhnya suara-suara itu. Aku harus bertanya ke Sinar maupun Ibu, atau teman sebangkuku sewaktu masih sekolah mengenai suara tersebut. Namun, tak ada yang benar-benar menyahut dengan tepat. Kebanyakan hanya berucap tidak tahu, tidak dengar, atau “ah, mungkin halusinasimu sendiri.” Tapi, aku yakin mendengarnya meski tak ada yang pernah sadar akan suara-suara yang timbul tenggelam itu. Terkadang telingaku menangkapnya ada di sekitar rumah. Kadang di sekolah di saat-saat tertentu. Atau di tempat kerja walaupun sangat jarang muncul. Saking depresinya aku pernah sampai tak tidur selama tiga hari.
Lantas di ujung barat laut pulau Jawa ini aku kembali mendengarnya. Suara si brengsek itu.
“Ri, sekarang kamu sudah bisa pakai kamar mandinya.”
Mendadak sekarang suara pria yang berkelindan di telinga. Aku semakin gelisah karena kali ini mendapati suara-suara yang lebih banyak dari semestinya. Tubuhku menegang beberapa saat.
“Ri, kamu dengar aku? Kamar mandinya sudah kosong.”