Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #16

Bagaimana Jika Kita adalah Tokoh-tokoh Fiksi?

Kursi-kursi sudah terisi oleh banyak wajah. Banner raksasa membentang di belakang panggung, persis di belakang sebuah meja dan kursi yang dilengkapi oleh mikrofon. Apabila banner acara sejenis ini bakal disuguhkan foto penulisnya, maka acara “Meet & Greet bersama Heronine Z” justru hanya menampangkan siluet sosok bayangan abu-abu seseorang yang mengenakan topi dan diberi tanda tanya besar dengan warna kuning gading di tengah-tengahnya. Aku bahkan tak dapat menebak dari gambar tersebut apakah Heronine Z ini perempuan atau laki-laki. Namun, aku menemukan sesuatu yang tak kalah aneh.

Sudah terhitung beberapa menit sejak kami berada di tempat. Mataku lantas mencuri ke arah jam dinding yang letaknya tepat di dinding sebelah kanan. Jarum jam panjang kini telah merapat di angka sepuluh, dengan kelebihan tiga puluh menit pada jarum pendek. Aku mengernyit bingung. Mendadak kecemasan muncul ke permukaan. Apakah bisa acara meet and greet telat tiga puluh menit dari jadwal?

Orang-orang di sekitarku tampaknya sudah jemu. Mereka yang awalnya dihiasi tampang antusias jadi menyibukkan diri sendiri; ada yang mengipas-ngipas novelnya secara tak sabar, ada yang sibuk bermain gawai sementara posisi duduknya sudah tidak setegak tadi, ada yang menjentik-jentikkan bolpoinnya sampai timbul bunyi “tik-tik-tik”. Bahkan ada pula yang mulai berkasak-kusuk dengan raut muka kusut.

Aku menoleh ke sana kemari menunggu suatu keajaiban tiba-tiba muncul. Rupanya doaku dikabulkan. Keajaiban muncul dengan seorang pria muda yang mendadak berlari ke atas podium. Mataku jadi tersengat oleh sesuatu seperti listrik bertegangan rendah, hingga membuatku tetap terpaku pada orang itu sampai detail kecil gerak-geriknya. Oh, apakah dia ….

“Halo, selamat pagi semua. Mohon maaf telah membuat kalian menunggu―”

Aku menegakkan badan. Jantungku berdegup kencang, dan sebuah gairah menjalariku selama memperhatikan pria itu berbicara. Ada ketidaksabaran yang menerjangku selagi menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.

“―saya mewakili seluruh panitia penyelenggara mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Penulis Heronine Z yang akan menjadi bintang tamu kita kali ini mendadak berhalangan untuk hadir. Jadi―”

Sekonyong-konyong telingaku berdenging tak karuan. Pandanganku mengabur oleh setitik bara yang disulut api. Mataku melebar dan mulutku terbuka kaku, seperti pekikan yang dilakukan oleh orang-orang yang hadir di sini. Jadi, dia bukan Heronine Z? Heronine Z tidak bisa datang? Jauh-jauh aku datang dari Surabaya, sampai harus izin libur dua hari, dan menghabiskan hampir seluruh tabunganku, tetapi Heronine Z absen dari acaranya sendiri?!

Pada detik ini aku marah besar. Aku merasakan sekujur tubuhku dirambati oleh gelombang termal yang lekas menyingkirkan akal sehat. Secara refleks aku menoleh ke arah Glenn yang duduk di sampingku, dan mata kami saling bertatapan dengan wujud keterkejutan sekaligus rasa kecewa yang tak terukur. Namun, aku menyadari sorot mata Glenn bukanlah kecewa seperti yang aku rasakan sekarang. Pandangannya tampak nanar. Mungkin, ia sedang mengasihaniku.

Dengan napas memburu aku menghampiri seorang perempuan yang mengenakan hijab putih di salah satu meja dekat pintu masuk tadi. Glenn terdengar menyusul dengan derap langkahnya yang setengah berlari. Telingaku bahkan mengabaikan embusan napas panjang dari sebagian besar orang-orang, atau keributan kecil lainnya. “Mbak, saya harus ketemu dengan Heronine Z hari ini juga!” tandasku pada perempuan yang sedang duduk di meja.

Perempuan itu mengangkat wajahnya. Terlihat sekali ia tengah diserang kepanikan. Tetapi aku juga menyaksikan seulas senyum yang berusaha ia kerahkan ketika menghadapiku. Ia bahkan langsung berdiri. “Maaf ya, Mbak. Kami benar-benar minta maaf atas acara yang tidak sesuai rencana ini. Tapi, Heronine Z tidak bisa hadir karena ada halangan mendadak. Kami janji akan mengganti kerugian Kakak, kok. Kami akan refund tiket Kakak atau menyelenggarakan ulang acara meet and greet dalam waktu dekat ini. Sekali lagi kami mohon―”

“Di mana rumahnya kalau gitu?”

Lihat selengkapnya