Aku cukup beruntung mendapati Glenn hari ini tidak masuk kerja. Masalahnya semalam aku meneruskan membaca bab yang menceritakan perihal Glenn dan keluarganya karena rasa penasaranku tak bisa kutekan lagi. Jadilah situasi mencekam dan atmosfer gelap pada tahun 1998 kembali menggelayuti benakku. Meski belum percaya seratus persen pada kisah fiksi tersebut, aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau Glenn benar mengalami itu semua. Terpaksa pergi dari rumah, terpaksa melihat keluarganya hancur, semua kerabatnya dibabat habis. Apa saja yang ia miliki pun raib tanpa sisa direnggut oleh amukan massa.
Jika Glenn mengalami itu semua, apakah ia juga termasuk tokoh fiksi? Bagaimanapun semua jawaban dari berbagai pertanyaan yang berkelindan bersumber pada satu orang dan hanya dapat dijawab oleh orang itu sendiri: pemilik nama pena Heronine Z.
Kak, kenapa enggak hadir pas acara meet and greet kemarin? Padahal saya pengen banget ketemu Kakak. Jauh-jauh datang dari Surabaya, jujur saya kecewa.
Pandanganku jatuh pada ponsel yang diam-diam kuselipkan di antara rak displai bumbu. Aku membaca ulang sebuah pesan yang aku kirim lagi kepada Heronine Z semalam ketika sudah mencapai rumah Bulik. Rasa nyaris putus asa pasalnya telah meredupkan sebagian harapanku. Mataku kemudian bergeser ke arah kulit tangan. Mula-mula aku mendapatkan suatu ide untuk mencubitnya.
“Aduh!” lirihku begitu merasakan kesakitan.
Aku lantas mendongak dan mengawasi seluruh toko karena ketakutan setengah mati jika ada yang mengendus sikap konyol nan tak wajar yang sudah kulakukan. Eka sedang sibuk memasukkan barang-barang belanja seorang pelanggan. Pak Aldi turut membantu di meja kasir dan berleleran keringat tatkala uang kembalian untuk pembeli belum tergenapi. Arek-arek lain pun tampaknya juga tidak ada yang menganggur. Aman. Sejauh mata memandang orang-orang sedang berkutat pada kesibukan mereka masing-masing.
Aku lekas menggosok tanganku dan mengaduh sekali lagi. Aku menyadari bahwa diriku seratus persen manusia, bukan sejenis roh, replika, arca, sculpture, atau apa pun itu. Masa aku cuma tokoh fiksi di karya orang lain? Kekehan pelan lantas lolos saja dari mulutku tanpa bisa kucegah.
Semua ini gila!
Napasku tercekat dan tawa di bibirku surut ketika ingatanku mendadak menyambar perempuan bertopi kemarin saat sedang berada di kereta. Aku berani bersumpah jika ia sempat memanggil namaku. Ka-su-a-ri. Terpampang jelas dari gerakan mulutnya. Tetapi sewaktu kutanya, “Apa? Apa Mbak kenal saya?”, ia hanya menggeleng cepat.
“Eh, enggak. Maaf kita enggak kenal. Tapi, terima kasih ya udah nolong aku.”
“Tapi, kayaknya Mbak tadi manggil nama saya,” kukuhku.
“Namamu? Mm, bukan, kok. Aku cuma baca judul novelmu yang itu.”
Aku memutar kepala ke belakang, tepatnya ke arah yang ditunjuk perempuan tersebut. Tepatnya ke arah kursi kosong yang ada di sebelah kursiku. Novel Kasuari memang tergeletak pasrah di sana. Lebih tepatnya teronggok di atas tas selempang putih.
Aku buru-buru menelan ludah selagi mengingatnya. Semenjak kejadian itu, wajah perempuan yang sebagian tertutupi masker hitam tersebut jadi melekat keras di atas pelupuk mataku bagai bocah badung. Semalam, sebelum tidur, aku berusaha mengingatnya meski amat terganggu dengan suara-suara berisik di sekitar. Lalu, aku malah memercayai salah satu suara dari sekian banyak suara tersebut. Ia berkata bahwa kami memang pernah bertemu sebelum ini, terhitung sebagai kesialan ketiga hari itu.
Dengung singkat yang timbul mendadak dari ponsel berhasil melamurkan lamunanku. Aku terjingkat, lantas segera mencoba memeriksa notifikasi tersebut dengan melihat layarnya dari jarak aman agar tidak ketahuan. Tak puas, aku sedikit memajukan kepala, membacanya sekali lagi untuk memastikannya.
Ri, aku enggak sengaja ada urusan di sekitar toko. Keluarlah sebentar, kebetulan aku kelebihan nasi bungkus.
Keningku berkerut dalam usai membaca pesan singkat dari Glenn. Padahal aku lebih takut jika hari ini ia berada di sekitar sini. Sekali lagi, bukan masalah percaya atau tidak, tetapi semalam aku sudah membaca bab novel yang menceritakan hari ini, bagian sekarang. Dan, layaknya baru saja tahu perihal ramalan, aku tidak ingin jika apa yang kubaca itu malah terjadi sungguhan.
Namun, aku tak punya pilihan selain cepat-cepat keluar toko dan menemui Glenn sebelum ketahuan Pak Aldi, atau lebih parah lagi: Eka. Aku juga bakal mengusirnya dan memperingatkannya untuk tidak berkeliaran di sekitar toko. Ya, sepertinya aku harus bertindak seperti pemikiranku. Aku menyeret kaki persis seperti yang sudah aku petakan di dalam kepala. Sebelum keluar aku menyempatkan diri dulu menemui Pak Aldi di meja kasir. “Pak, saya izin keluar sebentar, ya. Mau ketemu kurir yang antar makanan saya.” Tanpa rencana pun, aku terbiasa berdusta karena sering kali tidak diberi pilihan.