Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #18

Bersinar Seperti Orang Terbakar

Darah panas menyembur mengenai wajahku, lantai, dan dinding. Aku memejamkan mata sejenak, menyeka cairan merah segar dari wajah, lalu perlahan membuka mata kembali. Seharusnya aku melepaskan sosok itu ketika ia sudah menjadi onggokan yang layu di lantai. Tetapi, anehnya gairahku justru semakin meluap-luap. Tanpa mengacuhkan genangan darah yang mulai mengalir dan berpusar di bawah kakiku, aku menyergap kembali tubuh Bapak yang menggelinjang seperti ayam yang baru dipotong.

Parang dengan mata yang sudah berleleran darah tercampak ke lantai hingga menimbulkan denting suara yang melengking di telinga. Aku sedikit kewalahan mencengkeram lengan Bapak. Sebelah tanganku yang kosong lantas melesat memukuli wajahnya yang terkulai pasrah meski sebagian tubuhnya masih berdetak dan kejang-kejang. Satu pukulan keras mendarat untuk sikap tidak tanggung jawabnya kepada keluarga, terutama terhadap Ibu yang dinikahinya. Pukulan kedua berbicara atas segala tindak kejahatan yang ia lakukan terhadap keluarganya sendiri; selain tidak memberi nafkah, ia membenci keluarganya sendiri, bahkan sampai tega mengobral cerita yang membalikkan posisinya menjadi korban, menjelek-jelekkan istri dan anak-anaknya, selalu membuat masalah ketika kehidupan mulai berjalan tenang. Pukulan ketiga untuk penderitaanku yang ia timbulkan, juga akar kepahitan yang selalu disuburkan olehnya.

Selagi aku memukulinya, aku berandai-andai dalam benak. Seandainya bapakku bukan dia, mungkin aku bisa melanjutkan kuliah, mendapat pekerjaan yang lebih layak, seperti apa yang anak-anak lainnya nikmati. Seandainya bapakku bukan dia, mungkin aku bisa menabung untuk diri sendiri, fokus pada hidupku sendiri, bisa melakukan hal yang menyenangkan laiknya teman-teman sepantaranku, bisa mengecup kebahagiaan; meromantisasi kehidupan. Seandainya bapakku bukan dia, aku pasti tidak akan menjadi pembunuh seperti sekarang ini. Memikirkannya saja membuat degup jantungku lebih menggila lagi. Pukulan berikutnya sudah tak terhitung jumlahnya; aku melampiaskan seluruh emosi yang selama ini tertimbun dalam-dalam seperti orang kerasukan setan.

Tulang-tulang yang terbalut kulit keriput terdengar berkeretak di telinga. Dari bibirku pelan-pelan terkembang senyum puas. Akhirnya ia mati juga. Akhirnya tidak ada lagi drama atau rasa tertekan seperti sewaktu ia hidup. Akhirnya aku bebas. Akhirnya aku bisa terbang. Akhirnya aku menjadi burung cantik yang bisa terbang tinggi! Alunan musik penuh hentakan pun samar-samar tertangkap indra pendengar. Semakin lama semakin cepat ritmenya sebagaimana bunyi barisan sepatu militer yang berlatih untuk perang.

“Heh, malah ngguya-ngguyu dewe! Ngalih!

Musik tiba-tiba berhenti. Hening berdenging di telinga. Sentakan itu lantas menyadarkanku bahwa ia masih hidup. Senyumku surut. Adegan-adegan kemenangan barusan rupanya hanya berputar di khayalanku belaka. Tanganku bahkan masih mencengkeram parang yang tersembunyi di balik badan.

“Kenapa malah diam saja? Bunuh dia sekarang! Bunuh seperti yang kamu pikirkan tadi!”

Suara menyalak yang haus darah menggantikan kelengangan yang mencekam. Baru kali ini aku berhadapan langsung dengan Bapak dan menatap wajahnya. Wajah itu adalah wajah yang amat kubenci, wajah yang amat kuhindari. Menatapnya seperti ini jelas dapat dimengerti kenapa sudah sejak lama aku lebih memilih memalingkan pandang ke objek lain tiap kali ia mengajakku berbicara. Wajah tuanya merupakan ironi dari kebejatan seorang ayah sekaligus penjara besi bagi anaknya.

Alih-alih menjawab, aku mengeluarkan parang dan mengacungkannya tepat ke arah leher pria tua itu. Bapak seketika berjengit mundur dan tampak waspada. Matanya mendelik menatap parang yang tiba-tiba kuarahkan padanya lalu bergeser kepadaku. “Anak edan! Kon wani a mateni bapakmu dewe?!” murkanya. Suaranya serak, dan matanya jelalatan seperti tengah mencari sesuatu.

“Kenapa enggak? Bapak lebih dulu membunuh hidup anak-anakmu sendiri!”

“Durhaka kon iku! Ngalih! Kon bakal dipenjara!”

Percuma ngomong sama bapakmu. Bapakmu itu setan! Iblis jajelanat penghuni neraka! Akalnya sudah putus! Bapakmu gila dan tidak bisa diajak ngomong lagi! Kata-kata dari suara itu meresap dalam kepala. Selama ini Bapak memang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi; sisi egois dan rasa benci pada keluarganya telah membuatnya tuli dan tidak peduli. Tetapi kemudian pria itu mendadak meraih raket nyamuk di dekatnya dan menepis parangku. Ia malah berusaha untuk balik menyerang.

Tanganku yang memegang parang pun jadi bergerak senewengan demi menghindari pukulannya tersebut. Sementara itu, suara-suara berisik masih memekakkan telinga ini. Mati! Mati! Siapa yang bakal mati lebih dulu? Aku mendorong raket menggunakan parang. Namun Bapak masih gigih melawan dengan mata nyalang. Bunuh dia! Jantungku berpacu. Bunuh bapakmu sendiri! Sekarang! Aku membayangkan adegan tadi di mana aku puas memukulinya. Menyaksikan mayat Bapak teronggok tidak berguna seperti hidupnya selama ini.

Ayo, bunuh benalu tua itu! Dia sudah bau!

Sesuatu yang mendesak sontak menggerakkan tanganku dan menebas sebelah kaki Bapak demi melumpuhkannya. Bapak terkejut, lantas mengaduh. Darah mengalir dari kakinya yang kurus kering. “Goblok! Bocah goblok!” raungnya. Aku termangu cukup lama untuk dapat meresapi apa yang baru saja kulakukan. Tubuhku bergetar hebat, dan tanganku menjatuhkan parang. Tetapi, tanpa kuduga tangannya mendaratkan pukulan raket mengenai kepalaku dengan kencang. Seketika tumpuan kakiku goyah. Mataku berkunang-kunang dan segalanya menjadi gelap.

***

“Dia di mana?”

Lihat selengkapnya