Kasuari

Bella Paring Gusti
Chapter #19

Berkawan dengan Pembunuh

Hari Minggu adalah waktu yang paling tepat untuk aku dan Glenn beranjangsana ke rumah penulis; toko tutup, kami libur, tidak ada alasan absen yang harus dikaji mendalam, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Wajahku tertampar sepoi-sepoi angin yang memuat panas dari terik matahari yang meranggaskan Surabaya. Lanskap jalan raya dan gedung-gedung tinggi terkadang bertumpang-tindih dengan bayangan Glenn yang mengatakan suatu alasan kenapa ia tiba-tiba bersikukuh untuk bertemu Heronine Z.

“Aku juga pengen bertanya kepadanya, Ri. Sejauh mana dia tahu soal hidupku,” paparnya menggebu-nggebu. Aku pun teringat bagaimana mukaku langsung pasi. Masalahnya baru kali ini aku melihat emosi Glenn membuncah. Ada bagian diriku yang diam-diam menggigil ketakutan.

“Ri, ini benar belok kiri, kan?” Pertanyaan Glenn membuatku tersentak dari lamunan. Glenn yang tengah memboncengku beberapa kali menoleh ke belakang selagi ia menyetir motor. Aku berusaha fokus kembali, memeriksa dan mengenali sepanjang jalan yang sedang kami lalui. Jalan ini masih banyak lahan kosong di sisi kiri-kanan. Tulisan nama jalan yang ada di persimpangan kemudian menjawab pertanyaan kami.

“Bener seh. Coba belok aja, Glenn.”

Glenn membelokkan setirnya ke kiri seperti apa kataku. Kami harus beriringan dengan banyak mobil dan motor lain sebelum akhirnya terpampang sebuah rumah sederhana yang didominasi oleh warna hijau di kanan jalan. Rumah ini terkesan menyendiri dengan diapit ladang kosong yang banyak ditumbuhi pohon pisang. Mesin motor Glenn masih berderung, tetapi ia bergeming alih-alih langsung menyeberang ke sana. “Ri, kamu yakin ini rumahnya?” Suaranya meragu.

Kepalaku manggut-manggut begitu saja usai memeriksa hanya ini rumah pertama yang kami temui di sepanjang jalan bernama Made Raya. “Harusnya, sih, benar ini ya. Kecuali kalau dia mau nipu kita.”

Aku tak mendengar suara Glenn lagi setelah itu. Mungkin ia sedang menimbang-nimbang barang sebentar. Setelahnya Glenn mengarahkan motornya pelan ke rumah itu. Menyeberangi jalan selebar sepuluh meter dan memasuki area halaman si rumah hijau. Aku lekas turun dari motor dan melepas helm sebelum mesin benar-benar berhenti. Mataku terpaku lurus pada rumah tersebut. Aku menyaksikan rumah yang sedikit tak terurus: sebagian cat dinding mengelupas, jendela tampak ditutup, dan tak ada satu tanaman pun di sini.

Masih adakah yang menghuni rumah ini?

Terdengar mesin motor sudah mati dan suara helm yang diletakkan. Glenn berdiri di sampingku. Bergabung dan ikut mengamati bagaimana rumah ini bernapas. Ia tampak lebih sunyi dibanding rumah pada umumnya di tengah-tengah keriuhan Surabaya. Mungkin Glenn pun bertanya-tanya dalam hati. Tak lama bunyi pintu yang terbuka menyentak kelengangan di antara kami. Suatu kebetulan yang manis, sosok perempuan dengan rambut sebahu dan mengenakan topi hitam keluar dari sana dan buru-buru hendak mengunci pintu kembali. Tetapi, mendadak tubuhnya menegang, dan karena mungkin saja menyadari sesuatu, ia segera menoleh ke arah kami.

Perempuan itu terdiam dan memandangi kami lamat-lamat. Hal yang sama juga aku lakukan. Aku tersentak begitu mengenali wajah yang sebagian tertutupi masker tersebut. Setelah berhasil memeras ingatan, aku baru saja menyadari bahwa sudah terhitung dua kali pertemuanku dengannya. Pertama, kami bertemu di minimarket. Orang yang sama yang telah menabrak bahu sekaligus menumpahkan air minumku. Pertemuan kedua adalah pertemuan yang paling kuingat sebab hanya berselang beberapa hari lalu; kami bertemu di kereta karena kami jugalah yang menolongnya saat ia terjatuh di dekat kursi kami. Selanjutnya pertanyaan lain yang muncul justru lebih menggelitiki otakku: bagaimana aku bisa merasa familier sejak pertemuan pertama kala itu?

Kurasa Glenn juga melakukan hal yang sama denganku. Pria itu masih membisu sementara kami saling mengamati satu sama lain, hingga satu pertanyaan timbul dari mulutnya, “Kupikir selama ini Heronine Z itu laki-laki.” Ia menyampaikan dengan kegelisahan yang dapat kutangkap mentah-mentah. Ya, awalnya aku juga berpikir demikian. Bukan, aku bahkan tidak mau repot-repot menebak-nebak usai memeriksa akun Instagramnya.

“Kamu Kasuari?” Mula-mula perempuan itu menudingku. Tenggorokanku secara mendadak tersumpal oleh sesuatu yang lebih mirip benda padat. Aku mengangguk dengan enggan. Bagaimana ia bisa tahu? Tiba-tiba aku jadi yakin kalau namaku yang ia sebut sewaktu kami bertemu di kereta bukanlah ketidaksengajaan. “Dan … apakah kamu Glenn?” Perempuan itu kembali bersuara, kali ini lebih percaya diri.

Tatapanku lantas beralih ke arah Glenn. Glenn tampak seperti orang linglung yang baru kena sidak. Alih-alih menjawab benar atau tidaknya, ia malah melipat dahi. “Kok kamu tahu?” Dari nadanya lebih menyerupai protes dibanding bertanya. Di sana, Heronine Z hanya berdiri sembari geleng-geleng kepala. “Masa aku enggak mengenali dengan baik tokohku sendiri?” Ia terkekeh. Tangannya lalu buru-buru membuka pintu kembali. “Ayo, masuklah dulu.”

Kalimat sederhana itu mendadak menyerang saraf otakku. Mengejutkannya hingga dunia yang kupijak sekarang seolah berputar cepat. Susunan kata tersebut deras terngiang-ngiang dalam kepala. Masa aku enggak mengenal dengan baik tokohku sendiri? Itu berarti … berarti … apakah benar aku adalah tokoh ciptaan orang lain? Aku iptaan orang ini? Mataku masih menatap kosong ke arah punggung perempuan itu yang mulai menyelinap ke dalam dengan langkah terpincang-pincang.

Tiba-tiba sikutku dijawil oleh Glenn. “Kita masuk dulu, Ri, daripada cuma bengong di sini. Minimal kita cari tahu dulu di dalam,” usulnya, yang langsung dapat kuterima dengan akal sehatku. Barangkali kami memang menemukan penjelasan di dalam sana.

Dengan enggan kami melangkah masuk. Tepat ketika kaki ini mulai menginjak area ruang tamu, udara dingin menyeruak dan merayap pelan di belakang leherku. Sekujur tubuhku meremang. Aku mencuri pandang sekilas ke arah Glenn, berusaha menyembunyikan perasaan ini. Bagaimanapun di dalam suasananya jauh terasa lebih sunyi. Hanya terdapat satu set meja dan kursi tamu kayu berdebu di ruang tamunya, seakan mengingatkan jika tidak pernah ada orang yang bertamu sebelumnya.

Heronine Z pun sepertinya tak berkenan untuk menghidupkan rumahnya dengan pernak-pernik pajangan, foto, atau apa pun kecuali sebuah kalender dinding yang sudah terlihat kekuningan wajahnya.

“Tunggu sebentar, ya. Aku buatkan teh dulu buat kalian.”

Perhatianku teralihkan kepada Heronine Z yang sibuk melepas topi dan maskernya. Seketika mulutku ternganga lebar. Apakah hanya perasaanku saja jika perempuan itu mirip denganku? Dari rambut ikalnya yang dipotong sebahu, bentuk mata, hidung, dan mulut, lalu badannya yang gempal … aku berani bersumpah kalau satu-satunya yang berbeda hanyalah kulitnya yang dua tingkat lebih terang dariku. Kulitnya pucat, seperti seseorang yang tak pernah tersentuh matahari tropis. Iri hati jadi menyelimuti hati ini, karena kalau dilihat-lihat aku pasti bakal cantik juga memiliki kulit putih seperti itu.

Lihat selengkapnya