Suara jangkrik berderik-derik di tengah malam yang sunyi. Konon, suara jangkrik bukanlah berasal dari mulutnya sendiri, namun gesekan antar sayapnya. Aku selalu memercayai bahwa tindakan diam yang aku lakukan di bawah penindasan sikap Bapak selama ini barangkali akan menuai sesuatu yang baik di kemudian hari. Perbuatan Bapak yang menyebalkan dan penuh manipulasi pun niscaya bakal memperoleh pembalasan sendiri walau aku hanya diam tanpa membalas, tanpa mengoreksi, tanpa meminta pembelaan orang lain.
Seperti jangkrik tadi, ia dikenali sebagai jangkrik bukan karena jangkrik itu berbicara banyak ke orang-orang bahwa dirinya jangkrik. Jangkrik dikenali lewat gesekan sayapnya yang berbunyi krik-krik-krik. Dan, aku masih percaya jika lewat tindak-tandukku ini suatu saat nanti akan membuktikan kalau aku tidak bersalah sebagaimana inti curhat murahan yang dilakukan oleh Bapak ke semua orang yang mengatakan bahwa aku adalah anak yang tidak baik, anak bengal, anak durhaka, serta anak yang tidak menghormatinya. Sampai akhirnya kekecewaan menghantamku hari ini. Pertemuanku dengan Heronine Z membuktikan aku hanyalah salah satu tokoh fiksi. Dan, tokoh fiksi tidak seharusnya berharap mengenai musim penuaian dan pembalasan sebab hidupnya sudah dijalankan oleh ketikan tangan penulis sesuai kehendaknya.
Aku termenung di meja yang Bulik sediakan untuk tempat belajar Sinar. Kepalaku pening, aku tidak bisa tidur. Kekesalan masih terbit sementara aku teringat betul bagaimana ekspresi wajahnya tatkala merespons permintaanku membunuh Bapak. Perempuan itu benar-benar sekeras mukanya. Aku meraih cermin kecil di atas meja dan mengamati wajahku sendiri. Sebuat pertanyaan jadi terbit di kepalaku. Apakah wajah dan tubuhku ini juga garapan Heronine Z? Kalau begitu, apa betul ia terinspirasi dari muka dan tubuhnya sendiri dalam membentukku sebagai karakternya?
“Kau masih beranggapan kau ini tokoh fiksi ciptaannya, ya? Hahaha ….”
Aku tersentak dari kerumitan pikiranku dan lekas menggeleng. Ya, aku tidak percaya, sebelum nanti aku membuktikan sendiri bahwa tanganku bisa melenyapkan nyawa Bapak. “Kenapa tidak coba menjatuhkan penulis itu saja? Kalau kau berhasil membuat citranya buruk di mata pembaca atau dunia kepenulisan, berarti kau bukan sekadar tokoh fiksi.” Sebuah suara menawarkan ide. Seketika aku menautkan alis-alisku. Apa yang harus kulakukan untuk dapat menjatuhkan si Heronine Z itu? Aku mulai gelisah sehingga tanpa sadar jari-jemari ini bergerak-gerak cepat.
“Cari semua karya-karyanya, baca sampai menemukan kesalahan apa pun itu, viralkan di media sosial, dan BUM! Heronine Z tidak akan berkutik lagi lewat cara ini!”
Tanpa pikir panjang, aku menuruti suara tersebut. Aku meraih gawaiku yang sebelumnya tergeletak dingin di atas meja. Begitu menggeser layarnya, mataku menemukan sederet pesan dari Glenn yang menanyakan kabarku. Tanganku bergerak otomatis, mengabaikan pesan-pesan itu; urusanku dengan Glenn dan novel keparat itu sudah berakhir.
Langkah pertama, aku membuka mesin pencarian Google dan mengetikkan nama Heronine Z. Semua sumber yang membicarakan tentang Heronine Z pun muncul ke permukaan. Kebanyakan memuat review para pembaca mengenai novel Kasuari, kelas-kelas atau acara seminar bedah buku yang diisi Heronine Z, serta sejumlah marketplace yang menjual novelnya. Butuh menyelam lebih dalam hingga aku menemukan karya-karya Heronine Z lain yang tak begitu populer.
Mataku melacak cepat beberapa judul yang tertangkap indra: Under Father’s Shadow, Acakadul, Pada Hewan Buas Mengalir Darahku, Makam di Ruang Keluarga, Bapak dan Semua yang Kami Kubur, Kami Belajar Membunuh dari Rumah.
Aku mengerjap cepat usai melafalkan judul-judul itu. Apakah Heronine Z ini terbiasa menulis genre thriller? Rasa penasaranku lantas bertindak cepat dengan membaca semua karyanya dalam satu malam. Tidak sampai tamat, tentu saja. Namun, dari kekuatan berlarik-larik diksi yang sudah kubaca dan tersimpulkan dalam otak, aku dapat mendeteksi bahwa karya Heronine Z sebanyak delapan puluh persen berbicara mengenai ayah yang keji, trauma, keluarga yang berantakan, serta pembunuhan untuk seorang ayah.
Telingaku berdengung seketika. Aku menggeleng cepat oleh karena dugaan yang tiba-tiba saja tercetus dalam benak ini. Apakah ia mengisahkan tentang hidupnya sendiri? Atau hanya karangan nafsu dan emosi terpendam yang ia lampiaskan ke dalam tulisan? Kalau dipikir-pikir ia menciptakan perawakanku mirip dirinya juga. Dan, ketika kutelusuri pikiranku lebih dalam, memangnya apa lagi yang membuat perempuan itu tinggal sendiri di rumah tak terurus dan mengisolasi diri di tengah hiruk-pikuk Surabaya?
Sebuah suara pintu yang dicongkel mendadak merasuki telinga. Aku langsung menegakkan badan dan memasang indraku. Suara langkah kaki yang diseret-seret membuat darahku berdesir. Sekujur tubuhku meremang. Aku jelas mencium baunya lagi. Aku tahu suara jejak langkah siapa itu, bahkan sebelum sofa di ruang tamu ditarik kasar hingga menimbulkan deritan kencang.
“Anjing!” Aku memaki tanpa sadar. “Kok malah balik rumah!”