Tahu-tahu kakiku sudah berdiri di depan warung bakso Malang yang tak pernah surut pengunjung. Mataku menyelisik mengamati setiap meja sebelum merangsek masuk. Sebagian besar iras mereka riang karena melahap bakso, sedang sebagiannya lagi tengah tertekuk tak sabar menunggu hidangannya datang. Mungkin karena ular-ular yang bersemayam di dalam perut mereka kian rewel. Kian buas.
Kebanyakan dari mereka adalah keluarga, kurasa, sebab aku sempat mengabsen ada ayah, ibu, dan anak walau jumlahnya tidak selalu sama. Tanpa sadar perhatianku jadi berlabuh dari satu wajah ke wajah lain. Kupikir anak-anak mereka sangat beruntung sempat menikmati waktu bersama dengan keluarga utuh sewaktu makan enak. Makan enak, keluarga utuh, dan bahagia … ah, semakin kuulang-ulang ketiga kata tersebut semakin menyakiti ulu hatiku. Bagaimana kira-kira rasanya?
“Kasuari!”
Aku terlonjak dari lompatan pikiranku, dan mencari-cari sumber suara tersebut. Seorang perempuan yang mengenakan topi hitam tampak menjinjitkan alisnya. Tak pelak aku langsung bergegas ke arahnya. Heronine Z sudah menungguku. Tadi sebelum kemari, aku mengikuti keinginan impulsif untuk mengiriminya pesan di Instagram. Aku bahkan sempat menelepon sebelum akhirnya ditolak. Meski begitu, sebuah lokasi kemudian kuterima. Heronine Z masih mau bertemu denganku.
Tiba di hadapannya, aku duduk dengan enggan. Perempuan itu lekas bergerak menyorokkan mangkuk baksonya yang masih tersisa setengah. Tangannya cepat menyambar segelas es jeruk peras dan menenggaknya. “Kamu enggak pesan bakso sekalian?” ujarnya sedikit canggung setelah mendaratkan kembali gelas itu ke meja. Aku masih duduk dengan kaku dan menggeleng pelan. Sementara itu, ingatan setiap perkataan yang meluncur ketika kami bertemu terakhir kian menggelitiki rasa bersalahku.
“Maaf.” Hanya kata itu yang berhasil keluar dari bibirku. Perempuan itu menatapku seperti sedang menatap tikus curut yang tertangkap basah. “Aku sudah memaafkanmu, kok,” responsnya singkat. Tetapi, aku tidak menyangka jika ia melanjutkan, “Aku juga minta maaf, ya. Apalagi soal menyuruhmu berobat.”
Pada akhirnya aku dapat memandangnya dengan rasa percaya diri yang tumbuh. Dari matanya, aku tahu ia berkata tulus. Ia pasti juga merasa bersalah akan setiap ucapannya yang menyerupai pisau belati kala itu. Jadi, tak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk. “Enggak apa-apa. Aku tahu maksudmu berobat itu untuk apa, bukan sesederhana karena aku ingin bunuh bapakku sendiri, kan? Ya, aku sudah tahu dari gejala ini dari lama.”
Heronine Z hanya menatapku nanar. Dari manik matanya yang kelam, aku tahu bahwa ucapanku benar. Aku sebaiknya memang harus berobat, minimal konsultasi. Tetapi aku tidak menginginkannya. Suara-suara itu masih bisa kuatasi.
“Kamu yang menulisnya, kan?”
Perempuan tersebut mengangguk pelan. Jujur, aku tidak suka sorot matanya begitu. Ia seolah-olah mengasihaniku tanpa ada ingatan bahwa dirinyalah yang merancang segalanya. Demi menghibur diri, aku berujar lagi, “Aku memakluminya, kok. Kamu pasti butuh menyiksa tokohmu sendiri untuk ambil empati pembaca. Biar novelmu laku.”
“Terima kasih sudah paham, Ri.”
“Doakan saja aku kuat.” Aku menelan ludah sewaktu mengucapkannya.
“Kamu selalu kuat. Aku juga sudah menuliskannya.”
Mendadak dadaku terasa sesak. Apakah aku memang begitu? Apa aku memang kuat dan tahan banting? Tapi … sampai kapan? Aku bahkan belum tahu jalan hidupku bagaimana ke depannya. Aku tidak tahu pasti apa yang akan Heronine Z tulis untuk mematahkan kekuatanku kelak.
Lalu, teringat oleh rasa penasaranku kapan hari, aku jadi terdorong untuk bertanya, “Tapi, apa kamu ngerasain hal yang sama?”
“Apa?” Heronine Z serta-merta menegakkan punggungnya.
Aku mengamati setiap detail raut wajahnya selagi berkata, “Soal keluargamu. Rumahmu sendiri.”