My Autumn
Menikmati momiji, ketika daun-daun berubah warna dan berguguran. Seberkas hangatnya cahaya mentari masuk melalui celah-celah jendelaku di asrama Hokaido, Jepang.
Saat daun maple berubah warna kemerahan dan berguguran cantik dan romantis sekali. Cuaca saat musim gugur juga sangat nyaman sudah tidak ada hujan dan suhu mulai dingin tapi tidak terlalu dingin.
Tak begitu dengan sakura di musim gugur ia tetap merekah secantik-cantiknya bergelora diantara kehangatan musim gugur. Terdengar suara Ranti yang riang menyadarkanku dari lamunan.
“Arun jangan sampai ketinggalan nih topi felt kamu sama overall jeans kesukaanmu.”
“Arun, kamu tuh jurnalis yang beruntung banget sih, liburan musim gugur dapet undangan berbagi cerita pengalaman menulis aja sampai jauh ke Turki.” ucap Ranti sambil membantu sahabatnya packing barang-barang.
“Alhamdulillah Ran, namanya juga rezeki kalau udah datang baiknya jangan ditolakkan, iya nggak” sambil menyenggol pundak Ranti.
“Semangat ya sahabatku, Arunika gapai cita dan menebarkan banyak cinta di bumi, semoga di Turki kamu ketemu cinta sejati,ee ciee..”
“Ingat lurusin niat, semoga perjalananku kali ini bernilai ibadah untuk Maha Cinta.”
“Ranti dan teman-teman yang lain baik-baik ya di negara matahari terbit ini.”
Ranti sahabatku, pendengar setia yang selalu suka cerita-ceritaku. Kalau aku sedang tidak bercerita, dia menelpon aku, sekedar untuk menerorku agar bercerita tentang hidupku yang katanya seru..
Makanya aku ditakdirkan menjadi story teller kali yaa..
Senang sekali bisa dekat sama Ranti, dia itu periang, rajin sekali untuk belajar alquran. Kami suka berangkat ke seminar bareng, ngaji bareng, kulineran bareng ahh berapa banyak malam yang kuhabiskan bersama Ranti menatap langit dan berbagi cerita, dan melangitkan setiap asa kami kepada Sang Maha Cinta.
Hehe Ranti itu sama randomnya kayak aku untuk urusan merapikan barang-barang. Eh gak deh dia lebih random.
Waktu di Jakarta aku bingung kenapa ketika ia menata dapur di sebelah pintu utama, bagiku tak lazim, aku gadis keturunan Jawa ini yang ku tahu Dapur itu biasanya dibagian dalam sebuah rumah, bahkan dapur yang disebut pawon itu letaknya di belakang.
Tapi Ranti ya dia cuek aja tuh..
Berkat dia memberikan aku tempat untuk menginap jika seharian kami belajar bersama, aku jadi terbiasa untuk belajar hidup serba mandiri.
Sebab aku di rumah selalu saja jadi tuan putri, serba dilayani, ibuku hanya memintaku untuk belajar katanya perempuan itu harus pandai, supaya kelak bisa mengajar anak-anaknya.
Doanya pun terkabul, sejak sekolah menengah atas aku selalu suka dengan aktivitas sosial bersama anak-anak dan suka sekali mengajar mereka, eh ndilalah kok ya jadi guru.
Pastinya aku beruntung punya sahabat seperti Ranti..
Liburanku kali ini sendiri saja, hanya aku yang diundang oleh salah satu universitas di sana.
Mungkin aku akan kangen sekali dengan Ranti, aku pasti takkan menunggu dia meneleponku, mungkin aku yang akan lebih sering meneleponnya, liburan musim gugur cukup panjang kurang lebih tiga bulan, dan aku punya waktu yang cukup untuk berkeliling negeri bersejarah peradaban islam, aku ingin belajar banyak hal di sana.
“Ran kok kamu jadi seperti ibu aku deh, pasti nanti aku kangen.”