Sabiha Gokcen
Pesawatku baru saja mendarat di Bandara Internasional Sabiha Gokcen, Istanbul.
Sabiha Gokcen adalah nama seorang perempuan pilot pertama di Turki.
Kata profesor Miyuki aku akan dijemput oleh mahasiswa Indonesia yang ada di sana.
Kulihat dari jauh 4 orang pemuda pemudi membawa kertas bertuliskan "Welcome Arunika."
Aku pun mendekati mereka.
"Assalamualaikum, apakah kalian dari Universitas Istanbul?"
"Ya betul, kamu Arunika, aku Kiara." jawab seorang perempuan yang terlihat cerdas nan ramah.
"Perkenalkan aku Arunika,"
"Arunika nama yang bagus, dan kenalkan ini temanku, Nabila dan pembimbingku Mas Yusuf."
"Salam."
"Eh ada satu lagi, Senja ada dimana ya Mas Yusuf?" Kiara bertanya pada salah satu orang seniornya, ia mencari temannya yang belum terlihat sejak tadi.
"Oh tadi dia ingin ke toilet."
Senja nama yang unik.
"Nah itu dia." Mas Yusuf menunjuk ke seorang pemuda yang sedang berjalan ke arah kami.
"Hai aku Senja Abdurrahman, panggil saja Senja." ia tiba dihadapanku mengulurkan tangan kehadapanku untuk bersalaman, eh ternyata dia hanya bercanda, kami kan mahasiswa muslim, mana mungkin mengajak bersalaman wanita yang bukan mahram.
Wajah Senja sepertinya tidak asing bagiku, dan ternyata kami pernah bertemu sebelumnya. Raut wajah keturunan timur tengah, kulitnya coklat agak sedikit gelap, berbadan tinggi, dengan setelan flanel motif kotak-kotak berwarna navy perpaduan kaos putih dengan bawahan jeans, sederhana dan terlihat cukup keren, tapi ada yang sedikit berbeda ya badan yang mulai mengembang.
Ya aku merasa mengenalnya, aku kikuk, kenapa jadi sedikit canggung begini .,.
"Kamu Arunika ya? kita sepertinya gak perlu kenalan."
"Teflon." Tiba-tiba aku teringat tentang teflon.
"Iya teflon." Senja mengekeh kecil, mengingat sebuah memori lucu yang terjadi pada kami.
Lalu Mas Yusuf menyenggol bahu Senja karena semua orang di sana tidak tahu tentang Teflon yang kami maksud.
"Eh pada ngomongin apa nih? pernah nelpon maksudnya?" Mas Yusuf dan kawan-kawan mulai roaming melihat kami yang langsung klik.
"Arunika, oh nggak pernah Mas, maksudnya belum pernah nelpon, gak tahu ya nanti." Canda Senja.
"Udah lupain aja, Arun pasti capek, mending kita langsung ke asrama mahasiswi aja, supaya bisa istirahat Arun." Senja mencoba mengalihkan perhatian dari kisah teflon ketika kami menjadi peserta sebuah summer camp.