Pertemuan pertama Kemuning dan Viqar di batas kadipaten. Kehangatan tatapan Viqar meluluhkan kekhawatiran Kemuning, melahirkan harapan yang melampaui megahnya gunung.
POV: Puteri Kemuning | Lokasi: Titian Jembatan Kayu Jati, Celah Jurang Kaki Gunung Lawu |
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Babak I: Titian Kabut & Penantian yang Membeku
Stasis, Kecemasan Eksistensial, & Intuisi yang Menggigil
☼
KABUT pekat masih membebat pundak lereng Gunung Lawu laksana kafan putih yang enggan tanggal. Di atas titian kayu jati yang telah berusia puluhan warsa, Puteri Kemuning berdiri mematung. Setiap embusan angin lembah yang menyusup dari sela-sela jurang cadas tak hanya menerbangkan ujung selendang ungu sutranya, melainkan mengiris tipis relung dadanya yang telah tiga purnama dipagari sunyi. Di bawah telapak kakinya yang bersepatu kain beledu, kayu-kayu jati tua itu berderit lirih—sebuah nyanyian rapuh di bibir ngarai berkedalaman ratusan depa, tempat riam air liar bergemuruh menabrak bebatuan purba.
Ia merapatkan selendangnya ke dada. Udara fajar lereng Lawu selalu menyimpan aroma tanah basah bercampur getah cemara gunung yang getir. Namun pagi ini, ada bau lain yang membuat dadanya sesak secara ganjil: aroma sangit yang samar, laksana abu sisa bakaran yang terbawa arus udara dari arah lembah selatan. Bagi Kemuning, bau itu adalah pintu gaib yang menyeret ingatannya melompati batas waktu. Tiba-tiba saja, pelupuk matanya tidak lagi menatap jurang kabut, melainkan menggapai kembali malam jahanam tujuh warsa silam—ketika pesanggrahan keluarganya di Lembah Sela dijilat api, dan lolongan para abdi bercampur baur dengan ratapan bibinya yang tersungkur di atas anyir lumpur berdarah. Trauma itu tidak pernah benar-benar mati; ia hanya tertidur di balik lipatan ketabahan seorang anak bangsawan.
Kemuning beristighfar dalam desah nafas yang berhamburan menjadi uap putih di udara beku. "Astaghfirullahal 'adzim... La hawla wa la quwwata illa billah..." Jemari lentiknya yang gemetar menyentuh dada kirinya, berusaha menepis debar liar yang kian menggila. Ia tahu, kecemasan adalah racun bagi tawakkal. Bukankah setiap malam di sanggar pamujan, di atas hamparan sajadah usang beraroma kesturi, ia telah melabuhkan nama Viqar Ghazanfar dalam rakaat-rakaat tahajudnya? Jika Sang Khaliq telah menetapkan ajal dan garis rizki seorang hamba, mengapa kerongkongannya tetap tercekat laksana menelan duri sembilu?
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Babak II: Derap Sampar Kuda & Kepulangan Semu
Kemunculan Sosok Panglima & Retaknya Kesunyian Lembah
☼
Keheningan pegunungan itu seketika pecah berkeping-keping. Dari kelokan tebing berbatu cadas di seberang titian, terdengar derap tapak kuda beradu dengan kerikil tajam. Suara itu berdentang tergesa, berkejaran dengan gema tebing yang melolongkan kecemasan. Seekor kuda jantan berbulu hitam legam—kuda Candramawa milik Viqar yang tersohor perkasa—menerobos tabir halimun dengan nafas mendengus-dengus kasar, busa putih berbintik merah menetes dari besi kekangnya.
Di atas pelana tinggi itu, sosok Viqar Ghazanfar tegak membungkuk lelah. Baju zirah beludru ungu gelap bersulam benang tembaga yang menjadi lambang kehormatannya sebagai panglima terdepan kadipaten tampak kusam tertutup debu jelaga. Di beberapa bagian pundak dan lambungnya, lempengan tembaga penahan panah bopeng tergores sayatan pedang yang dalam, dengan noda kehitaman yang mengering keras—bukan semata lumpur perbatasan, melainkan darah yang telah kehilangan wanginya.
Jantung Kemuning seakan berhenti berdenyut barang sekejap. Lelaki yang dipujanya, ksatria yang dahulu meninggalkannya dengan senyuman laksana mentari terbit di puncak Lawu, kini menuruni titian batu dengan langkah gontai. Saat Viqar menarik tali kekang dan melompat turun ke tanah berlumut, lututnya sempat tertekuk sedikit, seolah menopang beban gunung yang tak kasat mata di punggungnya. Namun ketika pasang mata lelaki itu terangkat dan menatap langsung ke arah Kemuning di seberang jembatan, binar di manik matanya menyala seketika—terlalu cepat, terlalu benderang, seolah-olah hendak menyembunyikan jurang kehampaan yang menganga di belakang pupilnya.
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Babak III: Kalam Mahabbah di Bawah Sunyi Lawu
Dialog Bernuansa Sastra Islami & Tegur Sapa yang Sarat Beban