Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Harum Kuncup Melati

Kemuning merawat taman melati sebagai lambang pertautan jiwanya dengan Viqar. Peringatan samar dari orang terdekat diabaikan demi ketulusan cintanya.

POV: Puteri Kemuning. Lokasi : Taman Sari Keputren Kadipaten

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Babak I: Tunas Harapan di Tanah Dingin

Aroma Gerimis Senja & Doa yang Disemai

☼

Aroma tanah basah selepas gerimis senja menguarkan petrikor yang menenangkan sekaligus menusuk sunyi di pelataran Keputren Kadipaten Giri Sasangka. Kemuning berjongkok di sisi petak tanah gembur, membiarkan ujung kain jarik sutra wungu-nya tercelup basah oleh kubangan air hujan. Jemarinya yang ramping mengusap lembut pucuk-pucuk daun melati yang baru bertunas—sebuah bibit hidup yang diantarkan langsung oleh kurir berkuda dari tanah utara tiga pekan silam.

Kuncup itu masih membungkus diri rapat-rapat. Putih kelopaknya tampak begitu mungil, bagai sebutir mutiara yang bersembunyi di balik rengkuhan dedaunan hijau berlumur titik embun. Bagi Kemuning, kuncup itu bukan sekadar tetumbuhan wangi; ia adalah perwujudan nafas janji yang diikat dengan nama Ar-Rahman, seutas benang takdir yang disulam di antara kepedihan politik istana dan kerinduan seorang gadis pingitan.

Namun, tanah di bawah lututnya terasa begitu dingin—dingin yang menjalar dari perut bumi hingga merambati tulang-tulang sumsumnya. Hembusan angin pegunungan di bulan Sura ini membawa derap hawa ganjil yang menggetarkan pucuk cemara di batas keputren. Daun-daun pandan bergoyang tanpa irama, melantunkan bisikan yang seolah memintanya waspada. Mengapa di saat hatinya berusaha memintal rasa syukur, relung jiwanya justru digerogoti oleh rasa asing yang gamang?

"Ya Muqallibal qulub..." bisik Kemuning lirih, bibirnya bergetar mengulang zikir penenang batin yang diajarkan almarhumah ibundanya. Matanya terpejam sesaat, menghirup aroma anyir tanah yang berpadu dengan wangi samar kuncup melati. Ia ingin percaya bahwa penantian ini bukanlah sebuah kesia-siaan belaka.

Kutipan Kunci Mahabbah & Firasat

"Jika kuncup ini disiram dengan ketulusan mahabbah lillahi ta'ala, dinginnya angin Sura sekalipun takkan sanggup mematahkan batangnya."---------------------

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Babak II: Tajamnya Subteks Dayang Ratih

Keraguan yang Dituangkan Bersama Air Mawar

☼

Langkah kaki yang terseret pelan di atas ubin batu bata memecah keheningan. Dayang Ratih melangkah mendekat, meletakkan kendi tembikar berisi air mawar dingin di sisi Kemuning. Kerutan di dahi wanita paruh baya itu tampak lebih dalam dari biasanya, terukir oleh bayang-bayang lentera minyak jarak yang mulai dinyalakan para abdi.

"Kuncup ini baru saja membuka diri, Gusti Putri," tegur Ratih pelan seraya membungkuk hormat, namun nada suaranya sarat akan beban rahasia yang tertahan di kerongkongan. "Tetapi angin pegunungan di bulan Sura ini kerap kali terlalu dingin bagi kelopak yang rapuh. Angin dari utara bertiup membawa debu perang, bukan embun surga."

Kemuning tidak segera mendongak. Jemarinya tetap merapikan butiran tanah di sekitar pangkal batang melati. Senyum simpul ia paksakan mengembang di bibirnya yang pucat. "Jika ia disiram dengan ketulusan hati, Ratih, serta dilindungi dengan tawakal kepada Dzat Yang Maha Menggenggam Takdir, dinginnya angin pegunungan sekalipun takkan sanggup mematahkan batangnya. Bukankah benih yang ditanam dengan niat suci akan berakar hingga ke langit barakah?"

Ratih menghela nafas panjang. Desau nafasnya terdengar seperti ratapan yang ditekan di balik dinding dada. "Hamba hanya mencemaskan kabar dari pesisir utara, Gusti. Raden Viqar adalah putra mahkota kebanggaan Ghazanfar, singa muda yang dipuja para ksatria. Namun para tetua majelis trah di sana memegang teguh 'Sumpah Karang Sinangling'—sebuah wasiat tanah pusaka yang tak pernah mengizinkan darah asing bertahta tanpa tebusan jiwa. Tidakkah Gusti Putri merasa beliau terlalu sering menunda pertemuan keluarga besar? Dua purnama telah berlalu semenjak janji khithbah itu digeser untuk kedua kalinya."

Kata-kata Ratih menghunjam tepat di ulu hati Kemuning bagai belati tumpul. Dadanya berdenyut nyeri. Ia tahu Ratih tidak berbohong; dalih 'urusan perbatasan yang genting' yang dikirimkan kurir Viqar selalu terasa terlalu rapi, terlalu berjarak dari kehangatan surat-surat pribadinya. Namun, mengakui kecurigaan itu di hadapan dayangnya sama saja dengan meruntuhkan benteng pertahanan terakhir yang menjaga akal sehatnya.

"Viqar mengemban amanah rakyat yang berat di pundaknya," jawab Kemuning dengan suara yang ditekan agar tidak bergetar. Sorot matanya menatap tajam ke dalam manik mata Ratih. "Tugas seorang wanita yang mencintai karena Allah bukan mencurigai langkah imamnya di balik punggung, melainkan menjadi pelita penenang saat ia berjalan di lorong-lorong gelap ujian kekuasaan."

"Bahkan jika pelita itu membakar jemari Gusti Putri sendiri?" bisik Ratih dengan subteks yang begitu menekan, sebelum menundukkan pandangan dalam-dalam. Keheningan jatuh kembali, mencekam dan pekat.

Kutipan Kunci Mahabbah & Firasat

"Bukan dinginnya hawa pegunungan yang hamba risaukan bagi kuncup itu, Gusti Putri... melainkan api yang dibungkus rapi dalam beledu kehormatan trah Ghazanfar."

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Babak III: Retrospeksi Titian Kali Progo & Menara Kudus

Alur Memori Non-Linear: Ikrar Mahabbah di Bawah Reruntuhan Gerimis

Lihat selengkapnya