Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Surat di Bawah Terang Rembulan

Surat-surat berbalas di bawah cahaya rembulan menjadi jembatan rasa, kendati ada ketidakterusterangan tersirat dalam aksara yang digoreskan Viqar.

POV: Puteri Kemuning·Balai Peraduan Kemuning, Malam Purnama

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Babak I: Keheningan Bale & Rembulan yang Dingin

Selasar Bale Peraduan Kemuning, Sayap Barat Kraton · Pukul Sepuluh Malam Purnama Sidhi

☼

Malam itu, rembulan perak tidak memancarkan kehangatan sebutir pun. Cahayanya menggantung di atas atap tumpang bale peraduan, tumpah ruah seperti lelehan air raksa yang membekukan ukiran dedaunan jati di kisi-kisi jendela. Dari selasar barat, angin yang berhembus dari arah teluk membawa aroma asin garam yang bertaut ganjil dengan bau melati layu di atas bokor tembaga. Melati itu telah dipetik tiga petang yang lalu, kuncup-kuncupnya kini mengering dan menghitam di tepian kelopak—seperti sebuah doa yang kehabisan nafas sebelum sempat menyentuh langit.

Puteri Kemuning berdiri tanpa alas kaki di atas lantai papan surian yang dingin. Tubuhnya dibalut kemban beledu hijau lumut yang disampirkan selendang tenun songket keemasan, namun ujung jemarinya sedingin es batu di puncak bukit kapur. Bagi seisi kraton, purnama sidhi adalah perayaan berkah dan kelimpahan bulir padi. Namun bagi Kemuning, setiap kali piringan perak itu bundar sempurna di kubah malam, dadanya justru dihimpit rasa sesak yang tak terbahasakan. Seolah-olah langit sedang memasang cermin raksasa tanpa ampun, menelanjangi betapa sunyinya mahligai yang diagung-agungkan orang banyak ini.

Ia menatap ke luar selasar, menembus kabut tipis yang merayap di antara pohon tanjung. Ada getaran ganjil di tengkuknya. Di kota pesisir Kutaraja, ratusan pal di sebelah barat laut, apakah langit memuntahkan dingin yang sama kasarnya? Ataukah gelombang Selat Melaka di sana sedang menelan sebuah kapal yang membawa janji yang tak pernah berniat ditepati?

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Babak II: Bayang-Bayang Selasar & Utusan Malam

Sudut Gelap Kisi-Kisi Jendela Bale Peraduan · Menjelang Tengah Malam

☼

Tiga ketukan halus mendarat di tiang soko guru sebelah terluar—bukan suara dahan patah atau kepakan sayap burung celepuk malam. Itu adalah ritme yang telah dipelajarinya: satu ketukan berat, disusul dua ketukan yang hampir terserap kelembutan angin malam. Jantung Kemuning berdentang keras, mendesak rusuknya.

Dari balik tirai kasa yang berkibar lambat, sebentuk bayangan jangkung merunduk rapat ke lantai selasar. Sosok berkerudung kain belacu kelabu itu melangkah seringan hembusan kabut. Soma Sandyakala, penunggang kuda malam utusan Kutaraja, telah menembus barisan penjaga tombak lingkar luar tanpa menimbulkan desau seekor jangkrik pun.

"Ampun beribu ampun, Gusti Ayu," bisik Soma, suaranya serak tertelan debu perjalanan panjang berhari-hari melintasi bukit barisan. Matanya yang merah menyala oleh kelelahan tertunduk khidmat, namun urat-urat di pelipisnya menegang waspada. Dari balik jubahnya yang berbau asam keringat kuda dan lumpur rawa, ia mengeluarkan sebuah tabung bambu gading berselubung kain sutra ungu kusam.

"Angin dari bandar barat mengantarkan amanah ini sebelum fajar merekah, Tuan Puteri. Tuan Viqar berpesan dengan sumpah nafasnya... jangan sampai warkah ini tersentuh sinar lentera penjaga baluarti." Soma menyodorkan tabung itu dengan kedua belah telapak tangan terangkat sejajar dahi. "Namun hamba wajib menyembahkan satu warta, Gusti: di dermaga muara Kutaraja kelmarin petang, panji-panji kapal perang Mangkubumi Selatan telah bersauh. Hamba mencium bau dupa yang bukan untuk meminang kembang melati." Kata-kata itu dilepaskan seperti anak panah beracun yang dilepaskan dalam kegelapan, sebelum tubuh Soma kembali melesap ditelan pekatnya kebun kepel kraton.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Babak III: Tilawah Rindu di Bawah Lidah Pelita

Meja Rendah Kayu Cendana, Kamar Dalam Bale · Pukul Satu Dini Hari

Lihat selengkapnya