Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Jamuan Paviliun Kencana

Sudut pandang Viqar mengungkap pergulatan batinnya. Di hadapan pesona Kemuning ia takluk, namun di hadapan pandangan tajam Mahadewi Ratnasari, ia tercekik rasa bersalah.

POV: Viqar Ghazanfar·Paviliun Kencana Kadipaten, Pertemuan Antar-Bangsawan.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Bagian 01. Lentera Emas & Asap Kayu Cendana

Kemegahan Paviliun Kencana yang berkilau emas menyembunyikan kecemasan Viqar di antara aroma dupa dan gemerincing cawan anggur.

☼

Paviliun Kencana malam itu laksana sangkar burung merak berlapis prada emas—berkilauan memabukkan dari kejauhan, namun jika kau melangkah mendekat, kau akan menyadari tiap jerujinya terbuat dari duri besi yang dianyam halus dengan tata krama istana. 

Ratusan lentera kuningan tergantung anggun pada tiang-tiang kayu jati berukir sulur nagawari, menumpahkan cahaya tembaga hangat ke atas lantai marmer maroko yang licin mengilap. Asap dupa cendana dan gaharu merayap malas di antara pilar-pilar agung, berpadu dengan aroma minyak kesturi para bangsawan, manisnya tuak kelapa fermentasi, dan sengatan rempah wedang secang yang disajikan dalam cawan tembaga berkaki. Gerimis tipis yang membasahi pelataran luar kadipaten sejak senja seakan terhalang oleh selubung keangkuhan perayaan ini; tidak ada ruang bagi hawa dingin jalanan di dalam ruangan yang dihangatkan oleh tawa diplomatis kaum ningrat.

Aku meraba gagang kerisku yang terselip rapi di balik lipatan stagen sutra ungu tua, memastikan bahwa hulu kayu jati bergambar gajah itu tidak bergeser barang satu jari pun. Sebuah kebiasaan buruk yang selalu kupelihara saat berada di sarang musuh: memastikan bahwa senjataku masih ada di tempatnya, kendati di hadapan perjamuan resmi seperti ini, senjata yang paling mematikan bukanlah baja berpamor, melainkan senyuman manis beracun yang meluncur dari bibir para tetua.

Tenggorokanku terasa kering bagai tanah tegalan di puncak kemarau, meski para pelayan perempuan berkain jarik parang telah tiga kali mengisikan air jahe beraroma cengkih ke dalam cawanku. 

"Kau tampak seperti patung dwarapala yang kelupaan membawa gada, Raden Viqar. Berdiri begitu kaku di samping nampan kue apem panggang, seolah-olah kue ketan itu berniat memberontak dan menggulingkan takhta ayahandamu."

Suara itu. 

Jantungku berdegup serong satu ketukan sebelum kepalaku sempat menoleh. Dan ketika pandanganku akhirnya menumbuk sosok yang melangkah pelan di antara kerumunan para selir dan adipati sepuh, seluruh udara di paru-paruku serasa disedot habis.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


02. Beludru Hitam & Seroja Menari

Viqar tertegun melihat Kemuning; percikan dialog jenaka dan olokan manis yang menjadi perisai dari kepedihan rahasia.

Kemuning.

☼

Malam ini ia menolak tunduk pada tradisi warna-warni pastel yang biasa dikenakan gadis-gadis pingitan keraton. Ia mengenakan kebaya panjang dari beludru hitam pekat, warna malam gulita yang menyerap seluruh keangkuhan lentera paviliun. Di sepanjang tepian kerah kutubaru hingga ujung lengannya, sulaman benang emas murni meliuk membentuk motif semen rante—simbol keterikatan jiwa yang abadi, atau barangkali, sebuah lelucon gelap yang sengaja ia lemparkan kepada para ningrat kolot yang kini menatapnya dengan napas tertahan. Rambutnya disanggul Jawa klasik tanpa cela, dipercantik oleh untaian melati basah yang menebarkan wangi dingin merasuk sukma, serta tusuk konde perak bertahtakan batu mirah delima.

Namun yang paling berbahaya dari Kemuning bukanlah kemilau perhiasannya. Yang paling sanggup melumpuhkan seorang prajurit berkuda berpengalaman sepertiku adalah binar di sepasang matanya: tajam, jenaka, dan menyimpan kelicikan cerdas yang siap menertawakan kemunafikan seluruh isi ruangan.

"Kue apem panggang ini tidak berbahaya, Diajeng Kemuning," sahutku pelan, memaksakan senyum miring yang biasa kugunakan untuk menutupi getar di jemariku. Aku membungkuk secuil, memenuhi etika formal yang diawasi oleh setidaknya dua puluh pasang mata di sekitar kami. "Yang berbahaya adalah aroma vanila dan pandan yang menguar darinya. Ia membuat para ksatria melupakan tugas patroli malam."

Kemuning mendengus halus, sebuah tawa tertahan yang begitu merdu hingga membuat denting mangkuk perak di kejauhan terdengar sumbang. Ia mengambil satu kue putu ayu berwarna hijau pandan dari nampan perak di dekat kami, lalu memainkannya di ujung jemarinya yang lentik.

"Para ksatria Ghazanfar terkenal perkasa menaklukkan kawanan perompak di muara sungai," sindir Kemuning dengan nada berbisik yang hanya bisa kudengar, matanya mengerling menggoda ke arah selempang dadaku. "Namun menghadapi sepiring kudapan ketan di Paviliun Kencana saja kau sudah pucat pasi bagai baru melihat hantu penunggu lumbung padi. Katakan sejujurnya, Viqar... apakah stagenmu diikat terlalu kencang oleh abdimu tadi sore, ataukah kau cemas melihat Adipati Wiranata menatapmu seolah kau telah mencuri kuda kesayangannya?"

"Kuda Adipati Wiranata pincang kaki kirinya, Diajeng. Aku punya selera yang jauh lebih tinggi jika hendak mencuri sesuatu malam ini," balasku spontan, mencondongkan tubuh setengah jengkal ke arahnya.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


03. Serbuan Halus Mahadewi Ratnasari

Konfrontasi penuh tata krama ningrat dari Mahadewi Ratnasari yang menanyakan arah hubungan dan motif Ghazanfar.

☼

Bibirnya yang berlumur pemerah sirih merekah membentuk kurva yang meremukkan ketenanganku. "Oh ya? Dan apakah barang jarahan yang kau incar itu memiliki sayap, atau ia sekadar mengenakan kebaya beludru hitam?"

Lihat selengkapnya