Momen romantis paling intim namun menyimpan kegelisahan. Viqar memberikan batas waktu musim panen sebagai tonggak janjinya. Tujuan: Mendapatkan penegasan pribadi dari Viqar setelah jamuan selesai. POV: Puteri Kemuning·Taman Belakang Paviliun Jamuan
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Suara denting piala perak dan tawa pongah para bangsawan di balairung utama lambat laun mereda, terserap oleh dinginnya batu pualam yang basah oleh kelembapan udara malam. Paviliun Jamuan kini serupa raksasa yang kelelahan; aroma dupa cendana yang dibakar berlebihan bergulat hebat dengan anyir sisa daging panggang serta arak fermentasi ketan hitam yang tumpah di undakan marmer. Malam telah beringsut melampaui jam ketiga, menyisakan keheningan mencekam yang hanya berani diganggu oleh gemerisik daun palem kipas dan derit pelan engsel jendela kuno yang diterpa angin lembap dari arah lembah. Di sudut-sudut balairung, para pelayan berwajah pucat menyapu pecahan kaca dan sisa lilin yang meleleh, bergerak siluet seperti bayangan-bayangan mati yang enggan bersuara.
Dari celah gerbang belakang yang setengah terbuka, kabut putih merayap lambat laksana kain kafan sutra yang dihela tanpa suara. Ia menelan batas-batas taman, menyembunyikan semak mawar berduri dan mengaburkan jalan setapak berbatu kali, seolah hendak memisahkan duniaku dari kenyataan istana yang beracun dan dipenuhi murka terselubung. Di tengah kepungan kabut yang kian rapat itu, gazebo kayu jati tua berdiri murung. Rimbunan melati malam merambat liar di tiang-tiang berukirnya, memuntahkan keharuman manis yang menusuk hidung—aroma yang selalu kurindukan sekaligus kutakuti, sebab setiap kali melati itu merekah sempurna di bawah naungan rembulan, sebuah rahasia selalu dituntut untuk luruh ke bumi.
Aku merapatkan mantel beledu hijau zamrudku, merasakan hawa dingin yang tak kunjung berhasil dihalau oleh kain setebal apa pun. Di dalam dadaku, detak jantung bertalu tak seirama, bagaikan drum perang yang ditabuh asal-asalan. Pertemuan ini adalah kegilaan yang mempertaruhkan leher. Bila mata-mata Penasihat Rangga yang bertebaran di balik tembok batu memergoki anak perempuan termuda dinasti ini menyelinap ke taman belakang hanya demi menemui seorang perwira perbatasan tanpa lencana resmi, fajar besok tidak akan lagi menyajikan cangkir teh hangat, melainkan sidang dewan kehormatan dan vonis pengasingan. Namun, rasa cemas itu kalah buas oleh rasa lapar akan kepastian yang menggerogoti ulu hatiku semenjak Viqar melangkah masuk ke aula jamuan tadi sore dengan mata yang enggan menatapku barang sedetik pun.
"Jika berniat membunuh orang dengan desah nafasmu yang seberat gerobak pengangkut gabah itu, Yang Mulia Puteri, kurasa kau sudah berhasil membunuh dua ekor burung pipit yang sedang bertengger di atas atap."
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Suara serak itu muncul dari sudut tergelap gazebo, memecah kesunyian dengan nada acuh tak acuh yang kelewat dihafal. Sesosok tubuh jangkung bergeser dari balik tiang utama. Viqar sedang duduk bersandar santai pada susuran kayu, kakinya yang berbalut sepatu laras kulit berlumpur bertengger congkak di atas bangku ukir. Di tangan kirinya bergoyang sebuah lentera tembaga kecil dengan sumbu minyak jarak yang berderak malas, menebarkan cahaya keemasan pucat yang menari-nari di rahang tegasnya dan menyinari parut luka tipis di sepanjang pelipis kirinya.
"Dan jika berniat mati konyol digantung di tiang bendera alun-alun, Tuan Perwira," balasku seraya melangkah masuk ke bawah naungan atap melati, melipat tangan di dada dengan dagu terangkat pongah, "teruslah menaruh sepatu kotormu di atas bangku cendana kesayangan Ibunda Ratu. Aku bersumpah akan menyumbangkan seikat tali rami terbaik untuk lehermu."
"Ah, betapa murah hatinya calon penguasa masa depan kita," seringai Viqar terkembang tipis di sudut bibirnya, menampilkan lesung pipi samar yang bertahun-tahun selalu menjadi titik kelemahanku. Ia menurunkan kakinya perlahan, menepuk ruang kosong di sampingnya. "Kemarilah, Kemuning. Jangan berdiri di sana seperti patung penjaga gerbang yang lupa dimandikan air kembang. Kau membuat kabut ini tampak hangat jika dibandingkan dengan wajah ketusmu."
Aku mencibir, sengaja menghentakkan langkah agar terdengar angkuh, namun kakiku patuh bergerak mendekatinya. Kendati bibirnya melepaskan kelakar yang terdengar ringan tanpa beban, mataku menangkap kejanggalan yang luput dari pandangan orang awam. Bahunya kaku, otot lehernya tegang bagai busur panah yang ditarik maksimal. Di ujung jemarinya yang memegang rantai lentera, ada getaran halus yang ia coba sembunyikan dengan meremas pegangan kuningan itu terlalu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sikap jenaka ini selalu menjadi topeng andalannya ketika mara bahaya mengintai. Pikiranku terlempar pada lima musim kemarau silam, di kebun delima perbatasan selatan saat kami baru berumur enam belas tahun. Kala itu, seekor ular beludak meluncur cepat mendekati pergelangan kakiku yang telanjang di parit air. Tanpa pikir panjang, Viqar menerjang dan mencekik reptil berbisa itu dengan tangan kosongnya—terkena patukan di telapak tangan hingga kulitnya membiru lebam. Saat aku menangis panik merobek ujung selendang sutraku untuk membebat lukanya, lelaki sialan ini malah terbahak sambil berkata: 'Tenanglah, Kemuning, racun ular ini bahkan tidak lebih mematikan daripada masakan bubur sagumu tempo hari.' Selalu seperti itu. Semakin genting bahaya yang mengintai nyawanya, semakin keras ia tertawa dan bersandiwara.
"Kau tidak menyentuh anggur ara dalam jamuan tadi sore," kataku pelan begitu duduk di sebelahnya. Jarak kami hanya sehelai nafas, hingga aroma tembakau cengkih, logam zirah yang dingin, dan minyak kemiri dari rambutnya merayapi inderaku. "Padahal biasanya kau sanggup menenggak tiga kendi penuh lalu bertaruh gulat dengan para kusir kereta istana."
"Para kusir sedang mogok bertaruh karena kasihan padaku," kelitnya seraya terkekeh pelan, meniup secuil abu yang menempel di ujung jubahnya. "Lagi pula, anggur istana terlalu manis dan banyak intrik. Setiap tetesnya terasa seperti racun penenang bagi orang-orang yang hendak dikirim ke mulut singa."
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Jantungku mencelos. Kata-katanya menyentuh tepat pada bisul ketakutan yang kupendam sejak petang. Rumor tentang pergerakan balatentara di celah utara bukan sekadar bualan penjual rempah di pasar bawah tanah. Dewan Tertinggi telah menyetujui ekspedisi pembersihan garis depan, dan siapa lagi ksatria tanpa pelindung keluarga bangsawan yang akan dijadikan martir pertama jika bukan komandan garda perintis seperti dirinya? Aku menoleh menatap parasnya yang separuh tertutup bayangan kelopak lentera.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya mereka putuskan di ruang tertutup itu, Viqar. Jangan memperlakukanku seperti bocah manja yang harus disuapi dongeng sebelum tidur."
Viqar tidak langsung menjawab. Kabut di sekeliling gazebo kian pekat, merayap masuk menjilati anak tangga kayu jati dan membasahi ujung gaunku. Tetesan embun dari dedaunan melati berjatuhan ke lantai pualam dengan irama monoton: tik... tik... tik... serupa hitungan mundur waktu yang tak bisa ditarik kembali. Lentera minyak jarak berderisik saat ditiup angin kencang yang lewat sekilas, apinya meliuk redup hampir mati sebelum kembali menegakkan nyala merahnya dengan kepayahan.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba dan tanpa sarkasme yang biasa ia pamerkan, kedua lengannya melingkar kuat di pinggangku. Viqar menarik tubuhku ke dalam rengkuhannya dengan satu gerakan tersentak yang begitu tergesa—hampir kasar, namun sarat akan kehancuran yang begitu nyata hingga nafasku tercekat di tenggorokan. Kepalanya dibenamkan dalam-dalam pada ceruk leherku. Dekapan itu begitu erat, seolah-olah bila ia melonggarkannya sedikit saja, lantai gazebo ini akan runtuh dan menelan kami ke dalam jurang ketiadaan.
Ini bukan pelukan seorang ksatria yang sombong setelah memenangkan turnamen busur. Ini adalah pelukan orang yang hendak dihukum gantung pada waktu subuh dan sedang menghirup udara terakhirnya. Aku bisa merasakan kerasnya lempeng baja penahan dada di balik tuniknya menekan rusukku, dingin dan tak kenal ampun. Namun yang paling membakar dadaku bukanlah dinginnya baja itu, melainkan getaran hebat yang merambat dari dadanya menuju dadaku. Tubuh liat yang terbiasa menahan hantaman tombak berkuda itu kini gemetar di pelukanku.
"Viqar..." bisikku gentar, jemariku yang kaku terangkat ragu sebelum akhirnya membenam ke punggungnya, mencengkeram kain mantel kasarnya sekuat tenaga. "Kau menyakitiku. Lepaskan... bicara padaku."