Ziarah suci yang justru membangkitkan bayang-bayang kegelisahan mistis tentang arah masa depannya.
POV: Puteri Kemuning - Lokasi: Pelataran Candi Sukuh, Lereng Barat Gunung Lawu
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Bagian I: Kabut Lereng Lawu dan Celoteh Basah Emban Gendhis
☼
Gerimis yang tumpah di lereng barat Gunung Lawu bukanlah jenis hujan yang ramah; ia merayap bagai jarum-jarum es yang ditusukkan perlahan ke balik lipatan kain kemben beludru hijau lumut milik Puteri Kemuning. Kabut senja menggantung teramat tebal, putih dan berat laksana kapas randu yang dibasahi air telaga mati, menelan pucuk-pucuk cemara gunung hingga hanya menyisakan siluet hitam yang gemetar ditiup angin lembah. Di jalan setapak terjal yang dipagari bebatuan andesit berlumut licin, tiap langkah adalah pertaruhan antara keteguhan niat dan licinnya lumpur merah yang siap mempermalukan martabat seorang putri keraton.
"Aduh, Gusti Ayu! Demi Bathara Brahma yang gemar memanggang jagung, kalau tahu lereng Sukuh ini lebih licin daripada belut sawah habis kena minyak kelapa, hamba rela pura-pura sakit gigi di kaputren daripada mengawal ziarah ini!" suara cempreng bernada sengau itu memecah kesunyian hutan yang temaram. Emban Gendhis, dengan tubuhnya yang bundar menyerupai tempayan tanah liat, tersaruk-saruk di belakang Kemuning sambil mencengkeram erat ujung kain jarik parang rusaknya yang sudah setengah kuyup bercampur lumpur cokelat.
Kemuning menghentikan langkahnya di undakan batu cadas, menoleh ke belakang dengan seulas senyum tipis yang tak mampu menyembunyikan keletihan di kelopak matanya yang sayu. "Diamlah sedikit, Gendhis. Hutan cemara ini punya telinga yang lebih peka daripada para penasihat ayahanda di balairung. Kalau kau terus mengutuki tanah leluhur dengan nama jagung bakar, penunggu jurang bisa-bisa mengira rombongan kita adalah arak-arakan pedagang pasar malam yang tersesat."
"Biar saja mereka kira begitu, Gusti Ayu! Siapa tahu dedemit di sini lebih suka makan ketan bubuk daripada memelototi manusia dengan mata merah membara!" sungut Gendhis seraya menepuk betisnya yang montok dengan daun pakis hutan. "Aduh! Lihat ini, Gusti! Seekor pacet gendut sebesar kelingking baru saja berpesta pora di urat betis hamba! Pacet kurang ajar, sama sekali tidak tahu sopan santun! Dia pikir darah dayang kaputren semurah tuak badeg di warung pinggir dermaga? Hus, pergi kau ulat neraka!"
Kemuning menahan tawa kecil di balik saputangan sutranya yang wangi cempaka layu. Di tengah dingin yang mulai membekukan jemari kakinya yang beralas terompah kayu berukir, ocehan Emban Gendhis adalah satu-satunya penawar rasa gigil yang menyusup ke tulang sumsumnya. Gendhis telah mengasuhnya sejak Kemuning masih gemar menangis karena rambutnya dikepang terlalu kencang. Perempuan paruh baya itu tak pernah mengerti kerumitan tata gelar keningratan, baginya dunia ini hanya terbagi menjadi dua: perut kenyang dan perut lapar, serta lelaki yang bisa dipercaya dan lelaki yang mulutnya berbisa.
"Pacet itu hanya tahu kau manis, Gendhis. Namamu saja Gendhis, artinya gula. Mana ada pemangsa yang menolak mencicipi gula Jawa sebesar tempayan?" goda Kemuning, sengaja mengalihkan pandangannya dari celah jurang di sebelah barat yang mulai ditelan bayang-bayang kelam.
"Manis kepalamu berputar, Gusti Ayu!" sahut Gendhis tanpa tedeng aling-aling, lalu cepat-cepat menangkupkan kedua tangan di dada menyadari kelancangannya. "Nyuwun pangapunten, Gusti... lidah hamba terpeleset sama seperti sandal jepit hamba. Tapi sungguh, untuk apa ziarah memohon restu pernikahan dilakukan di sarang kabut yang menyeramkan begini? Bukankah Candi Cetho di sebelah utara pemandangannya lebih molek dan tidak banyak pacet nakal? Atau sekalian saja menggelar doa selamatan di Masjid Demak bersama para wali, lebih terang benderang dan pulangnya pasti disuguhi tumpeng nasi kuning dan empal daging gurih! Mengapa harus ke candi pemujaan kuno yang bentuknya mirip tumpukan bata dapur terbakar ini?"
Pertanyaan lugu itu seketika meredupkan binar geli di mata Kemuning. Senyumnya luruh perlahan, tertelan oleh desau angin yang tiba-tiba berhembus kencang dari arah lembah barat daya, membawa aroma tanah basah, lumut membusuk, dan wangi dupa purba yang entah dibakar oleh siapa di ketinggian sana. Kemuning menatap ke atas, menembus tirai kabut yang beriak-riak. Di sana, di teras tertinggi lereng barat Lawu, berdirilah Candi Sukuh—sebuah monumen batu yang ganjil, sunyi, dan dipenuhi aura magis yang tak terjamah oleh kemegahan candi-candi istana lembah Prambanan.
"Karena pernikahan ini bukan perayaan tumpeng nasi kuning, Gendhis," bisik Kemuning pelan, nyaris hanya untuk dirinya sendiri, seraya meraba liontin giok hijau di dadanya yang dingin sedingin es. "Pernikahan ini adalah sumpah yang diikat oleh dua wangsa besar yang saling mengintai pedang di balik punggung masing-masing. Di istana, doa pernikahan penuh dengan bisik-bisik intrik para patih. Aku butuh leluhur Lawu yang jujur, yang tak bisa disuap oleh emas persembahan atau janji manis ksatria."
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Bagian II: Pelataran Piramida Terpancung & Kelakar Ki Buyut Sudiro
☼
Langkah mereka akhirnya menjejak pelataran teras pertama Candi Sukuh tepat saat matahari sepenuhnya tergelincir di balik horizon barat Pulau Jawa, menyisakan sapuan warna ungu pekat dan merah darah di batas cakrawala yang disebut orang tua-tua sebagai sandhyakala—saat tirai pembatas antara yang kasat mata dan yang gaib menjadi setipis sayap capung. Candi itu berdiri congkak di hadapan mereka: bukan stupa runcing yang menjulang menggapai kahyangan laksana Candi Sewu, melainkan piramida terpancung berbatu andesit kasar yang murung, menyerupai kuil-kuil pemujaan matahari di negeri seberang lautan yang tak terjamah akal.
Di depan gapura batu yang diapit arca kura-kura raksasa berleher panjang, sesosok tubuh renta berbalut sarung lurik lusuh tampak sedang jongkok sambil meniup sebilah kayu api unggun kecil. Asap kelabu mengepul pekat dari pembakarannya, berbaur dengan kemenyan Jawa murahan yang baunya menyengat hidung bagai daun sirih tua yang diperam.
"Hehehe... bocah kaputren berbau bedak cempaka akhirnya sampai juga di sarang burung gagak," kekeh orang tua itu tanpa mengangkat kepalanya. Suaranya serak berat, seperti dua bilah batu kali yang digosokkan satu sama lain. Ketika ia mendongak, tampaklah wajahnya yang keriput laksana kulit kayu jati dengan gigi-gigi yang merah menyala akibat bertahun-tahun mengunyah sirih lempuyang. Dialah Ki Buyut Sudiro, juru kunci tua yang konon sudah menjaga pelataran Sukuh sejak kakek buyut sang Prabu masih mengenakan kain popok.
"Kulonuwun, Ki Buyut. Hamba, Kemuning, menghaturkan sembah bekti kehadapan penunggu suci lereng barat," Kemuning merapatkan kedua telapak tangannya di depan hidung dengan takzim yang sempurna.
Ki Buyut Sudiro mengunyah sirihnya dengan santai, lalu meludah ke samping—crooot—cairan merah kecokelatan melesat tepat ke sela batu andesit, nyaris saja mengenai ujung selop sutra milik Emban Gendhis yang langsung melompat ke belakang sambil beristighfar setengah memekik.
"Astagfirullahal'adzim! Ki Buyut! Itu ludah sirih atau semburan bisa ular kobra lereng Merapi?! Sedikit lagi kena selop hamba yang disulam tiga pekan di kaputren!" seru Gendhis seraya mengelus dadanya yang berdegup kencang.
Orang tua itu mengerling jenaka dengan mata kirinya yang agak kabur terkena katarak. "Oalah, Ndoro Emban... selop sutra disayang-sayang, tapi hati yang compang-camping dibiarkan telanjang kedinginan. Lagipula, tanah Sukuh ini sudah biasa disiram darah kerbau dan air kembang setaman selama lima ratus tahun, selopmu yang kemayu itu justru berkah kalau terkena berkah sirih penolak bala Ki Buyut! Hahaha! Kemarin lusa, wedhus kendhit punya juragan tembakau dari Ngargoyoso kabur ke pelataran lingga-yoni sana. Bukannya tobat, si kambing malah asyik mengunyah bunga melati sesaji ksatria Majapahit yang datang bersemedi. Hasilnya apa? Besok paginya si kambing melahirkan anak berkepala dua! Untung ksatria yang bersemedi itu tidak ikut melahirkan anak kembar, hahahaha!"
Gendhis bergidik ngeri, mendekat ke balik punggung Kemuning. "Hiiiy... Gusti Ayu, juru kunci ini bicaranya ngelantur dan setengah miring. Jangan-jangan dia bukan manusia, tapi jin penjaga candi yang menyamar jadi pengunyah sirih."
"Hush! Ki Buyut adalah sesepuh yang dihormati eyang buyutku," tegur Kemuning lembut, kendati sudut bibirnya berkedut menahan senyum mendengar anekdot kambing wedhus kendhit yang sembrono itu. Kemuning lalu melangkah setindak ke depan. "Ki Buyut, hamba datang memenuhi nazar. Tujuh purnama telah genap sejak janji pertunangan diikat di paseban agung. Hamba membawa dupa cendana terbaik dan minyak melati wilis untuk memohon kelancaran hajat pernikahan hamba dengan Raden Arya Jayengrana."
Mendengar nama 'Arya Jayengrana', gerak kunyah sirih di mulut Ki Buyut seketika melambat. Mata tuanya yang semula berbinar jenaka tiba-tiba menyipit tajam, menatap lurus ke dalam pupil mata Kemuning dengan ketajaman yang membuat bulu kuduk sang puteri meremang. Kerutan di dahi sang juru kunci semakin dalam, seolah membaca guratan takdir yang terukir tak kasat mata di kening gadis itu.
"Arya Jayengrana..." gumam Ki Buyut pelan, lidahnya menyapu sisa sirih di bibir keringnya. Nada bicaranya berubah, kelakar jenakanya menyusut digantikan desah satir yang pahit. "Ksatria berselempang sutra ungu dengan keris pusaka Kyai Condong Campur itu, to? Yang jidatnya kinclong seperti pantat kenceng tembaga dan bicaranya semanis madu lebah hutan gombong?"
"Ki Buyut... beliau adalah perwira tangguh panji-panji kadipaten barat," bela Kemuning, meski ada nada ragu yang bergetar di ujung suaranya sendiri.
"Hehehe... ksatria tangguh, ksatria gagah," Ki Buyut terkekeh hambar, mengibaskan abu kemenyan dari ujung jemarinya yang legam. "Wong wedok kuwi, Nduk... wanita itu kalau dijanjikan surga oleh ksatria yang matanya menatap takhta, sering kali tidak sadar kalau di balik pintu surga itu dia cuma disuruh menyiapkan sapu untuk membersihkan neraka ambisi sang lelaki. Laki-laki berkeris emas kalau berjanji itu seperti angin barat di puncak Lawu: mula-mula meniup selendangmu dengan manja, membelai pipimu dengan sejuk, tapi begitu badai datang, selendangmu disambar dan tubuhmu dilemparkan ke dasar jurang batu cadas. Tapi ya sudahlah... anak muda mana yang mau mendengar ocehan orang tua bau kubur seperti aku? Naiklah ke teras kedua. Nyalakan dupa cendanamu. Kita lihat apakah leluhur mau mencium baunya, atau malah muntah karena kebohongan yang kau bawa di dalam dada!"
───⋅☾ ☼ ☽⋅───